Kamis, 17 Sep 2026 07:28 WIB

Wali Kota Eri Beraksi Nyemplung ke Gorong-gorong Cek Penyebab Banjir di Surabaya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 19 Jul 2022 12:32 WIB
Wali Kota Eri Cahyadi saat menyusuri gorong-gorong di Surabaya
Wali Kota Eri Cahyadi saat menyusuri gorong-gorong di Surabaya

selalu.id - Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, melakukan pengecekan sejumlah lokasi pekerjaan konektivitas saluran atau box culvert pada Senin (18/7/2022) pagi.

Pengecekan itu dilakukan disejumlah saluran yakni di Jalan Embong Kenongo, Jalan Simpang Pojok, Jalan Simpang Dukuh, dan Jalan Praban Surabaya.

Baca Juga: Dugaan Jual Beli Lapak di SWK Taman Prestasi Surabaya, Ini Pengakuan Pedagang Senior

Eri Cahyadi mengatakan, sejumlah pekerjaan saluran yang tengah dikerjakan bertujuan untuk mengatasi genangan di pusat kota.

Mulai dari kawasan Jalan Panglima Sudirman, Jalan Basuki Rachmat hingga Jalan Gubernur Suryo Surabaya.

"Kontrak kinerja Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), itu mengurangi genangan di Surabaya," kata Eri Cahyadi usai meninjau saluran di pedestrian Jalan Praban Surabaya.

Pengerjaan saluran tersebut, tak hanya
mengerjakan box culvert atau pedestrian. Namun, itu juga terkoneksi satu dengan yang lainnya.

Menurutnya, genangan yang terjadi di kawasan Jalan Panglima Sudirman, disebabkan drainase di lokasi tersebut tidak mampu menampung beban air saat hujan deras.

Sehingga air di kawasan itu mengalir hanya menuju ke Pompa Grahadi. Sementara riol yang ada di pedestrian Jalan Kayoon, tidak pernah terbebani aliran air dari Jalan Panglima Sudirman.

"Dulu waktu sebelum dibangun pedestrian, itu airnya rata. Ketika dibuat pedestrian besar, akhirnya tampungannya besar, tidak dimasukkan ke sini (Riol Kayoon)," ujarnya.

Lebih parahnya lagi, kata dia, ternyata dari saluran utama yang berukuran 2 meter tadi mengalir menuju ke drainase kecil di kawasan Jalan Embong Kenongo yang berukuran 60 centimeter.

Sehingga hal tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya genangan di kawasan pusat kota.

Hal tersebut bisa diatasi wilayah di Panglima Sudirman. Akan dibuatkan 2 meter dari kayoon riolnya hingga Panglima Sudirman

" Terus dari PWI (Jalan Taman Apsari) kita larikan ke Jalan Simpang Pojok tadi, beban itu dimasukkan langsung ke arah rumah Pompa Kenari," jelasnya.

Baca Juga: Tuntut Lebar Sungai Dikembalikan, Warga Keputih Surabaya Protes Sejumlah Pengembang Besar

Dengan demikian, jika hujan deras turun, maka saluran air di kawasan Jalan Taman Apsari tidak terlalu terbebani.

Sebab, aliran air yang berada di kawasan Taman Apsari ke depan akan terbagi menuju ke Rumah Pompa Kenari dan Pompa Grahadi.

"Tapi setelah saya masuk di dalamnya (box culvert Jalan Kenari) itu kecil. Makanya saya suruh bongkar, karena riolnya besar. Berarti apa? (saluran) yang sudah terbangun tadi itu belum konek semua,"ungkapnya

"Tapi kalau kita lihat dari atas, konek semua. Ini yang kita perbaiki seperti yang ada di riol Jalan Kenari," imbuhnya.

Lebih lanjut Eri Cahyadi menerangkan, seharusnya riol di Jalan Kenari terhubung dengan kawasan yang ada di Jalan Praban. Pasalnya, aliran air dari kawasan Jalan Praban - Siola juga mengalir menuju ke rumah Pompa Kenari.

Baca Juga: Mahasiswa UINSA Demo Tolak Muzakki Kembali Pimpin Kampus, Angkat Persoalan Dana Hingga UKT

"Ini harusnya ketika ada hujan deras itu (Jalan Praban) sampai dengan Tidar tidak banjir. Tapi kenapa Kranggan banjir? karena dia tidak ada crossing ke arah riol belanda ini. Kalau dilihat, di bawahnya pedestrian itu ada riol sebenarnya, tapi ketutup box culvert," ungkap dia.

Artinya, dahulu saat membangun box culvert di pedestrian itu menutup riol. Seharusnya, kata dia, ketika membangun saluran itu box culvert ditinggikan dan riol yang ada di bawahnya dibongkar hingga tembus. Dengan demikian, tinggi pedestrian akan bertambah 2 meter dan tinggi riol 3 meter.

"Karena itu seharusnya tidak boleh banjir. Tadi saya minta, sudah saya buka mulai kemarin saya mau cari riol ini harus saya bongkar dan bersihkan sampai ketemu dengan rumah Pompa Kenari. Karena ini riolnya ketutupan box culvert, jadi bongkar box dulu, kemudian riol," paparnya.

Oleh sebab itu, ia juga meminta kepada DSDABM, apabila ke depan mengerjakan box culvert, riol yang ada di bawahnya bisa dimanfaatkan jadi satu kesatuan.

Karena baginya, semakin tinggi lokasi penampungan air yang ada di bawah pedestrian itu justru akan semakin bagus.

"Mungkin dulu pemikirannya adalah riolnya buntu. Kalau saya malah tak keruk riolnya, dibikin plong, kemudian nanti sambil ditambah box culvert, menambahkan ketinggian," tutupnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Sisi Gelap Warkop Jalan Kunti Surabaya, Pesan Kopi Bisa Sambil Nyabu

Dari pengungkapan ini, polisi menyita barang bukti 10 poket sabu seberat total 65,51 gram. Saat ini, kasusnya terus dilakukan pengembangan.

Indonesia Diprediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang Besok, Ini Wilayahnya

Meski sebagian besar wilayah Indonesia tengah dikepung kemarau terik, potensi hujan lebat hingga angin kencang masih mengintai. BMKG mengimbau selalu waspada.

Turun Langsung Dengarkan Masukan Tenant, SIER Dapat Pujian Soal Keamanan Kawasan

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, SIER juga menyampaikan sejumlah pengembangan fasilitas dan layanan yang dapat mendukung kebutuhan tenant.

Diberhentikan Lewat WA, Relawan SPPG Porong Sidoarjo Pertanyakan Prosedur Evaluasi dan Hak BPJS

Relawan yang diberhentikan itu adalah Egidius Nehe alias Egis. Ia mengaku terkejut lantaran menerima pemberitahuan pemutusan tugas hanya melalui pesan WA.

Penduduk Surabaya Tembus 3 Juta, Dapil dan Kursi DPRD Berpeluang Dirombak

Kondisi ini dimanfaatkan DPRD Kota Surabaya untuk mengawal peluang penambahan lima kursi legislatif pada Pemilihan Legislatif (Pileg) mendatang.

Bukan Sekadar Ambil Alih, Ini Rencana PDAM Surabaya Masuk Perumahan Air Mandiri

Langkah ini diambil guna memastikan kesetaraan akses air bersih di Kota Surabaya.