Kali Surabaya Tercemar Berat, PJT I Buka-bukaan soal Penyebabnya
- Penulis : Ade Resty
- | Rabu, 09 Sep 2026 20:15 WIB
selalu.id - Kondisi air baku Kali Surabaya rupanya sedang berada di titik yang cukup mengkhawatirkan.
Perum Jasa Tirta (PJT) I blak-blakan mengonfirmasi bahwa aliran sungai tersebut kini sudah masuk dalam kategori tercemar berat.
Baca Juga: PDAM Surabaya Klaim Tarif Paling Murah se-Indonesia, Tapi Air untuk Warga Keruh
Sinyal bahaya ini terungkap secara gamblang dalam rapat hearing bersama Komisi C DPRD Kota Surabaya, Rabu (9/9/2026).
Rapat tersebut digelar khusus untuk membedah akar masalah pencemaran yang membayangi pasokan air baku PDAM Surya Sembada.
Direktur Operasional PJT I, Milvan Rantawi, membeberkan bahwa alat monitoring milik mereka sebenarnya bekerja intensif memantau sungai setiap satu jam sekali.
Sayangnya, sistem deteksi otomatis tersebut punya keterbatasan teknis. Sensor hanya sebatas memberi sinyal parameter tingkat pencemaran, ringan, sedang, hingga berat, tanpa mampu melacak jenis zat berbahaya yang masuk.
“Monitoring itu setiap satu jam. Yang keluar itu adalah tercemar berat, tercemar ringan, tercemar sedang,” ungkap Milvan di hadapan anggota dewan.
Untuk menguji kandungan polutan secara spesifik, PJT I mengaku harus mengambil sampel fisik terlebih dahulu guna diuji secara teliti di laboratorium mereka yang berada di Mojokerto.
Hearing soal Kali Surabaya tercemar yang digelar DPRD Surabaya, PJT I dan PDAM. (Foto: Ade/selalu.id).
Uniknya, status tercemar berat ini bukan melulu imbas dari insiden kebakaran industri yang belakangan menyita perhatian publik.
Milvan menegaskan, tren penurunan kualitas air ini memang sudah lama terjadi secara kontinu.
“Memang kondisinya tercemar berat. Tanpa ada kebakaran juga memang tercemar berat,” tegasnya.
Baca Juga: Polemik Pengelolaan Air Mandiri di Perumahan Elit Surabaya, PDAM Pilih Jalur Diskusi
Milvan menambahkan, mengacu pada ikatan kerja sama antara PJT I dan PDAM Surya Sembada, porsi tanggung jawab organisasinya murni berfokus pada kuantitas dan kontinuitas pasokan debit air baku.
Urusan standar mutu atau kualitas air secara regulasi berada di bawah ranah instansi lingkungan hidup.
Sebagai langkah darurat saat pencemaran memuncak, PJT I sempat menggelontorkan air segar dari hulu dengan debit mencapai 25 meter kubik per detik selama dua hari.
Namun, langkah ini tentu tak bisa terus-menerus mengandalkan pasokan hulu karena berisiko memotong alokasi air irigasi pertanian.
Kondisi ini langsung memantik respons kritis dari Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Eri Irawan.
Menurutnya, masalah utama di lapangan tak cuma soal angka polusi, tetapi juga mekanisme deteksi dini dan koordinasi antarinstansi yang terkesan lambat.
Baca Juga: Didemo Gempar Jatim soal Air Mampet, PDAM Surabaya Cuma Jawab Begini
Eri menyoroti jeda waktu penanganan yang dinilai terlalu lebar saat pencemaran terjadi pertengahan pekan lalu. Kejadian yang terdeteksi pada 4 September baru mendapat langkah konkret pada 6 September.
“Pada tanggal 4 September waktu itu, kemudian baru tanggal 6, itu ada rentang waktu yang sangat signifikan. Sebenarnya harus bisa diantisipasi,” katanya.
DPRD mendesak agar sistem sensor milik PJT I bisa terintegrasi secara real-time dan dapat diakses langsung oleh PDAM Surya Sembada.
Langkah ini penting agar PDAM punya waktu cukup untuk mengantisipasi air tercemar sebelum menyedotnya ke intake produksi.
Tak berhenti di situ, legislator Yos Sudarso ini juga memastikan Komisi C siap mengawal penambahan alokasi anggaran pemantauan kualitas air pada APBD 2027 mendatang.
Pengawasan tidak cuma menyasar cerobong dan pembuangan industri, tetapi juga membendung limbah domestik dari pemukiman warga yang ditengarai menjadi kontributor polutan terbesar di Kali Surabaya.
Editor : Zein MuhammadURL : https://selalu.id/news-15427-kali-surabaya-tercemar-berat-pjt-i-buka-bukaan-soal-penyebabnya
