Kamis, 05 Nov 2026 04:08 WIB

RLD Soroti Ancaman Penghapusan Konten Digital pada Independensi Kerja Jurnalistik

Ketua Rukun Warta Rumah Literasi Digital (RLD), Fatchur Rohman (kemeja putih). (Dok. RLD for selalu.id).
Ketua Rukun Warta Rumah Literasi Digital (RLD), Fatchur Rohman (kemeja putih). (Dok. RLD for selalu.id).

selalu.id - Praktik penghapusan jejak digital terhadap produk jurnalistik tanpa melalui mekanisme penyelesaian sengketa pers dinilai berpotensi mengancam independensi kerja jurnalistik dan kebebasan pers di era digital. 

Ketua Rukun Warta Rumah Literasi Digital (RLD), Fatchur Rohman mengatakan belakangan muncul kecenderungan pihak-pihak yang merasa keberatan terhadap suatu pemberitaan. Namun, keberatan itu tidak lagi melalui penyampaian somasi atau hak jawab kepada redaksi media. 

Baca Juga: DPRD Surabaya Sentil Kinerja Pemkot: Jangan Cuma Bersandar Capaian Anggaran!

Sebaliknya, mereka langsung mengajukan keberatan kepada penyedia layanan domain maupun hosting. 

"Keberatan atau somasi terhadap suatu pemberitaan tidak lagi disampaikan kepada redaksi media yang bersangkutan, melainkan langsung ditujukan kepada penyedia layanan domain atau hosting dengan dalih pelanggaran privasi, hak cipta (DMCA), maupun alasan lainnya," katanya, Selasa (16/5/2026).

Menurut Fatchur, fenomena tersebut perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi menimbulkan preseden yang dapat mengganggu kemerdekaan pers. 

Terlebih apabila penyedia layanan digital mengambil keputusan untuk menurunkan konten jurnalistik tanpa proses verifikasi yang memadai. 

Fatchur menegaskan bahwa penyedia infrastruktur digital tidak seharusnya mengambil keputusan sepihak terhadap produk jurnalistik yang diterbitkan media. 

Ia menilai setiap sengketa pemberitaan harus diselesaikan melalui mekanisme yang telah diatur dalam Undang-Undang Pers. 

"Sebagai insan pers, fenomena ini patut menjadi perhatian karena berpotensi mengancam independensi kerja jurnalistik dan kebebasan pers. Penyedia layanan domain maupun hosting tidak seharusnya mengambil tindakan terhadap konten jurnalistik tanpa melalui proses klarifikasi serta mekanisme yang sesuai dengan ketentuan hukum dan etika pers," paparnya.

Fatchur menambahkan, hak jawab dan hak koreksi merupakan instrumen yang telah disediakan dalam regulasi pers untuk menyelesaikan keberatan terhadap suatu pemberitaan. 

Baca Juga: Diskotek dan Klub Malam Surabaya Wajib Siapkan Ruang Khusus Pengunjung Mabuk

Karena itu, penggunaan jalur lain untuk menghapus konten jurnalistik dinilai tidak sejalan dengan semangat penyelesaian sengketa pers. Sebagai contoh, ia menyinggung perkara korupsi yang menjerat Putu Harry Sasmita. 

Dalam putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya, terdakwa dijatuhi hukuman dua tahun penjara dan denda Rp50 juta subsider tiga bulan kurungan.

Selain pidana pokok tersebut, majelis hakim juga mewajibkan terdakwa membayar uang pengganti sebesar Rp1,96 miliar. Apabila kewajiban itu tidak dipenuhi, hukuman akan diganti dengan pidana penjara selama satu tahun. 

Fatchur menyebut setelah putusan perkara tersebut berkekuatan hukum tetap, muncul upaya meminta sejumlah media menghapus pemberitaan terkait kasus tersebut dengan alasan pelanggaran privasi. Padahal, pemberitaan itu bersumber dari fakta persidangan yang terbuka untuk umum. 

"Jika ada keberatan terhadap isi pemberitaan, mekanisme yang tepat adalah menggunakan hak jawab atau hak koreksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pers, bukan meminta penghapusan konten melalui jalur lain," jelasnya.

Baca Juga: Kejari Tanjung Perak Terima SPDP Go Bozze Gozali, Kasi Intel: Belum Ada Tersangka

Untuk mengantisipasi potensi sengketa serupa, RLD mengimbau pengelola media siber memperkuat aspek administratif dan profesionalisme dalam menjalankan aktivitas jurnalistik. 

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat posisi media ketika menghadapi berbagai bentuk keberatan atas pemberitaan. 

Beberapa langkah yang disarankan antara lain mencantumkan alamat redaksi secara jelas, memastikan legalitas perusahaan media, merespons hak jawab secara proporsional, mendokumentasikan penyelesaian sengketa, mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber, serta menjalankan Kode Etik Jurnalistik secara konsisten.

"Dengan langkah-langkah tersebut, media siber dapat memperkuat posisi hukum dan profesionalismenya dalam menghadapi berbagai bentuk keberatan atau upaya penghapusan konten yang tidak melalui mekanisme penyelesaian sengketa pers sebagaimana mestinya," pungkas Fatchur.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Tanda-tanda HP Disadap, Kenali 5 Ciri Ini dan Cara Mengatasinya Sebelum Data Bocor

Aksi peretasan ini tak hanya merampas privasi, namun berujung fatal pada pencurian data sensitif, seperti akun media sosial hingga kredensial perbankan.

Reaksi Presiden Prabowo saat Tahu Disadap Listyo Sigit Cs

Mensesneg Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa tindakan penyadapan semacam ini sangat mengkhawatirkan dan menjadi ancaman serius bagi kepentingan nasional.

Sukses Tekan Kasus Penyakit Menular, Wali Kota Mojokerto Ning Ita Sabet ATM Award 2026

Ning Ita menyebut capaian ini tidak lepas dari kerja bareng lintas sektor. Deteksi dini, kemudahan akses layanan, dan dukungan anggaran jadi fondasi utama.

Peringati HLUN 2026, Pemkab Sidoarjo Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Ramah Lansia

Wabup Sidoarjo Mimik Idayana menyampaikan bahwa perhatian terhadap kesejahteraan lansia harus diwujudkan dalam program kerja yang riil dan berdampak langsung.

Polresta Sidoarjo Bongkar Jaringan Narkoba Rp35 M, Pelakunya Petani hingga Pegawai Klinik

Dari pengungkapan ini, tim menyita barang bukti 1.765,13 gram sabu, 4,41 gram ganja, serta 2.018 butir ekstasi, dan meringkus 180 tersangka.

Wujud Kepedulian Sesama, PT SIER Gelar Aksi Donor Darah di Hari Pahlawan

SIER berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.