Senin, 03 Agu 2026 12:27 WIB

Mengenal Kebohongan Patologis

  • Penulis : Ade Resty
  • | Kamis, 07 Apr 2022 15:08 WIB
Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana
Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana

selalu.id - Setiap orang pernah melakukan kebohongan untuk menutupi sesuatu. Namun jika berbohong tanpa memiliki motif apapun, hal itu termasuk dalam pembohong patologis.

Dosen Psikologi Klinis Universitas Airlangga (UNAIR), Nido Dipo Wardana menyampaikan, terdapat perbedaan pemahaman antara orang biasa dengan para psikolog atau psikiater terkait fenomena pembohong patologis ini.

Baca Juga: IKA Unair Jember Resmi Dikukuhkan, Siap Dukung Program Pemkab

"Yang penting untuk dipahami dari pembohong patologis adalah orang yang berbohong tapi tanpa ada sebab yang jelas kenapa mereka berbohong," kata Nido, Kamis (7/4/2022).

Nido menjelaskan, fenomena pembohong patologis, harus dibedakan dari bentuk-bentuk kebohongan lain yang sama-sama kronis, namun memiliki motif yang jelas di balik kebohongannya.

"Ada bentuk-bentuk pembohong kronis lainnya yang juga suka berbohong tapi motifnya bisa kita identifikasi," ujar Nido.

Penyebab seseorang menjadi pembohong patologis, kata Nido, hal itu belum diketahui secara pasti, lantaran fenomena itu belum mendapat banyak perhatian ilmiah.

Namun, dari sudut pandang biologis, terdapat perbedaan cara kerja otak pada orang dengan kebiasaan berbohong patologis utamanya di bagian otak depan.

"Hal ini menyebabkan seorang pembohong patologis kurang mampu mengendalikan impuls (dorongan) untuk melakukan kebohongan," ujarnya.

Lebih lanjut, Nido menjelaskan, seseorang dengan kebiasaan berbohong patologis ini kerap kali ditemui pada orang yang memiliki harga diri rendah.

"Kadang-kadang, konten kebohongan yang dia buat itu adalah bentuk dari semacam ideal self-nya," tegas Nido.

Baca Juga: Menginspirasi Birokrasi: Sekel Surabaya Raih Gelar Doktor Lewat Riset Kelincahan Pegawai

Ia menjelaskan, seorang pembohong patologis, tidak jarang akan mengalami stres dalam kehidupan sehari-harinya.

Hal itu disebabkan, karena memiliki tuntutan untuk terus menyebarkan kebohongan lain untuk menjelaskan kebohongan yang ia lakukan sebelumnya.

"Itu semacam rantai yang susah diubah, sehingga secara komitmen memberatkan seseorang karena harus berpikir keras untuk fabricating informasi yang tidak benar," ujar Nido.

Mengingat masih minimnya studi mengenai fenomena pembohong patologis itu, Nido menjelaskan, belum diketahui pasti apakah kondisi tersebut dapat dihilangkan atau tidak.

Hal tersebut, kata dia, perlu untuk dipastikan terlebih dahulu apakah fenomena itu sama dengan gangguan kompulsif lainnya.

Baca Juga: Pemkot Surabaya Beri Bantuan Pendidikan untuk 7.380 Siswa SMA/SMK/MA Sederajat

"Kalau misalnya kita tempatkan pembohong patologis di posisi yang sama dengan gangguan kompulsif, maka asumsinya adalah bisa dibantu untuk menghilangkan kebiasaan ini," jelas Nido.

Nido mengungkapkan, hal itu tentu saja bisa melakukan terapi atau mungkin mengembangkan medikasi.

"Tetapi, untuk pastinya ini perlu riset yang mendalam lagi," ungkapnya.

Ia pun memambahkan, untuk menghadapi orang dengan sifat berbohong yang patologis, tentu bukan perkara yang mudah. Nido berpesan, jika kita berhadapan dengan orang terdekat seperti teman atau bahkan pasangan yang merupakan seorang pembohong patologis, Nido menyarankan agar tidak menghadapinya dengan konfrontasi penuh.

"Coba konfirmasi (informasi dalam kebohongannya) kemudian dibantu untuk melihat bahwa mereka sudah sering berbohong. Bisa diajak berpikir gimana (solusi,) selanjutnya," pungkas Nido. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Gelar Istigasah Jelang IGIC 2026, Kemenag Jatim Tekankan Fungsi Masjid sebagai Pusat Perdamaian

Puncak acara akan diisi langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, yang memimpin Tabligh Akbar di hadapan ribuan jemaah.

JKCI 2026 Pukau Dunia, Terobosan Jitu Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata Jember

Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan hilirisasi menjadi kunci utama agar kesejahteraan para petani tembakau melonjak tajam.

Semifinal dan Final Piala Presiden 2026 Digelar di Bali, Hadiah Juara Naik jadi Rp8 M

Maruarar mengungkapkan, meski sebelumnya ada wacana menggelar laga krusial tersebut di Surabaya, namun keputusan laga akhirnya digelar di Bali.

Pakar Hukum Ingatkan Pemkot Surabaya Cermat Terbitkan Izin Acara Besar Pasca-Kericuhan Konser SUBEC

Menurutnya, aspek administrasi, keamanan, hingga perlindungan bagi petugas harus menjadi perhatian utama untuk mencegah terjadinya insiden di lapangan.

Viral Isu Bocah 5 Tahun Dieksploitasi Ayah Kandung di Surabaya, Ini Penjelasan Pemkot

Ida Widayati menjelaskan pihaknya langsung berkoordinasi dengan jajaran Polres setempat untuk memverifikasi kebenaran informasi yang meresahkan publik itu.

Tak Ada Ongkos Berobat? Pemkab Jember Kirim Nakes dan Dokter Spesialis Langsung ke Rumah Warga

Bupati Jember, Muhammad Fawait mengungkapkan bahwa program dengan konsep jemput bola ini lahir dari keprihatinan atas kondisi riil di lapangan.