Selasa, 03 Nov 2026 06:29 WIB

Pilkada Mahal, Perlukah Dikaji Ulang Sistem Pemilihan Langsung?

  • Penulis : Redaksi
  • | Sabtu, 14 Des 2024 19:13 WIB
Arif Fathoni, Ketua DPD Golkar Surabaya
Arif Fathoni, Ketua DPD Golkar Surabaya

selalu.id – Anggaran pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kota Surabaya dan Jawa Timur menjadi sorotan publik. Hal ini disampaikan, Arif Fathoni, Ketua DPD Golkar Surabaya yang menyoroti besarnya anggaran yang dialokasikan untuk penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut.

Dalam pernyataannya melalui akun media sosial facebook yang diunggah pada Sabtu (14/12/2024), Arif Fathoni menyoroti anggaran Pilwali Surabaya yang mencapai Rp114 miliar, sementara anggaran Pilgub Jawa Timur mencapai Rp1,1 triliun.

Dalam tulisannya itu, Ia mempertanyakan apakah tingginya biaya tersebut berbanding lurus dengan peningkatan indeks demokrasi di Indonesia.

"Apakah tidak sebaiknya anggaran sebanyak itu digunakan untuk membangun jalan, gedung sekolah, atau program lainnya? Sehingga, misalnya, sekolah dasar bisa digratiskan di seluruh sekolah swasta, dan tidak ada lagi anak putus sekolah karena faktor ekonomi," ujar Arif ketika dikonfirmasi terkait unggahannya tersebut pada Sabtu (14/12/2024).

Lebih lanjut, ia mengajak masyarakat untuk berdiskusi mengenai efektivitas sistem demokrasi langsung dalam Pemilukada saat ini.

Menurutnya, ada wacana lain yang dapat dipertimbangkan, yakni menggunakan anggaran Pemilukada untuk pembangunan infrastruktur dan pendidikan. Alternatifnya, pemilihan kepala daerah seperti Gubernur, Bupati, dan Walikota cukup dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Wacana yang diunggah Arif Fathoni ini menuai beragam tanggapan dari masyarakat.  Salah seorang warganet, menilai pemilihan langsung tetap penting di daerah, namun khusus untuk kota besar mekanisme ini perlu dipertimbangkan ulang.

“Klo di wilayah lain di kota besar pres tetap pemilihan secara langsung karena biar masyarakat yang menilai, kecuali di Surabaya, Bandung, Jakarta... Karena sistem dari bawah/desa itu tetap pakai bayar klo buat ngurus apapun,” tulis Akun @Theo Hardika.

Sementara itu, akun atas nama @Frente Edi Firmanto Gonzalez memberikan pendapat berbeda. Menurutnya, pemilihan kepala daerah sebaiknya dilakukan oleh DPRD, sedangkan pemilihan langsung hanya untuk pemilihan presiden.

“Sebaiknya presiden saja yang pilihan langsung, untuk Pilkada sebaiknya dipilih DPRD... Buang-buang duit gak bermanfaat, ujung-ujungnya gugat di MK,” tulis @Frente Edi Firmanto Gonzalez.

Komentar serupa juga datang dari akun @Sulistyawati yang merasa terkejut dengan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan Pilkada.

“Wauwww, besar sekali biaya yang harus dikeluarkan,” tulisnya singkat.

Sementara itu, Muhammad Taufik, warga Surabaya yang dimintai tanggapannya, menilai bahwa seringnya pemilu hanya menghabiskan anggaran negara tanpa membawa dampak signifikan bagi kehidupan rakyat.

“Pemilu itu seringnya hanya menghabiskan anggaran negara, tidak membuat kehidupan rakyat jadi lebih baik. Biar dipilih DPRD saja, biar kalaupun ada penyimpangan dosanya ditanggung oleh DPRD,” ujar Taufik.

Beragam tanggapan dari masyarakat tersebut mencerminkan adanya perbedaan pandangan terkait efektivitas dan efisiensi Pemilukada langsung. Sebagian kalangan menilai pemilihan langsung memberi ruang bagi partisipasi masyarakat dalam demokrasi, sementara lainnya berpendapat bahwa mekanisme ini tidak efektif dari segi biaya dan seringkali berujung pada sengketa hasil di Mahkamah Konstitusi (MK).

Baca Juga: Dua Nama Potensial yang Disebut Cocok Dampingi Arif Fathoni di Pilwali Surabaya 2029

Editor : Ading
Berita Terbaru

Tanpa Ronaldo, Al Nassr Hajar Pakhtakor 6-2 di ACL

Bermain sebagai tim tamu tidak membuat mental Al Nassr ciut. Justru mereka langsung menekan sejak menit awal.

Heboh! Seorang Perempuan Tuntut Pajak Pembalut ke Mahkamah Konstitusi

Pemohon menuntut kepastian hukum yang adil atas barang kebutuhan pokok yang memperoleh fasilitas PPN.

7 Anggota Polrestabes Surabaya Diperiksa Propam Polda Jatim, Ini Dugaan Pelanggarannya

Kombes Pol Iman Setiawan menyebut proses penanganan internal sejatinya sudah bergulir sejak beberapa waktu lalu melalui tahap pemanggilan dan klarifikasi.

Dear Bunda, Bayar Belanja Online Bentar Lagi Bisa Pakai WhatsApp Loh..

Meski demikian, pihak WhatsApp belum memberikan pengumuman resmi mengenai tanggal perilisan fitur-fitur baru ini untuk pengguna umum.

Usung Komedi Cinta Beda Alam dan Agama, Film 'Piye To Kih' Siap Kocok Perut Penggemar Bioskop

Mengusung genre komedi, drama, dan misteri, film ini membawa pesan mendalam tentang pentingnya memantaskan diri.

KPAI Sebut Perlindungan Anak jangan Hanya Reaktif, Dorong RUU Pengasuhan Masuk Prolegnas

KPAI menegaskan bahwa negara tidak boleh terus-menerus memakai pola "pemadam kebakaran" atau baru bergerak setelah ada tragedi.