Bisnis Keterampilan Rajut dari Candipari, Perjalanan Ernawati Menembus Pasar Internasional
- Penulis : Ariyanto
- | Minggu, 19 Jul 2026 16:59 WIB
selalu.id - Di rumah sederhananya di Desa Candipari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Ernawati tekun merajut benang menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Berawal dari satu alat rajut pada 2016, kini hasil karyanya tidak hanya dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau pasar luar negeri.
Perjalanan usahanya tidak ditempuh secara instan. Saat pertama merintis usaha, seluruh proses dikerjakan sendiri, mulai dari membuat produk, mencari pelanggan, hingga mengemas pesanan.
Baca Juga: Galeri dan Klinik UMKM, Andalan Sidoarjo Dongkrak Daya Saing Pelaku Usaha
“Awalnya saya menawarkan produk ke teman-teman dan reseller. Saya juga sering mengikuti seminar serta pelatihan UMKM yang diselenggarakan dinas terkait,” ujarnya.
Pada masa awal, pemasaran produk masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Sejumlah reseller turut membantu memasarkan hasil rajutannya melalui sistem komisi. Di tengah berbagai keterbatasan, Ernawati memilih terus belajar untuk mengembangkan usahanya.
Ia aktif mengikuti berbagai pelatihan dan pembinaan UMKM guna menambah wawasan terkait pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan usaha. Pengetahuan yang diperoleh kemudian diterapkan secara bertahap dalam bisnis yang dirintis dari rumah.
Perkembangan usaha mulai terasa setelah pandemi Covid-19. Di saat banyak pelaku usaha berupaya bertahan, permintaan terhadap produk rajut buatannya justru meningkat. Kondisi tersebut mendorong Ernawati melibatkan warga sekitar dalam proses produksi.
Produk Erna Rajut tersedia di Gerai Uniqlo Waru, Sidoarjo.
Kini, usahanya didukung tiga pekerja tetap. Ketika pesanan meningkat, tenaga tambahan juga dilibatkan untuk memastikan seluruh permintaan dapat diselesaikan tepat waktu.
Beragam produk rajut dihasilkan dari tangan-tangan terampil para perajin. Mulai dari gantungan kunci, tas, dompet, boneka, sandal, rompi, hingga sepatu rajut. Di antara berbagai produk tersebut, gantungan kunci menjadi salah satu yang paling banyak diminati konsumen.
Seluruh proses produksi masih dilakukan secara manual dengan mengandalkan keterampilan tangan para perajin. Ketelitian dalam setiap tahapan pengerjaan menjadi salah satu nilai yang dipertahankan hingga saat ini.
Pemanfaatan teknologi digital turut membuka peluang pasar yang lebih luas. Melalui marketplace dan media sosial, produk Erna Rajut mulai dikenal di berbagai daerah. Pesanan pertama dari luar wilayah diterima pada 2019 dari Tangerang.
Sejak saat itu, jaringan pemasaran terus berkembang. Produk rajut asal Candipari mulai dikirim ke berbagai daerah, di antaranya Surabaya, Jombang, Bali, Batam, Sedati, Gedangan, dan sejumlah kota lainnya.
Baca Juga: Grebeg Suro Sidoarjo 2026, PKL Bersyukur Tidak Dipungut Biaya Lapak
Salah satu capaian yang membekas bagi Ernawati adalah ketika produk Erna Rajut lolos kurasi dan ditampilkan di area promosi UMKM di gerai Uniqlo Waru. Kesempatan tersebut diperoleh setelah ia mengetahui informasi pendaftaran melalui media sosial Dinas Koperasi Kabupaten Sidoarjo.
“Saya melihat informasi dari Instagram Dinas Koperasi, kemudian mendaftar dan lolos kurasi. Sekarang produk saya dipajang di Uniqlo Waru melalui sistem display yang dilengkapi barcode untuk pemesanan langsung,” jelasnya.
Bagi Ernawati, kesempatan tersebut menjadi sarana promosi yang membantu memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.
Perlahan, jangkauan pasarnya juga meluas hingga luar negeri. Produk Erna Rajut pernah dikirim ke Belanda dan Rusia melalui jaringan pemasaran yang terhubung dengan Bali. Saat ini, ia juga tengah mempersiapkan pengiriman produk ke Malaysia untuk kebutuhan industri garmen.
Meski telah menjangkau pasar internasional, Ernawati tetap mempertahankan prinsip yang sama sejak awal merintis usaha, yakni bekerja dengan sabar, telaten, dan terus belajar mengikuti perkembangan pasar.
Tidak hanya fokus mengembangkan usaha, ia juga aktif berbagi keterampilan. Setiap hari Senin, Ernawati mengajar di SLBN Juwet Kenongo Porong selama dua jam. Kegiatan yang sebelumnya berbayar itu kini dijalankan sebagai bentuk pengabdian sosial.
Baca Juga: Sensus Ekonomi jadi Penentu Program UMKM Surabaya
Baginya, keterampilan merajut tidak hanya dapat menjadi sumber penghasilan, tetapi juga membuka peluang bagi orang lain untuk belajar dan mandiri.
Komitmennya terhadap dunia rajut juga diwujudkan melalui keterlibatan dalam Asosiasi Rajut Indonesia (ARI) Koordinator Daerah Sidoarjo. Bersama komunitas tersebut, ia pernah berpartisipasi dalam kegiatan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) melalui karya rajut bertema Merah Putih.
Di tengah berbagai pencapaian yang diraih, Ernawati menilai tantangan terbesar yang dihadapi banyak pelaku UMKM saat ini bukan semata persoalan modal usaha, melainkan perluasan akses promosi dan pemasaran.
“Kalau bantuan modal sekarang sudah banyak programnya. Yang paling dibutuhkan UMKM seperti kami adalah dukungan pemasaran agar produk semakin dikenal dan pasarnya semakin luas,” tuturnya.
Dari usaha rumahan yang dimulai dengan satu alat rajut, Ernawati kini mampu memperluas pasar hingga luar negeri sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Perjalanannya menjadi contoh bagaimana ketekunan, kemauan belajar, dan kemampuan memanfaatkan peluang dapat mendorong usaha kecil tumbuh dan berkembang.
Editor : Redaksi