Sabtu, 13 Jun 2026 18:13 WIB

Mengenal Kebohongan Patologis

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 07 Apr 2022 15:08 WIB
Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana
Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana

selalu.id - Setiap orang pernah melakukan kebohongan untuk menutupi sesuatu. Namun jika berbohong tanpa memiliki motif apapun, hal itu termasuk dalam pembohong patologis.

Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana menyampaikan, terdapat perbedaan pemahaman antara orang biasa dengan para psikolog atau psikiater terkait fenomena pembohong patologis ini.

Baca Juga: SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan, Aksi Nyata Dukung Dunia Pendidikan

"Yang penting untuk dipahami dari pembohong patologis adalah orang yang berbohong tapi tanpa ada sebab yang jelas kenapa mereka berbohong," kata Nido, Kamis (7/4/2022).

Nido menjelaskan, fenomena pembohong patologis, harus dibedakan dari bentuk-bentuk kebohongan lain yang sama-sama kronis, namun memiliki motif yang jelas di balik kebohongannya.

"Ada bentuk-bentuk pembohong kronis lainnya yang juga suka berbohong tapi motifnya bisa kita identifikasi," ujar Nido.

Penyebab seseorang menjadi pembohong patologis, kata Nido, hal itu belum diketahui secara pasti, lantaran fenomena itu belum mendapat banyak perhatian ilmiah.

Namun, dari sudut pandang biologis, terdapat perbedaan cara kerja otak pada orang dengan kebiasaan berbohong patologis utamanya di bagian otak depan.

"Hal ini menyebabkan seorang pembohong patologis kurang mampu mengendalikan impuls (dorongan) untuk melakukan kebohongan," ujarnya.

Lebih lanjut, Nido menjelaskan, seseorang dengan kebiasaan berbohong patologis ini kerap kali ditemui pada orang yang memiliki harga diri rendah.

"Kadang-kadang, konten kebohongan yang dia buat itu adalah bentuk dari semacam ideal self-nya," tegas Nido.

Baca Juga: Tiga Jurusan Paling Diminati di UNAIR pada UTBK 2026

Ia menjelaskan, seorang pembohong patologis, tidak jarang akan mengalami stres dalam kehidupan sehari-harinya.

Hal itu disebabkan, karena memiliki tuntutan untuk terus menyebarkan kebohongan lain untuk menjelaskan kebohongan yang ia lakukan sebelumnya.

"Itu semacam rantai yang susah diubah, sehingga secara komitmen memberatkan seseorang karena harus berpikir keras untuk fabricating informasi yang tidak benar," ujar Nido.

Mengingat masih minimnya studi mengenai fenomena pembohong patologis itu, Nido menjelaskan, belum diketahui pasti apakah kondisi tersebut dapat dihilangkan atau tidak.

Hal tersebut, kata dia, perlu untuk dipastikan terlebih dahulu apakah fenomena itu sama dengan gangguan kompulsif lainnya.

Baca Juga: Tingkatkan Pendidikan dan Peluang Kerja, Pemkab Sidoarjo Gandeng Perpukadesi

"Kalau misalnya kita tempatkan pembohong patologis di posisi yang sama dengan gangguan kompulsif, maka asumsinya adalah bisa dibantu untuk menghilangkan kebiasaan ini," jelas Nido.

Nido mengungkapkan, hal itu tentu saja bisa melakukan terapi atau mungkin mengembangkan medikasi.

"Tetapi, untuk pastinya ini perlu riset yang mendalam lagi," ungkapnya.

Ia pun memambahkan, untuk menghadapi orang dengan sifat berbohong yang patologis, tentu bukan perkara yang mudah. Nido berpesan, jika kita berhadapan dengan orang terdekat seperti teman atau bahkan pasangan yang merupakan seorang pembohong patologis, Nido menyarankan agar tidak menghadapinya dengan konfrontasi penuh.

"Coba konfirmasi (informasi dalam kebohongannya) kemudian dibantu untuk melihat bahwa mereka sudah sering berbohong. Bisa diajak berpikir gimana (solusi,) selanjutnya," pungkas Nido. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Porkab Karate Sidoarjo Dibuka, Ratusan Atlet Disiapkan untuk Porprov 

Pembukaan Porkab Sidoarjo 2026 Cabang Olahraga Karate di GOR Delta Sidoarjo. (Foto: Ariyanto/selalu.id) 

Di Bulan Bung Karno, Armuji Tantang Kader Gen Z PDIP Surabaya jadi Anggota Dewan

Armuji, menegaskan bahwa Gen-Z memiliki peran strategis dalam menentukan masa depan partai maupun bangsa.

Pertama Kali Pasca Islah, Subandi-Mimik Pamer Kekompakan di Depan Publik Sidoarjo

Sebelumnya, kedua belah pihak bahkan sempat saling melayangkan laporan ke pihak kepolisian atas pertikaian itu.

Semarak Piala Dunia 2026, Warga Desa Medali di Mojokerto Pasang 48 Bendera Kontestan

Sebanyak 48 bendera yang berlaga di piala dunia itu didapatkan dari anggaran yang diperoleh dari iuran secara sukarela.

Sekretariat DPRD Jatim Kembangkan Tanaman Hidroponik, Sri Wahyuni Mengapresiasi

Di area depan ruangan Fraksi PDI-P, terlihat deretan tanaman hidroponik yang ditanam menggunakan media pipa paralon tersusun rapi.

Peringati Harganas ke-33, KB Permanen di Jember Sasar 234 Perempuan dan 25 Laki-laki

Target akseptor MOW di Jember berkisar 250 peserta dan kini hampir seluruhnya telah terpenuhi.