Polemik Pengelolaan Air Mandiri di Perumahan Elit Surabaya, PDAM Pilih Jalur Diskusi
- Penulis : Ade Resty
- | Selasa, 08 Sep 2026 19:42 WIB
selalu.id - Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya angkat bicara terkait desakan pengambilalihan sistem penyediaan air minum mandiri di tiga perumahan elit Kota Pahlawan.
PDAM mengaku telah menjalin komunikasi dengan para pengembang (developer) kawasan tersebut, bahkan sebelum aksi unjuk rasa digelar warga.
Baca Juga: Tidak Diberi Uang, Jukir Liar Ngamuk Pukul dan Ludahi Pengendara Mobil di Surabaya
Manajer Tata Usaha dan Humas Perumda Air Minum Surya Sembada, Louis Andiliun Gatu, menegaskan bahwa proses pengambilalihan pengelolaan air tidak bisa dilakukan secara serampangan. Menurutnya, ada berbagai aspek sensitif yang wajib dipertimbangkan secara matang.
"Tidak bisa serta-merta langsung kita ambil. Semua butuh proses, butuh diskusi," kata Louis usai menemui massa aksi Gempar Jatim di gedung DPRD Surabaya, Selasa (8/9/2026).
Louis menjelaskan, pengambilalihan ini menyangkut persoalan investasi, kepemilikan aset, hingga jaminan keberlangsungan pelayanan bagi para penghuni perumahan. Pihaknya enggan melangkah gegabah hingga berpotensi memicu masalah baru di kemudian hari.
Pemerintah Kota Surabaya, kata Louis, tetap berkewajiban menjaga iklim investasi yang kondusif tanpa mengesampingkan kepentingan serta keamanan warga.
"Kita bukan preman. Kita sebagai negara harus memberikan keamanan bagi semua investor, bagi semua orang yang masuk di Kota Surabaya," tegasnya.
Menanggapi anggapan bahwa pengelola mandiri ragu akan kemampuan penyediaan air PDAM, Louis menepis tuduhan tersebut.
Ia menuturkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, PDAM Surabaya telah menggelontorkan investasi besar-besaran untuk memperkuat infrastruktur pelayanan air bersih.
"Beberapa tahun terakhir, tiga tahun terakhir, kita melakukan investasi besar-besaran untuk warga Kota Surabaya. Bisa. Saya pastikan bisa," jelasnya.
Meski demikian, ia tak menampik bahwa pemerataan tekanan air di seluruh penjuru Surabaya masih menghadapi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Didemo Gempar Jatim soal Air Mampet, PDAM Surabaya Cuma Jawab Begini
Wilayah Surabaya bagian utara, misalnya, masih membutuhkan penataan dan penguatan jaringan secara intensif.
PDAM sendiri mematok target pelayanan yang cukup ambisius demi kepuasan pelanggan di seluruh titik kota.
"Dengan segala keterbatasan kami, kami punya mimpi besar. Dua meter kolom air merata. Targetnya malah tiga meter kolom air," beber Louis.
Di sisi lain, Louis menyinggung posisi tarif air PDAM Surabaya yang saat ini menjadi salah satu yang paling terjangkau di Indonesia.
Berbeda dengan sejumlah BUMD lain yang disokong anggaran pemerintah, PDAM harus membiayai sendiri seluruh pembangunan dan perawatan infrastrukturnya dari kemampuan internal perusahaan.
Baca Juga: Penjelasan PDAM Soal Air Baku Kali Surabaya yang Kini Keruh dan Berbau
Terkait maraknya izin pengelolaan air secara mandiri oleh pengembang perumahan mewah, Louis meluruskan bahwa kewenangan penerbitan izin tersebut berada sepenuhnya di tangan kementerian terkait di pemerintah pusat, bukan domain PDAM.
"Untuk penerbitan izin itu bukan di ranah kami. Itu ranahnya di kementerian," ungkapnya, seraya menambahkan bahwa PDAM tidak pernah menerbitkan rekomendasi untuk izin tersebut dalam beberapa tahun belakangan.
Oleh karena itu, PDAM menegaskan penyelesaian polemik ini memerlukan ruang diskusi lintas sektor yang melibatkan pengembang serta pemerintah pusat.
Fokus utamanya adalah mencari solusi terintegrasi tanpa sekadar fokus pada pengambilalihan aset semata.
"Jelas kemarin kami sudah rapat. Ya, artinya masih belum ada pertemuan kembali. Artinya gini, masih butuh diskusi kembali," pungkas Louis.
Editor : Zein Muhammad