Selasa, 03 Feb 2026 19:33 WIB

Mengenal Kebohongan Patologis

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 07 Apr 2022 15:08 WIB
Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana
Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana

selalu.id - Setiap orang pernah melakukan kebohongan untuk menutupi sesuatu. Namun jika berbohong tanpa memiliki motif apapun, hal itu termasuk dalam pembohong patologis.

Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana menyampaikan, terdapat perbedaan pemahaman antara orang biasa dengan para psikolog atau psikiater terkait fenomena pembohong patologis ini.

Baca Juga: Calon Mahasiswa Wajib Tahu! UNAIR Buka Banyak UKM dan Beasiswa Berlapis

"Yang penting untuk dipahami dari pembohong patologis adalah orang yang berbohong tapi tanpa ada sebab yang jelas kenapa mereka berbohong," kata Nido, Kamis (7/4/2022).

Nido menjelaskan, fenomena pembohong patologis, harus dibedakan dari bentuk-bentuk kebohongan lain yang sama-sama kronis, namun memiliki motif yang jelas di balik kebohongannya.

"Ada bentuk-bentuk pembohong kronis lainnya yang juga suka berbohong tapi motifnya bisa kita identifikasi," ujar Nido.

Penyebab seseorang menjadi pembohong patologis, kata Nido, hal itu belum diketahui secara pasti, lantaran fenomena itu belum mendapat banyak perhatian ilmiah.

Namun, dari sudut pandang biologis, terdapat perbedaan cara kerja otak pada orang dengan kebiasaan berbohong patologis utamanya di bagian otak depan.

"Hal ini menyebabkan seorang pembohong patologis kurang mampu mengendalikan impuls (dorongan) untuk melakukan kebohongan," ujarnya.

Lebih lanjut, Nido menjelaskan, seseorang dengan kebiasaan berbohong patologis ini kerap kali ditemui pada orang yang memiliki harga diri rendah.

"Kadang-kadang, konten kebohongan yang dia buat itu adalah bentuk dari semacam ideal self-nya," tegas Nido.

Baca Juga: Bersama BPIP, UNTAG Surabaya Perkuat Kurikulum Pancasila

Ia menjelaskan, seorang pembohong patologis, tidak jarang akan mengalami stres dalam kehidupan sehari-harinya.

Hal itu disebabkan, karena memiliki tuntutan untuk terus menyebarkan kebohongan lain untuk menjelaskan kebohongan yang ia lakukan sebelumnya.

"Itu semacam rantai yang susah diubah, sehingga secara komitmen memberatkan seseorang karena harus berpikir keras untuk fabricating informasi yang tidak benar," ujar Nido.

Mengingat masih minimnya studi mengenai fenomena pembohong patologis itu, Nido menjelaskan, belum diketahui pasti apakah kondisi tersebut dapat dihilangkan atau tidak.

Hal tersebut, kata dia, perlu untuk dipastikan terlebih dahulu apakah fenomena itu sama dengan gangguan kompulsif lainnya.

Baca Juga: Dapur Bergizi Perdana di Sukomanunggal Resmi Beroperasi, Ribuan Pelajar Siap Nikmati MBG

"Kalau misalnya kita tempatkan pembohong patologis di posisi yang sama dengan gangguan kompulsif, maka asumsinya adalah bisa dibantu untuk menghilangkan kebiasaan ini," jelas Nido.

Nido mengungkapkan, hal itu tentu saja bisa melakukan terapi atau mungkin mengembangkan medikasi.

"Tetapi, untuk pastinya ini perlu riset yang mendalam lagi," ungkapnya.

Ia pun memambahkan, untuk menghadapi orang dengan sifat berbohong yang patologis, tentu bukan perkara yang mudah. Nido berpesan, jika kita berhadapan dengan orang terdekat seperti teman atau bahkan pasangan yang merupakan seorang pembohong patologis, Nido menyarankan agar tidak menghadapinya dengan konfrontasi penuh.

"Coba konfirmasi (informasi dalam kebohongannya) kemudian dibantu untuk melihat bahwa mereka sudah sering berbohong. Bisa diajak berpikir gimana (solusi,) selanjutnya," pungkas Nido. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.

Reklame Patah saat Hujan Disertai Angin di Surabaya: Belum Ada Petugas, Bahayakan Warga 

Reklame patah itu berada di atas sebuah gedung, tepat di samping Poppy cafe & karaoke Jalan Tidar Surabaya. 

PMI Surabaya dan Solo Jajaki Kerja Sama "Sister City" dalam Kunjungan Studi Banding

“Melihat potensi kedua kota, kami mengusulkan adanya kerja sama antata Surabaya dan Solo,” jelas Sumartono.

Hujan Disertai Angin di Surabaya Juga Tumbangkan 30 Pohon

Kepala DLH Surabaya Dedik Irianto menegaskan petugas langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pemotongan batang dan pembersihan material pohon. 

Hujan Angin Terjang Surabaya: Genteng Rumah Warga Berterbangan, Sejumlah Pohon Juga Tumbang

Genteng rumah warga yang terdampak hujan angin itu berada di Kelurahan Pakis, yang diketahui rumah milik Arif.

Kabar Gembira, Nilai Tukar Rupiah Menguat Lagi ke Rp16.755/US$

Penguatan rupiah hari ini sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global.