Minggu, 19 Jul 2026 07:50 WIB

BPJS Nonaktif hingga Banjir Masih jadi Masalah Serius di Surabaya

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 29 Mei 2026 16:25 WIB
Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Aning Rahmawati saat reses. (Dok. DPRD Surabaya).
Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Aning Rahmawati saat reses. (Dok. DPRD Surabaya).

selalu.id - Masa reses dimanfaatkan Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Aning Rahmawati untuk menyerap berbagai persoalan yang dikeluhkan warga di sejumlah wilayah Kota Pahlawan.

Mulai dari persoalan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang menghambat akses bantuan pemerintah hingga masalah sampah dan banjir menjadi sorotan utama.

Baca Juga: DPRD Surabaya Ingatkan Banyaknya Aduan Hotline jadi Alarm Kinerja Kelurahan dan Kecamatan

Politisi Fraksi PKS ini menyebut, keluhan paling banyak disampaikan warga terkait penerapan DTSEN yang dinilai belum akurat.

Akibatnya, sejumlah warga kesulitan mengakses program pemerintah meski dinilai layak menerima bantuan.

“Banyak warga yang sebenarnya berhak, tetapi terkendala karena pengelompokan desil DTSEN. Ini berdampak pada akses BPJS, beasiswa, hingga program rumah tidak layak huni,” kata Aning, Jumat (29/5/2026).

Di kawasan Keputih, kata dia, warga mengeluhkan BPJS nonaktif sehingga pelayanan kesehatan terganggu. Bahkan, ada laporan warga tidak langsung mendapatkan perawatan karena terkendala administrasi kepesertaan.

Selain itu, warga Bulak juga menyampaikan persoalan bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang dinilai belum tepat sasaran. Keluhan lain muncul terkait penghuni rusunawa yang dinilai sudah tidak memenuhi syarat tetapi masih menempati unit hunian.

Aning menegaskan akan memperjuangkan warga agar tidak kehilangan hak hanya karena persoalan akurasi data DTSEN.

“Jangan sampai masyarakat kecil gagal mendapat layanan dasar karena persoalan data administratif,” jelasnya.

Baca Juga: Menanti Pembenahan Akses dan Lahan Parkir di Wisata Hutan Kota Pakal Surabaya

Tak hanya soal bantuan sosial, persoalan sengketa tanah juga banyak disampaikan warga, terutama di Bulak dan Siwalankerto. Menurutnya, konflik lahan yang tidak terselesaikan membuat sejumlah RT/RW tidak bisa mengakses pembangunan dari APBD.

Aning pun meminta kelurahan dan kecamatan lebih aktif menjadi mediator agar persoalan pertanahan tidak berlarut-larut dan menghambat pembangunan kampung.

Dalam reses tersebut, warga juga mengeluhkan tata kelola persampahan Kota Surabaya. Mulai dari kebijakan TPS tanpa gerobak sampah hingga keterlambatan pengangkutan akibat keterbatasan armada.

“Keluhan soal sampah hampir muncul di banyak titik reses. Warga menilai sarana prasarana persampahan masih kurang,” katanya.

Baca Juga: Revitalisasi Pasar Surabaya: Menjaga Urat Nadi UMKM, Bukan Sekadar Percantik Bangunan

Selain itu, persoalan banjir kampung, minimnya dana kelurahan untuk infrastruktur, kebutuhan penerangan jalan umum (PJU), hingga isu pemekaran wilayah turut menjadi perhatian warga.

Aspirasi lain datang dari pelaku UMKM di Siwalankerto yang membutuhkan bantuan gerobak usaha, serta persoalan administrasi kependudukan yang menyebabkan anak terancam tidak bisa sekolah karena akta belum diterbitkan.

Aning memastikan seluruh aspirasi warga akan dikawal dan dibahas bersama Pemkot Surabaya dalam forum DPRD, termasuk untuk penyusunan Perubahan APBD 2026 maupun APBD 2027.

“Semua masukan warga akan kami kawal agar menjadi perhatian pemerintah kota dan tidak berhenti hanya saat reses,” pungkasnya.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Demi Target 250 Emas Porprov Jatim 2027, KONI Kota Surabaya Gelar Tes Narkoba

Langkah itu juga menjadi bentuk pencegahan terhadap penyalahgunaan narkotika di kalangan atlet yang tengah dipersiapkan menghadapi Porprov Jatim 2027.

Krisis Air Bersih, Warga Kunjorowesi Mojokerto Bergantung Sisa Air Hujan

Akibat krisis air bersih ini, warga Dusun Kandangan harus bergantung pada sisa air hujan yang disimpan di kolam penampungan air atau tandon.

Gara-gara ini, Rumah Makan AG Ny Suharti Harus Berurusan dengan Bapenda Surabaya

Bapenda meminta perusahaan menyerahkan sejumlah dokumen administrasi, keuangan, dan perpajakan.

Diperas, Kehilangan Kerja dan Foto Syurnya Tersebar: Ibu di Sidoarjo Awalnya Hanya Pinjam Rp200 Ribu

"Dari pembayaran bunga itu saja, total yang sudah dibayarkan Rp1,5 juta. Tapi hutang pokok belum lunas,” aku IR kepada awak media.

Foto Syur Tersebar di Grup WA, Ibu Muda di Sidoarjo Cari Keadilan ke Polda Jatim

Kasus ini bermula saat RI sangat membutuhkan biaya pengobatan darurat untuk anak pertamanya yang mengidap penyakit Autoimun dan ASD.

Perkuat Konsolidasi di Jawa Timur, Ali Mufthi Pastikan Golkar Hadir Melayani Rakyat

Ali menjelaskan seluruh aspirasi yang diterima dari masyarakat nantinya akan diperjuangkan melalui kader-kader Golkar.