Selasa, 21 Jul 2026 19:07 WIB

Defisit Mengintai, APBD Jatim 2026 Turun Rp2,8 Triliun akibat Pemangkasan TKD

selalu.id - Pendapatan daerah Provinsi Jawa Timur pada Rancangan APBD 2026 diperkirakan turun Rp2,8 triliun menjadi Rp26,3 triliun. Penurunan ini disebabkan pemangkasan Transfer ke Daerah dari pemerintah pusat yang meliputi Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Dana Bagi Hasil.

 

Baca Juga: DPRD Jatim Setujui Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025, Berikut Catatan Penting untuk Pemprov

Badan Anggaran DPRD Jawa Timur menyebut target pembangunan harus tetap mengacu pada RPJMD 2025 sampai 2029 dan RKPD 2026. Juru bicara Banggar Erick Komala menyatakan telah disepakati kenaikan Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp215 miliar. Kenaikan ini berasal dari pajak daerah, retribusi, dan pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.

 

“Kita perlu mengubah pendekatan pengelolaan PAD, bukan hanya mengejar pajak, tapi memperbaiki aset dan BUMD agar lebih produktif,” ujarnya.

 

PAD Jawa Timur pada 2026 diproyeksikan mencapai Rp17,45 triliun atau 66 persen dari total pendapatan daerah. Banggar mengingatkan pertumbuhan PAD yang hanya naik 2 persen masih di bawah kategori moderat 5 persen sehingga perlu kebijakan reformatif dalam pengelolaan aset dan kekayaan daerah.

 

Baca Juga: DPRD Jatim Desak Pemprov Perhatikan Kesejahteraan Perawat

Penurunan TKD sebesar 24 persen menuntut efisiensi dan inovasi strategi fiskal. Banggar mendukung langkah Gubernur Jawa Timur untuk memperjuangkan kenaikan DBH Cukai Hasil Tembakau dari 3 persen menjadi 5 persen mengingat besarnya kontribusi Jawa Timur terhadap penerimaan cukai nasional.

 

Banggar merekomendasikan optimalisasi digitalisasi pajak, penguatan pengelolaan aset daerah oleh BPKAD, dan revitalisasi BUMD agar lebih efisien serta menghasilkan dividen lebih besar. Belanja daerah 2026 ditetapkan Rp27,21 triliun dengan dominasi belanja operasi sebesar 75 persen dari total belanja.

 

Baca Juga: Wapres Gibran Puji Perekonomian Jatim

APBD 2026 diperkirakan defisit Rp916,7 miliar. Defisit ini ditutup dengan pembiayaan netto dari perkiraan SiLPA 2025 sebesar Rp925 miliar. Banggar mengingatkan agar porsi belanja operasi tidak menambah inefisiensi struktural. Belanja modal diminta diarahkan pada proyek prioritas di wilayah yang membutuhkan.

 

Penataan manajemen kas dan disiplin penyerapan anggaran ikut menjadi perhatian. Banggar meminta TAPD memperkuat sistem e Monev, meningkatkan koordinasi antar OPD, dan memastikan realisasi kegiatan tepat waktu dan tepat mutu. “Ke depan, SiLPA jangan dijadikan sandaran untuk menutup defisit, tapi indikator efisiensi dan efektivitas pelaksanaan APBD,” katanya.

Editor : Ading
Berita Terbaru

Komitmen Pemkab Jember untuk Pesantren: Dari Beasiswa Internasional, Insentif Guru Ngaji hingga Layanan Kesehatan Gratis

Gus Fawait juga umumkan pembentukan Forum Komunikasi Pondok Pesantren sebagai wadah resmi mempererat koordinasi antara Pemkab Jember dengan seluruh ponpes.

Gebrakan Menko AHY di Benoa: Relokasi Kapal Perikanan demi Terwujudnya Marina District

Nantinya, Marina District akan mampu menampung hingga 180 unit yacht dengan ukuran maksimal panjang 90 meter. 

Nenek di Mojokerto jadi Korban Perampasan, Kalung Emas 7 Gram Raib

Saat beraksi, pelaku berpura-pura memberi makanan kepada korban, kemudian langsung merampas kalung emas yang dipakai korban. 

Puluhan Motor dan Truk Terjaring Razia di Mojokerto, Banyak yang Belum Bayar Pajak

Razia ini digelar karena jumlah warga yang membayar pajak kendaraan bermotor dan memperpanjang uji berkala kendaraan atau KIR mengalami penurunan.

Pemkab Sidoarjo Dorong Perbaikan Sekolah Terpencil dan Usulan Tunjangan Khusus Guru Pesisir

Pemkab Sidoarjo menilai seluruh anak berhak memperoleh fasilitas pendidikan yang aman dan nyaman tanpa membedakan lokasi tempat tinggal mereka.

MTQ ke-32 Kabupaten Sidoarjo Resmi Ditutup, Berikut Daftar Juaranya

Fenny mengatakan lomba ini sejalan dengan upaya mencetak generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki karakter dan akhlak yang baik.