selalu.id – Aktivitas prostitusi di kawasan eks lokalisasi Moroseneng, Sememi Jaya II, Benowo, Surabaya, masih berlangsung meski secara resmi sudah ditutup. Sejumlah pekerja seks komersial (PSK) masih bertahan mencari penghidupan di wisma-wisma yang beroperasi secara terselubung.
Baca juga: Pelaku Prostitusi dari Luar Surabaya Dipulangkan, Wali Kota Eri: Dolly Aman
Salah satunya adalah Siska (26, nama samaran), seorang janda asal Bandung yang sudah dua bulan tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3x4 meter di kawasan tersebut. Kamar itu sekaligus menjadi tempat ia melayani tamu.
“Saya terpaksa melakukan ini semua demi anak saya,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).
Siska bercerita sebelumnya bekerja sebagai pemandu karaoke, namun penghasilan yang tidak menentu membuatnya menerima tawaran teman untuk masuk ke Moroseneng. Ia kini bisa melayani 4–6 pria setiap malam, dengan tarif Rp250 ribu sekali kencan. Dari jumlah itu, Rp100 ribu disetorkan ke mucikari, sisanya menjadi penghasilannya. Jika ramai, ia bisa mendapat Rp750 ribu per malam atau sekitar Rp6 juta per minggu.
“Jauh lebih besar daripada kerja pabrik. Kerjanya juga tidak berat, hanya menunggu tamu di kamar,” katanya.
Baca juga: Dari Moroseneng ke Dolly, Cak Yebe Beberkan Pusat Prostitusi Surabaya
Meski demikian, pekerjaan itu penuh risiko. Beberapa tamu menolak menggunakan alat kontrasepsi atau berperilaku kasar saat mabuk. Siska mengaku tetap merasa lebih aman di lokalisasi dibanding mencari pelanggan lewat aplikasi.
“Kalau di aplikasi, kita tidak tahu siapa yang akan ditemui. Kalau di sini setidaknya lebih aman,” jelasnya.
Baca juga: Dua Mucikari Ditangkap, DPRD Sebut Pemkot Surabaya Gagal Awasi Titik-titik Prostitusi
Ia menambahkan hanya berani menerima ajakan kencan di luar wisma dari pelanggan lama yang sudah dikenal. Hal itu dilakukan untuk menghindari tindak kriminal.
“Yang penting bisa makan, bisa kirim uang buat orang rumah,” pungkasnya.
Editor : Ading