Wow! Surabaya Tertinggi Kasus Baru Penderita HIV/AIDS se-Jawa Timur
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 18 Jan 2022 17:10 WIB
selalu.id - Surabaya menjadi kota dengan kasus baru HIV/AIDS tertinggi se-Jawa Timur 2021. Hal ini berdasar data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur.
Dinkes Jatim mencatat sebanyak 323 pasien AIDS baru di Kota Surabaya, disusul Kabupaten Banyuwangi 186, dan Jember sebanyak 174.
Baca Juga: Reklame Patah di Surabaya Itu Milik Anda Advertising, Jubir: Insya Allah Sesuai Konstruksi!
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Tjutjuk Supariono, mengingatkan Dinkes Kota Surabaya untuk segera melakukan penanganan, agar kasus HIV/AIDS tidak kembali merebak.
Apalagi di tahun 2030 mempunyai target three zero Artinya tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian karena AIDS, dan tidak ada diskriminasi di tahun 2030.
"Saya menilai bahwa Informasi dan sosialisasi terkait HIV/AIDS pada masa pandemi ini tidak berjalan dengan baik, terutama pendidikan seksual untuk anak-anak sekolah,"ujar Tjutjuk, Selasa (18/1/2022).
Tjutjuk mengaku, dirinya memahami fokus utama Dinkes Kota Surabaya yakni penanganan Covid-19. Namun menurutnya bukan berarti Pemerintah lalai atau mengesampingkan permasalah lainnya. Apalagi kasus HIV/AIDS di Kota Surabaya ini tertinggi di Jawa Timur.
"Ya memahami sekarang fokus utama penanganan Covid-19. Tapi ini kasus HIV/AIDS di Surabaya naik. Jadi jangan sampai kesampingkan yang juga menjadi hal utama. Harus balance (seimbang)," tegasnya.
Baca Juga: Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin
Bahkan, dari laporan Ditjen P2P, Kementerian Kesehatan RI, selama pandemi Covid-19 tahun 2020, telah terdeteksi 50.626 kasus HIV/AIDS. Angka ini berpotensi lebih tinggi.
Pasalnya estimasi kasusnya adalah sebanyak 640.000. Kasus yang tidak terdeteksi ini dapat menjadi rantai penyebaran HIV/AIDS di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual yang berisiko.
Tercatat kasus HIV tertinggi adalah umur 20-29 tahun. Maka, dari sini bisa dilihat bahwa penularan HIV sudah terjadi pada masa remaja atau anak yang umurnya kurang dari 20 tahun.
"Jadi bisa dikatakan bahwa pendidikan seksual sejak dini yang kurang efektif dan juga kurang didukung oleh media massa. Terutama terkait penggunaan kontrasepsi yang menyebabkan kebijakan kita menjadi tidak tegas dan terkesan abu-abu," paparnya.
Baca Juga: Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya
Oleh karena itu Tjutjuk meminta Dinkes dan Dispendik Kota Surabaya untuk melakukan sosialisasi kepada sekolah sebagai cara pencegahan kasus.
Karena usia remaja terutama anak-anak sangat rentan untuk berhubungan diluar nikah atau mendapatkan tindakan diskriminasi, pelecehan atau kekerasan seksual.
"Perlu digencarkan sosialisasi ini. Tidak hanya untuk mengurangi angka HIV, namun juga untuk mematahkan stigma dan diskriminasi pada ODHA”pungkasnya. (Ade/SL1)
Editor : RedaksiURL : https://selalu.id/news-942-wow-surabaya-tertinggi-kasus-baru-penderita-hivaids-sejawa-timur
