selalu.id - Karang Taruna (Kartar) Surabaya ternyata memilki tempat shelter khusus anak yang mendapat perlakuan kekerasan seksual maupun pengaruh kenakalan remaja.
Shelter anak tersebut yakni sebuah rumah pribadi milik salah satu Anggota Kartar di bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) yang terletak di kawasan Kecamatan Tambaksari.
Baca juga: Pasca Mediasi Gagal, Kasus Dugaan Pencabulan Anak di Sukomanunggal Masuk Penyidikan
Namun, shelter tersebut tidak bisa menampung banyak anak. Sebab, pihak Karang Taruna sendiri masih keterbatasan swadaya dan anggaran pribadi.
Meski keterbatasan Swadaya, Kartar juga bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana ( DP3AP2KB ) Suranaya terkait psikolog untuk membantu psikis anak-anak yang ada di Shelter tersebut.
"Di shelter Karang Taruna ini, kita menampung beberapa anak punya masalah, baik hukum dan keluarganya. Sebelumnya, sempat ada anak korban kekerasan,"kata Fuad, ditemui saat berkunjung ke Shelter Kartar, Selasa (6/12/2022).
Saat ini, Kartar menampung sebanyak tiga anak, salah satunya gadis 12 tahun berisinial T yang sempat ikut gengster kelompok remaja. T pernah ditangkap oleh Polisi karena ketahuan mencuri sepeda motor milik warga. Sehingga, ditampung di Shelter Kartar.
"Kebetulan T ditangkap oleh Polsek Sawahan, karena polisi tak punya tempat menampung T. Sebab kan dipenjara pasti minimal umur 17 tahun ke atas. Akhirnya, T dititipkan polsek kesini,"ujar Fuad.
Saat ditemui di Shelter Kartar, T sempat bercerita awal dirinya pernah ikut kelompok gangster hingga disuruh mencuri sepeda motor. Bahkan T diancam dibunuh oleh ketua gengnya.
"Dia bilangnya gak nyuri, disuruh sama ketua geng R namanya, aku pikir saat itu disuruh ambil motor punya R, ternyata milik warga,"kata T kepada selalu.id.
T mengaku telah mencuri dua motor warga, yang pertama di Kembang Kuning telah dijual oleh ketua geng R. Kemudian, kedua di Wonokitri mencuri bersama temannya A, apesnya T dan A saat itu kepergok warga dan dibawa ke Polsek Sawahan.
Awalnya, T dan A tidak mau mencuri sepeda motor tersebut namun diancam R akan dibunuh dan ditusuk. Kemudian, mereka disuruh ambil sepeda warga yang tidak dikunci stir dan nuntun motor tersebut untuk dikasih ke R.
Baca juga: Aspirasi Dasa Cita Disampaikan Karang Taruna, Wali Kota Eri Langsung Teruskan ke Program 2026
"Dia bilang gini, ayo jupuk en iku sepedae nek gak gelem tak jojoh iki kon (ayo ambil itu motornya, kalau tidak mau tak tusuk ini kamu),"kata T mempraktekkan ancaman R.
"Kalau gak mau nyuri mau dicelurit sama ketua geng. Sempat A (temannya T) mau dipukuli celurit,"ungkap T.
Awal mula T ikut gang tersebut baru sekitar dua minggu yang lalu. T mengaku sebelumnya dirinya kabur dari rumah. Sebab, sering dimarahi orang tuanya karena jarang sekolah.
Karena kabur dari rumah dan bergabung dengan gengnya. T menceritakan kesehariannya di sebuah tempat Pos yang terbengkalai di Kawasan Rolak, kecamatan Krembangan.
Disana T tinggal bersama 15 remaja lainnya sekaligus tempat itu dibuat nongkrong. Untuk makan, mereka ngamen mulai pukul 11.00 WIB, siang hingga 18.00 WIB dibagi tiga kelompok. Hasil ngamen tersebut dibuat makan bersama mereka.
"Anak-anak tidur disitu dan dibuat nongkrong, jumlah 15an, ceweknya ada 15. Kita ngamen buat makan, sehari bisa dapat Rp 250 ribu,"tutur T.
Baca juga: Balap Liar dan Geng Motor di Surabaya Menurun Drastis, Ini Penyebabnya
"Ngamen itu biasanya di daerah Gresik, ya nggandol (menumpang kendaraan yang lewat,"lanjutnya.
Sejak ditangkap Polisi, T mengaku tak ingin kembali ditempat itu dan tidak mau lagi bergabung dengan geng tersebut. Meski sementara masih menjalani proses pidana dari polisi, T mengaku nyaman di shelter Kartar tersebut.
T yang ingin bercita-cita menjadi tentara tersebut dibimbing oleh pemuda karang taruna dengan melalukan aktivitas sehari-hari, mulai memasak, bermain, hingga menjalani konseling.
"Setelah dari sini Pingin pulang ke rumah, Pengan sekolah," ungkap T.
Nantinya T yang saat ini masih sekolah dasar (SD) kelas 6 akan direkomendasikan ke SMP Negeri. T saat ditemui anggota Kartar di Polsek cenderung murung tidak mau bicara dan terlihat ketakutan. Kini semenjak di Shelter Kartar, T terlihat ceria dan mulai berani bercerita.
"Nanti yang sekolah dia (T) kan sudah sekolah lagi. Ia kan kelas 6 mau ke SMP, nanti juga pasti kami koordinasi sama ortunya, gimana SMP nya. Apakah nanti kembali sama ortunya,"tutup Ketua Kartar Fuad. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi