Krisis Air Bersih, Warga Kunjorowesi Mojokerto Bergantung Sisa Air Hujan
- Penulis : Achmad Supriyadi
- | Sabtu, 18 Jul 2026 21:20 WIB
selalu.id - Sebanyak 1499 kepala keluarga di Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan sejak empat bulan terakhir atau akhir Maret lalu.
Terdapat dua dusun yang mengalami kekeringan di desa yang berada di lereng Gunung Penanggungan. Dua dusun tersebut yakni Dusun Kunjoro dan Dusun Kandangan.
Baca Juga: Mikroplastik Ditemukan pada Air Hujan Surabaya, Pakis Gelora Tertinggi
Akibat krisis air bersih ini, warga Dusun Kandangan harus bergantung pada sisa air hujan yang disimpan di kolam penampungan air atau tandon yang disiapkan di masing-masing rumah warga.
Salah satu warga Dusun Kandangan Mahfud (43), mengatakan kekeringan atau krisis air bersih sudah melanda sejak empat bulan terakhir.
"Sudah hampir empat bulan sejak April. Lingkungan sini memang kalau masalah air bersih tiap tahun tidak ada. Di sini ada sekitar 85 kepala keluarga," kata Mahfud, Sabtu (18/7/2026).
Ia menambahkan, saat ini warga bergantung dari sisa air hujan yang ditampung di tempat penampungan di rumah-rumah warga dan sudah hampir habis.
"Air yang ditampung itu hanya bisa digunakan satu bulan saja dan tidak mencukupi. Ada pipa bantuan dari desa atau yang mengaliri dari Trawas itu menunggu giliran. Ada 12 rukun tetangga (RT) jadi 12 RT itu dibagi tiap hari atau bergilir. Kebetulan sini RT 12 jadi menunggu 12 hari dan hanya bisa dipakai dua hari atau paling lama satu minggu," ungkapnya.
Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Air Warga Kawasan Bromo, SIER Bangun Pipanisasi di Desa Tosari
Menurut Mahfud, guna mencukupi air bersih digunakan untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) serta minum warga harus mengambil ke tempat lain tepatnya di Desa Wonosunyo, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
"Ambil airnya jauh sekitar tujuh kilometer di area Sumber Tetek atau istilahnya gambar itu desa lain, sudah desa lain juga kabupaten ikut Pasuruan itu ambilnya pakai sepeda motor itu bagi yang punya sepeda. Kalau yang tidak punya sepeda artinya sewa pikap nanti orang-orang ada 10 orang ongkosnya bagi-bagi," paparnya.
Masih kata Mahfud, pernah dicoba untuk mengebor dan mencari sumber mata air sebanyak dua kali tetapi itu gagal. Bahkan sudah mendatangkan para ahli untuk mengebor namun gagal.
Kini Mahfud dan puluhan warga lainnya berharap agar pihak terkait sepert BPBD Kabupaten Mojokerto segera mengirimkan pasokan air bersih.
Baca Juga: Krisis Air Bersih di Singosari Berakhir, SPAM Pemprov Jatim Resmi Beroperasi
"Mengandalkan air hujan dan bantuan, kalau kemarau hanya mengandalkan air hujan saja. Jadi kamk berharap kepada bpbd atau dinas-dinad terkait yang ingin membantu air bersih, sementara tahun ini sudah hampir empat bulan kekeringan disini itu belum dapat bantuan atau belum datang," pungkasnya.
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Mojokerto, setidaknya ada tiga desa yang terdampak kekeringan berada di kaki Gunung Penanggungan, meliputi Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, terdapat 1 499 KK atau 3.053 jiwa terdampak.
Masih di kecamatan yang sama, Desa Manduro Manggung Gajah terdampak sebanyak 774 KK atau 2.086 jiwa. Sedangkan di Kecamatan Trawas, Desa Duyung mengalami dampak pada 503 KK atau 1.564 jiwa.
Editor : RedaksiURL : https://selalu.id/news-14691-krisis-air-bersih-warga-kunjorowesi-mojokerto-bergantung-sisa-air-hujan
