Jumat, 23 Okt 2026 04:49 WIB

Fenomena Gunung di Indonesia Erupsi Bersamaan, Mbah Rono Bilang Begini

Gunung Anak Krakatau ketika meletus. (Dok. iStock/Istimewa).
Gunung Anak Krakatau ketika meletus. (Dok. iStock/Istimewa).

selalu.id - Pakar Vulkanologi nasional, Surono atau yang akrab disapa Mbah Rono, menyebut erosi dan erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai siklus alamiah yang tak bisa dihindari.

Usai diterjang longsor hebat pada 2018 silam, gunung api muda ini terus berupaya "menyembuhkan diri" dengan membangun kembali struktur puncaknya melalui rentetan letusan.

Baca Juga: Kawah Mirip Telur Ceplok Muncul di Gunung Anak Krakatau, Pertanda Apa? Ini Kata Ahli

Mbah Rono menjelaskan, intensitas letusan yang terjadi belakangan ini merupakan modal bagi Anak Krakatau untuk membesarkan volume fisiknya.

Namun, pertumbuhan ini membawa konsekuensi geologis tersendiri. Semakin tinggi dan bongsor fisik Anak Krakatau, maka magmatic chamber atau kantong magma di bawahnya akan makin membesar, yang secara otomatis meningkatkan skala potensi letusan di masa depan.

"Harus lepas, mengeluarkan material baru, jatuh di sekitar tubuhnya maka si Anak Krakatau itu semakin besar dan semakin tinggi. Nah, abu-abu halus yang memang tersebar tinggi itu konsekuensi dari setiap letusan," ujar Mbah Rono dalam keterangannya, Senin (7/9/2026).

Penyebaran debu vulkanik ini menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan nasional. Mbah Rono mengingatkan bahwa fasilitas penerbangan vital seperti Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Raden Inten diprediksi masih akan berulang kali terdampak gangguan abu vulkanik di kemudian hari.

Menjawab kekhawatiran publik soal maraknya letusan gunung api lain yang terjadi secara bersamaan di Indonesia, seperti Semeru, Merapi, hingga Gunung Ibu, Mbah Rono menegaskan bahwa fenomena tersebut murni faktor kebetulan.

Setiap gunung api di Nusantara memiliki kantong magma dan jalur tekanan geologi yang independen satu sama lain.

Baca Juga: Rombongan Jurnalis Hilang Kontak saat Hendak Liputan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Status Siaga, Erupsi Menerus Mulai Reda

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan dinamika terbaru dari kawah Anak Krakatau.

Setelah sempat mengamuk dengan episode erupsi menerus selama 25 jam sejak Jumat (4/9/2026) malam, pola letusan gunung api ini kini dilaporkan mulai melandai.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa sejak Minggu (6/9/2026) dini hari, karakter erupsi kembali didominasi oleh tipe strombolian atau letusan-letusan ringan yang menyemburkan lontaran batu pijar serta kolom abu berwarna hitam.

Baca Juga: Daftar 6 Gunung di Indonesia yang Kini Berstatus Siaga

"Kembalinya erupsi strombolian yang merupakan karakteristik khas Gunung Anak Krakatau, untuk sementara diinterpretasikan sebagai akhir dari episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut," jelas Lana Saria dalam keterangan resminya, Senin (7/9/2026).

Meski pola erupsinya kembali melandai, pemantauan instrumental menunjukkan tingkat kegempaan di dalam perut gunung masih sangat tinggi. Atas dasar itu, otoritas resmi masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga).

Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras mendekat atau beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari pusat kawah.

Pemerintah Daerah di Banten dan Lampung juga diimbau untuk terus berpedoman pada Peta Kawasan Rawan Bencana serta rekomendasi teknis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dalam mengambil kebijakan keselamatan di wilayah masing-masing.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Pabrik Daur Ulang Ban Bekas Dekat SPBU di Mojokerto Terbakar

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih diselidiki pihak kepolisian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian ditaksir cukup besar.

Polda Jatim Amankan 11 Orang Diduga Pembuat Onar saat Demo di Grahadi Surabaya

Dalam penangkapan itu, polisi turut menyita barang bukti cairan tiner, minuman keras jenis arak, senjata keling (knuckle), hingga beberapa telepon seluler.

7.000 Hektare Hutan dan Lahan di Indonesia Masih Terbakar, Ini Daftar Wilayahnya

Selain karhutla, BNPB mencatat 2.188 bencana alam melanda Indonesia hingga Oktober 2026. Dari kekeringan, gempa, erupsi gunung, hingga cuaca ekstrem.

Banyak Santri Terganjal Aturan Usia 16 Tahun, DPRD Surabaya Desak Revisi Juknis Beasiswa

Muhammad Saifuddin mengungkapkan, dari target awal 3.000 santri penerima beasiswa pada 2026, baru sekitar 700 santri yang terealisasi.

Kanwil Kemenag Jatim Luncurkan Aplikasi El-Santri pada Hari Santri 2026, Ini Kegunaannya

Syaikhul Hadi menekankan pentingnya sikap adaptif dan inovatif agar ilmu yang dimiliki mampu menjawab tantangan zaman. 

Soal Isu Kredit Fiktif Rp690 Juta, BRI Nganjuk Tegaskan Sesuai Prosedur

BRI Nganjuk juga telah memanggil pihak keluarga terkait untuk duduk bersama. Ruang mediasi dibuka guna mencari jalan keluar terbaik sesuai regulasi.