Sabtu, 05 Sep 2026 21:59 WIB

Penipuan Berkedok UMKM di Surabaya: 14 Pedagang Rugi Rp210 Juta

Beberapa korban UMKM yang melapor ke Polres Surabaya
Beberapa korban UMKM yang melapor ke Polres Surabaya

selalu.id – Kota Surabaya kembali digegerkan oleh kasus penipuan yang melibatkan oknum pegawai negeri sipil (PNS).  Kali ini, 14 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kelurahan Sememi, Kecamatan Benowo, menjadi korban penipuan dengan kerugian mencapai Rp 210 juta.  Modus yang digunakan pelaku adalah memanfaatkan program pinjaman dana UMKM untuk menjebak para korban.

Pelaku utama, Bramasta Ariza Riyaldi, yang mengaku sebagai tangan kanan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, menjalankan aksinya bersama dua kaki tangannya, Joko, seorang pengusaha, dan Rengga Pramadika Akbar, petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya sekaligus putra Kepala Kelurahan Sememi.  Ketiga pelaku telah dilaporkan ke Polrestabes Surabaya dengan nomor laporan STTLPM/22/I/2025/SPKKT/POLRESTABES SURABAYA atas tuduhan penipuan dan penggelapan.

Kasus ini bermula dari sosialisasi program pinjaman dana UMKM yang digelar pada 31 Oktober 2024 di kantor Kelurahan Sememi.  Bramasta, yang bertindak sebagai moderator, meyakinkan para peserta bahwa program tersebut merupakan inisiatif Wali Kota dan menawarkan bantuan pendanaan bagi UMKM setempat.  Ia dibantu oleh Joko dan Rengga yang berperan meyakinkan para korban.

Salah satu korban, Ardi Sumarta, bersama istrinya Febrianti, menceritakan kronologi kejadian.  "Awalnya kami percaya karena sosialisasi dilakukan di kantor kelurahan dan yang menjelaskan mengaku sebagai PNS Pemkot," ujar Ardi. 

Para korban kemudian diminta mendownload aplikasi Kredivo dan ShopeePay.  Yang mengejutkan,  handphone para korban dikuasai oleh Bramasta dan kawan-kawan selama proses registrasi dan pengisian PIN aplikasi tersebut.

Lebih lanjut, Ardi menjelaskan bahwa pelaku mengklaim Pemkot Surabaya bekerja sama dengan aplikasi pinjaman online tersebut untuk verifikasi pengajuan pinjaman UMKM.  "Setelah registrasi selesai, kami disuruh menunggu.  Namun, pada akhir November dan Desember 2024, muncul tagihan di handphone kami," tambahnya. 

Ternyata, limit di aplikasi belanja online tersebut telah dibobol oleh para pelaku, dan angsuran bulanan dibebankan kepada para korban.  Akibatnya, nama baik para korban di dunia perbankan tercoreng, dan mereka terpaksa membayar tagihan meskipun uangnya telah digelapkan.

Kasus ini telah ditangani oleh Unit Jatanras Polrestabes Surabaya.  Ketiga pelaku dan 14 korban telah dipertemukan dalam sebuah mediasi yang difasilitasi oleh pihak kepolisian.  Para pelaku mengakui kesalahannya dan berjanji akan mengganti kerugian para korban.  Namun, hingga saat ini, janji tersebut belum ditepati.  Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap seluruh rangkaian penipuan ini.

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Aris Purwanto, belum memberikan keterangan resmi terkait kasus ini, dan meminta konfirmasi lebih lanjut ke Unit Jatanras.  Kasus ini menjadi sorotan publik dan menimbulkan kekhawatiran akan semakin maraknya penipuan yang melibatkan oknum PNS.  Pihak berwenang diharapkan dapat segera menyelesaikan kasus ini dan memberikan keadilan bagi para korban.  Kejadian ini juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu waspada terhadap penipuan yang berkedok program pemerintah.

Baca Juga: Sering Bikin Bahaya, Arus Lalu Lintas Embong Gayam dan Embong Sawo Surabaya Kini Dibalik

Editor : Ading
Berita Terbaru

Kebakaran Landa Pabrik Rokok di Jabon Sidoarjo

Petugas mencatat area gudang yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 700 meter persegi.

Hadiri Raker Gabungan DPP Apeksi, Wali Kota Mojokerto Ning Ita: TKD Harus Fleksibel

Ning Ita menegaskan Apeksi akan terus mendorong agar relasi pusat dan daerah dibangun dengan prinsip kuat, adil, dan adaptif.

Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Soal harga, produk Sango Ceramics dibanderol mulai dari Rp15.000 per item

DPRD Surabaya Temukan Anak Putus Sekolah, Data Desilnya di Atas 5

“Masih banyak ternyata anak-anak yang butuh sekolah karena biaya. Sementara ternyata desilnya di atas 5,” kata Imam.

Menyoal Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo, Kemenag RI Dorong Upaya Investigasi

Wamenag menegaskan, program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi pesantren dan madrasah.

Kenang Setahun Wafatnya Affan Kurniawan, Forkopimda Sidoarjo Bagi Beras ke Seribu Driver Ojol

Bantuan bertepatan dengan satu tahun wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol asal Jakarta yang meninggal dunia setahun lalu dalam aksi ujuk rasa.