Kamis, 04 Jun 2026 07:14 WIB

Muncul Gerakan Menangkan Bumbung Kosong, Pengamat: Masyarakat Sudah Cerdas

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 30 Agu 2024 18:30 WIB
Direktur Eksekutif Republic Research, Lasiono
Direktur Eksekutif Republic Research, Lasiono

selalu.id - Fenomena kotak kosong disejumlah daerah pada Pilkada serentak 2024 membuat masyarakat tidak mempunyai pilihan calon pemimpin dan terjadinya krisis demokrasi.

Khususnya, di Jawa Timur, sejumlah daerah memunculkan lawan kotak kosong atau disebut bumbung kosong. Seperti di pilkada di Gresik yakni bakal paslon Gus Yani-dr Alif. Kemudian, di Bojonegoro yakni Setyo Wahono-Nurul Azizah. Lalu, di Surabaya, Eri Cahyadi-Armuji.

Baca Juga: Jawaban Pemkot Surabaya soal Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Keputih

Menanggapi fenomena kotak kosong, Direktur Eksekutif Republic Research, Lasiono mengungkapkan pasca Pemilu Pilpres bahwa masyarakat berharap kembali pilar-pilar demokrasi. Namun, nyatanya tidak terjadi di Pilkada.

"Aku melihat (fenomena bumbung kosong ini) ada beberapa Prespektif. Ya salah satunya kepentingan kekuasaan," Lasiono, kepada selalu.id, Jumat (30/8/2024).

Menurutnya, bumbung kosong mencerminkan kegagalan partai politik dalam membangun kepercayaan dan elektabilitas di mata masyarakat.

"Artinya, kekuasaan bukan hanya soal menang atau kalah. Tetapi, kesan kemampuan membangun kepercayaan dan simpati masyarakat," jelasnya.

Lasiono menerangkan apabila partai- partai politik tidak percaya pada kemampuan elektabilitasnya. Maka, parpol enggan mengusung calon yang menunjukkan kepercayaan diri. Bahkan, ini menunjukkan kegagalan dan fungsi parpol.

"Partai politik itu kan selalu siap dengan calon yang diusung, namun realitas politik tahun ini karena banyak partai yang tidak siap," ucapnya.

"Partai politik tidak mampu melakukan seleksi dan kaderisasi yang efektif. Itu yang terjadi, fenomena seperti itu (bumbung kosong),” tambahnya.

Baca Juga: SIER Bantu Pelajar Tebus Ijazah yang Tertahan, Aksi Nyata Dukung Dunia Pendidikan

Selain itu, aktivis 98 ini menilai bumbung kosong ini juga membuat hilangnya alternatif pilihan untuk masyarakat.

"Jadi masyarakat tidak diberikan calon alternatif, karena kontraknya gini, demokrasi kan antara manusia dan manusia bukan manusia dengan kotak kosong," tuturnya.

Maka, lanjut Lasiono, tidak terjadi dialog adu gagasan. Ketika calon melawan kotak kosong, sudah dipastikan masyarakat kehilangan kesempatan untuk memilih.

"Ini demokrasi yang tidak sehat, kalau ini yang terjadi ini tidak sehat demokrasi ini," tegasnya.

Baca Juga: Maling yang Sering Bobol Rumah di Kawasan Semampir Surabaya Ditangkap, Ini Namanya

Khusus bumbung kosong di Surabaya, tambah Lasiono, ia menilai partai-partai politik tidak mampu mencetak kader sesuai fungsinya. Menurutnya kredibilitas partai diragukan dalam kaderisasi.

"Sampai saat ini kan partai-partai enggak mampu memunculkan calon (Kaderisasi) terbaiknya. Ini kan pertaruhan," terangnya.

Lasiono menilai masyarakat sekarang sudah cerdas menentukan pilihannya. Ia menyebut masyarakat Surabaya bisa menilai pasangan Eri Cahyadi-Armuji melalui rekam jejak kinerja.

"Masyarakat sekarang sudah cerdas, tinggal menilai apakah Eri selama lima tahun ini sesuai dengan keinginan masyarakat Surabaya atau tidak. Masyarakat yang akan menentukan pilihannya," tutupnya.

Editor : Arif Ardianto
Berita Terbaru

Beranikah Pemkot Surabaya Tutup Gion Spa, Tempat yang Jadi Eksploitasi Anak?

Fathoni mengatakan predikat Kota Layak Anak yang selama ini disandang Surabaya harus dibuktikan melalui tindakan tegas ketika terjadi kasus eksploitasi anak.

Maling SPPG Itu Bernama Dadan Hindayana

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman membenarkan salah satu pemicu Dadan dicopot dari Kepala BGN adalah dugaan jual beli SPPG.

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Ini Dugaan Kasusnya

Saat ditahan, Dadan mengenakan rompi merah muda dengan dikawal penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus Kejagung.

Foto: Menikmati Rintik Hujan hingga Kuliner di Jalan Hefang Hangzhou

Sore ini, Rabu, 3 Juni 2026, Jalanan Hefang atau Qinghefang terpantau diguyur hujan. Suasananya syahdu.

Respons Santai Istana usai Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung

Presiden Prabowo sebelumnya melakukan pergantian kepemimpinan di BGN sebagai bagian dari evaluasi dan penguatan pelaksanaan program prioritas pemerintah.

Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Antara Bayang-bayang Kekuasaan Eksekutif

Masalah kebijakan luar negeri yang dianggap menyimpang ini, menurut sejumlah pengamat, bermuara pada lemahnya sistem pengawasan dalam tata pemerintahan.