Kamis, 04 Jun 2026 17:02 WIB

Waspada Penyakit Baru Legionellosis, Pemkot Surabaya Keluarkan Surat Edaran

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 27 Sep 2022 12:59 WIB
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina.

selalu.id - Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan Surat Edaran (SE) pencegahan atau waspada dini terkait penyakit Legionellosis yang bisa menyerang semua umur di Surabaya.

"Kita keluarkan Surat Edaran ke Faskes ke Rumah Sakit maupun Klinik itu dalam rangka kewaspadaan dini,,"kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Nanik Sukristina, Selasa (27/9/2022).

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Nanik menyampaikan, kasus penyakit tesebut diketahui sudah ada di luar pulau Jawa. Artinya, di Surabaya belum ada kasus tersebut.

"Kalau saya ketahui diluar jawa sudah ada beberapa. Tapi di Surabaya belum ada kasus penyakit (Legionellosis),"ujarnya.

Sesuai SE Nomor: 443.33/31474/436.7.2/2022, Nanik menjelaskan, sudah disebutkan gejala penyakit tersebut dan tata cara penanganan sesuai SOP.

"Suratnya sudah dikirimkan ke faskes. Misalkan ada warga atau masyarakat yang punya gejala seperti yang kita sebutkan,"ujarnya.

Penyakit Legionellosis, Nanik menyebut, bisa menyerang semua umum. Terutama, khusus untuk usia lanjut yang berersiko tinggi dan memiliki penyakit penyerta atau Komorbit.

"Sekitar 75-80 persen menyerang lebih dari 50 tahun. Jadi kita harus waspada yang sudah lansia plus yang kena Komorbit harus hati-hati,"jelasnya.

Baca Juga: Beranikah Pemkot Surabaya Tutup Gion Spa, Tempat yang Jadi Eksploitasi Anak?

Lebih lanjut Nanik menyebut, untuk mendeteksi penyakit Legioenolisis tersebut harus ada tahapan melalui pelaksanaan surveilans Pneumonia.

Kemudian, Influenza Like Illness (ILI) atau Severe Acute Respiratory Infection (SARI) dengan memanfaatkan aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).

"Nanti ada screnning juga waspada dini ada tahapan-tahapan yang harus kita lakukan untuk kita tentukan orang itu terkena leoginolisi,"jelasnya.

Untuk gejalanya, lanjutnya, yakni muncul diantaranya batuk berdahak, demam, myalgia (nyeri otot), diare, dispnea (sesak nafas), kehilangan nafsu makan, lemah lesu, dan sakit kepala.

Baca Juga: SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan, Aksi Nyata Dukung Dunia Pendidikan

Ia menambahkan, masyarakat diminta untuk waspada dan mengenali penularan penyakit tersebut, dapat melalui udara atau minum air yang mengandung bakteri Legionella.

Bahkan, melalui pemindahan (inokulasi) langsung melalui peralatan terapi pernafasan dan pengompresan luka dengan air yang terkontaminasi.

"Masa inkubasi penyakit Legionellosis antara 2 hingga 10 hari, rata-rata 5-6 hari,"tuturnya.

"Bakteri tersebut dapat hidup di air laut, air tawar, sungai, lumpur, danau, mata air panas, genangan air bersih, air menara sistem pendingin di gedung bertingkat, hotel, spa, pemandian air panas, air tampungan sistem air panas di rumah-rumah, air mancur buatan yang tidak terawat baik, adanya endapan, lendir, ganggang, jamur, karat, kerak, debu, kotoran atau benda asing,"pungkasnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Sedan Baleno Terbakar di SPBU Probolinggo, di Dalam Mobil Petugas Temukan 8 Jeriken Isi Petralite

Setelah pembasahan usai petugas menemukan sekitar delapan jeriken di dalam sedan Suzuki Baleno yang terbakar.

Maling SPPG Itu Bernama Dadan Hindayana

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman membenarkan salah satu pemicu Dadan dicopot dari Kepala BGN adalah dugaan jual beli SPPG.

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Ini Dugaan Kasusnya

Saat ditahan, Dadan mengenakan rompi merah muda dengan dikawal penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejagung.

Foto: Menikmati Rintik Hujan hingga Kuliner di Jalan Hefang Hangzhou

Sore ini, Rabu, 3 Juni 2026, Jalanan Hefang atau Qinghefang terpantau diguyur hujan. Suasananya syahdu.

Respons Santai Istana usai Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung

Presiden Prabowo sebelumnya melakukan pergantian kepemimpinan di BGN sebagai bagian dari evaluasi dan penguatan pelaksanaan program prioritas pemerintah.

Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Antara Bayang-bayang Kekuasaan Eksekutif

Masalah kebijakan luar negeri yang dianggap menyimpang ini, menurut sejumlah pengamat, bermuara pada lemahnya sistem pengawasan dalam tata pemerintahan.