Pemkot Surabaya Jadi Pengumpul Zakat ASN Terbesar, Capai Rp4 Miliar Tiap Bulan
- Penulis : Ade Resty
- | Rabu, 15 Okt 2025 13:55 WIB
selalu.id – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menerima penghargaan sebagai Kepala Daerah Pengumpul Zakat Terbanyak di Jawa Timur dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jatim, Rabu (8/10/2025).
Baca Juga: DPRD Surabaya Desak Evaluasi Total OPD Buntut Kasus Pungli Rekrutmen Kepegawaian
Penghargaan tersebut diberikan atas capaian Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang berhasil menghimpun zakat dari Aparatur Sipil Negara (ASN) sebesar Rp3 miliar hingga Rp4 miliar setiap bulan.
Kepala Bagian Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Bapemkesra) Kota Surabaya, Arief Boediarto, menyebut penghargaan ini menjadi bukti komitmen kolektif ASN dan Pemkot dalam menunaikan kewajiban zakat secara rutin melalui Baznas.
“Penghargaan ini adalah cerminan konsistensi Pak Wali Kota dalam mendorong seluruh ASN untuk menunaikan zakatnya. Gerakan ini sudah menjadi budaya baru di birokrasi Surabaya, di mana semangat membantu sesama tumbuh dari kesadaran pribadi,” ujar Arief, Jumat (10/10/2025).
Baca Juga: Oknum Satpol PP Surabaya jadi Calo Rekrutmen Pegawai Pemkot, Tarifnya Capai Rp50 Juta
Arief menjelaskan, dana zakat yang dihimpun Baznas Kota Surabaya disalurkan untuk berbagai program sosial seperti bantuan bagi fakir miskin, perbaikan rumah tidak layak huni, penanganan stunting, serta beasiswa bagi anak kurang mampu.
Baznas juga menyalurkan zakat untuk program Tebus Ijazah agar anak-anak Surabaya tidak putus sekolah karena kendala biaya atau administrasi.
Baca Juga: Air PDAM Surabaya Keruh dan Berbusa di Belasan Kawasan, Warga Keluhkan Bau Kimia
Menurut Arief, koordinasi cepat antara Baznas dan Pemkot menjadi faktor penting keberhasilan program zakat di Surabaya. Dalam situasi mendesak, bantuan dapat segera disalurkan di luar mekanisme APBD setelah berkoordinasi dengan pemerintah kota.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa zakat bisa menjadi instrumen efektif dalam mengatasi masalah sosial. Bagi Pak Wali Kota, zakat bukan sekadar kewajiban agama, tapi bentuk nyata kehadiran pemerintah di tengah rakyat,” tegas Arief.
Editor : Ading