Cita-cita Aisatus Zahira, Salah Satu Pelajar Sidoarjo untuk Jamnas Pramuka 2026
- Penulis : Ariyanto
- | Minggu, 09 Agu 2026 22:19 WIB
selalu.id - Di tengah suasana pelepasan kontingen Jambore Nasional (Jamnas) Pramuka 2026 di Pendopo Delta Wibawa Sidoarjo, Aprilia Aisatus Zahira tampak bersiap meninggalkan kampung halamannya.
Siswi SMPN 1 Prambon itu tidak sekadar membawa perlengkapan Pramuka. Ia membawa kebanggaan sekolah, dukungan keluarga, dan sebuah cita-cita yang ingin terus dikejarnya.
Baca Juga: Pesta Siaga Sidoarjo: 1.000 Anak Belajar Keberanian dan Kerja Sama Lewat Petualangan
Akrab disapa Aisa, ia menjadi salah satu dari 32 peserta asal Sidoarjo yang terpilih mengikuti Jamnas Pramuka Penggalang 2026 di Cibubur, Jakarta. Kontingen Sidoarjo dilepas pada Sabtu (8/8/2026), sebelum bertolak menuju Surabaya pada Senin (10/8/2026) untuk bergabung dengan kontingen Jawa Timur.
Bagi Aisa, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak ingin disia-siakannya.
“Semoga saya jadi pembina Pramuka terkenal,” ujar Aisa.
Harapan itu tidak berdiri sendiri. Di baliknya ada cita-cita lain yang telah ia simpan: menjadi guru Bahasa Indonesia.
“Saya ingin lanjutkan Pramuka sampai SMA nanti. Dan cita-cita saya jadi guru Bahasa Indonesia,” tuturnya.
Kecintaan Aisa terhadap Pramuka sebenarnya telah tumbuh sejak duduk di kelas 6 SD. Ketika memasuki jenjang Penggalang, ketertarikannya semakin kuat.
“Saya tertarik saat Penggalang, bukan Siaga,” katanya.
Sejak saat itu, Pramuka menjadi kegiatan yang paling ia tekuni. Aisa juga mengikuti ekstrakurikuler tari, tetapi prestasinya lebih menonjol melalui kegiatan kepramukaan.
Dari aktivitas yang awalnya hanya menjadi kegiatan sekolah, Pramuka kemudian membawanya pada kesempatan yang jauh lebih besar. Aisa harus melewati proses seleksi hingga akhirnya dipercaya menjadi bagian dari kontingen Sidoarjo di tingkat nasional.
Aisa merupakan putri bungsu pasangan Abdul Muid, 42, dan Suranti, 40. Sang ayah bekerja sebagai marketing pada usaha outbound di kawasan Prambon. Pekerjaan itu membuat Muid cukup dekat dengan aktivitas yang berkaitan dengan alam dan petualangan.
Saat mengantar putrinya mengikuti pelepasan kontingen, Muid mengaku bangga sekaligus memberikan dukungan penuh.
“Untuk prestasi anak, kami sangat mendukung penuh anak kami ikut Jambore Nasional,” ujar Muid.
Baca Juga: Pesta Pramuka Prasiaga Sidoarjo, Cara Seru Tanamkan Karakter Anak Sejak Dini
Dukungan serupa diberikan SMPN 1 Prambon. Sekolah menanggung biaya keikutsertaan Aisa yang mencapai sekitar Rp6 juta selama mengikuti Jamnas.
Kepala SMPN 1 Prambon sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus), Yekti Ariani, menyebut terpilihnya Aisa menjadi kebanggaan bagi sekolah.
“Ini kebanggaan besar bagi sekolah kami. Kami bangga siswi kami lolos seleksi nasional,” kata Yekti.
Bagi Aisa, Jamnas bukan sekadar tempat untuk menunjukkan kemampuan. Ia akan bertemu dengan Pramuka Penggalang dari berbagai daerah dan mendapatkan pengalaman baru yang belum tentu ditemuinya di lingkungan sekolah.
Jamnas merupakan pertemuan besar Pramuka Penggalang yang digelar lima tahunan. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk belajar, bertukar pengalaman, membangun persaudaraan, sekaligus mengenal keberagaman Indonesia.
Selama sekitar 15 hari di Cibubur, peserta akan mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari keterampilan hingga pengenalan ketahanan pangan.
“Jamnas bukan lomba, tapi pesta pertemuan besar berkumpulnya para Penggalang seluruh Indonesia,” jelas Siti Khoiriyah, pembina Kwarcab Sidoarjo sekaligus pendamping kontingen Jamnas Sidoarjo.
Baca Juga: DPRD dan Pemkab Sidoarjo Bangun Kebersamaan Lewat Laga Sepak Bola
Selain mengikuti rangkaian kegiatan, kontingen Sidoarjo juga membawa sejumlah produk unggulan daerah untuk diperkenalkan di tingkat nasional, seperti kerupuk kupang dan kerupuk udang.
Namun, bagi Aisa, perjalanan ke Cibubur bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang akan diikuti. Ada pengalaman yang jauh lebih penting: belajar menjadi pribadi yang lebih berani, mandiri, dan terbuka terhadap lingkungan baru.
Dari Prambon, ia kini melangkah menuju panggung nasional. Seragam Pramuka yang dikenakannya menjadi bagian dari perjalanan kecil menuju mimpi yang lebih besar.
Suatu hari nanti, Aisa ingin berdiri di depan kelas sebagai guru Bahasa Indonesia. Setelah itu, ia ingin tetap berada di dunia yang sejak kecil membuatnya nyaman di Pramuka.
Guru sekaligus pembina Pramuka.
Dua cita-cita yang kini mulai ia bangun, satu langkah demi satu langkah, dari Prambon menuju Cibubur.
Editor : Redaksi