Polisi Bongkar Sindikat Joki UTBK di Surabaya, Lia Istifhama Beri Apresiasi
- Penulis : Mohammad Rofik
- | Senin, 11 Mei 2026 17:43 WIB
selalu.id - Anggota DPD RI, Lia Istifhama memberikan apresiasi terhadap kinerja Satreskrim Polrestabes Surabaya dalam membongkar jasa joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Diketahui, sindikat yang didalangi sejumlah dokter hingga ASN ini telah beroperasi selama 9 tahun.
Baca Juga: Demi Tambahan Penghasilan, Perempuan Penjual Roti di Surabaya Kasus Narkoba Lagi
"Hal pertama adalah kita apresiasi tindak tegas dari Polrestabes Surabaya, terlebih hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus berkoordinasi dengan Kemdiktisaintek untuk menindaklanjuti status 114 peserta yang telah lolos secara curang,” kata Senator Jatim itu, Senin (11/5/2026).
Ning Lia, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa terbongkarnya sindikat joki UTBK ini menjadi ruang pelecut kejujuran bagi generasi muda.
"Momen terbongkarnya sindikat joki UTBK ini sebagai momentum pengingat bagi kita semua, terutama generasi muda bahwa kecurangan pasti terbongkar. Maka dari itu, apapun tujuan kita, maka harus selalu dilakukan proses secara jujur dan menjaga integritas. Karena yang namanya kecurangan, kalaupun berhasil pada tahap tertentu, pasti akan menemui kesulitan di tahapan berikutnya," paparnya.
Ning Lia tak menampik pentingnya kolaborasi semua pihak agar tidak ada lagi potensi kecurangan dalam UTBK.
Baca Juga: Bisnis Narkoba Belum Dimulai, Pengedar Ekstasi di Surabaya Keburu Diringkus
“Kolaborasi semua pihak dibutuhkan. Bagaimana kepolisian dilibatkan dalam proses pengawasan UTBK, dan bagaimana kampus penerima mahasiswa, juga memiliki kewenangan memberikan punishment jika di kemudian hari menemukan mahasiswa yang masuk di kampusnya melalui jalur kecurangan tadi,” tegasnya.
Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan sebelumnya mengungkapkan bahwa sindikat ini memiliki struktur yang rapi hingga mematok tarif fantastis, yakni Rp700 Juta bagi peserta yang ingin lolos ke perguruan tinggi favorit, terutama Fakultas Kedokteran.
Menariknya, modus tersebut akhirnya terbongkar gara-gara sang joki tidak bisa Bahasa Madura, saat menjalankan test di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pada 21 April 2026.
Baca Juga: Demi Upah Rp50-100 Ribu, Kurir Paket di Surabaya Rela Melawan Hukum
Kecurigaan bermula saat pengawas melihat ketidaksesuaian foto pada ijazah dengan wajah peserta berinisial HRS yang mengaku sebagai HER asal Sumenep.
Kecurigaan semakin menguat saat pengawas yang berasal dari Madura mencoba mengajak bicara pelaku menggunakan bahasa Madura.
"Kebetulan saat itu salah satu pengawas juga orang Madura, tapi setelah tersangka ditanya pakai bahasa Madura, dia tidak bisa menjawab," kata Luthfie, Kamis (7/5/2026).
Editor : Zein Muhammad