Kamis, 03 Sep 2026 17:16 WIB

Ketika Provinsi NTB Belajar Strategi Penanganan Stunting dari Pemkot Mojokerto

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari saat memaparkan strategi penanganan stunting. (Dok. Diskominfo Mojokerto).
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari saat memaparkan strategi penanganan stunting. (Dok. Diskominfo Mojokerto).

selalu.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto menjadi tempat belajar strategi penanganan cara menekan angka stunting oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Diketahui bersama, Pemkot Mojokerto berhasil menekan angka stunting hingga di bawah satu persen atau lebih tepatnya 0,92 persen.

Baca Juga: Dua Atlet Balap Sepeda SEA Games jadi Korban Pelecehan Seksual di Pacet Mojokerto

Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri bahkan datang langsung bersama rombongan Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) NTB untuk mempelajari strategi penanganan stunting yang diterapkan Pemerintah Kota Mojokerto.

Kunjungan studi tiru tersebut diterima Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari bersama jajaran Pemerintah Kota Mojokerto di Sabha Mandala Madya Balaikota Mojokerto, Rabu (13/5/2026).

Wagub NTB mengaku sengaja memilih Kota Mojokerto karena dinilai berhasil menurunkan angka stunting secara signifikan melalui kolaborasi lintas sektor dan berbagai inovasi yang dijalankan hingga tingkat bawah.

“Kami hadir di sini ingin mengetahui langsung, Kota Mojokerto dengan sejumlah intervensi dan program keroyokan yang dilaksanakan secara bersama mendapatkan angka penurunan stunting yang cukup tinggi. Kami tertarik untuk hadir dan rupanya salah satu yang menjadi keunggulan Kota Mojokerto adalah banyaknya inovasi,” ungkapnya.

Indah mengatakan, keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan besarnya anggaran, tetapi juga kesungguhan pemimpin dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

“Kesungguhan hati, pola pendekatan dan sentuhan langsung dari pimpinan sampai ke tingkat bawah jauh lebih penting untuk menunjukkan kesuksesan dari setiap program,” jelasnya.

Indah tak lupa mengapresiasi kepemimpinan Ning Ita yang dinilai mampu menghadirkan berbagai capaian nyata bagi masyarakat.

“Saya bangga dapat mengunjungi Kota Mojokerto yang dipimpin oleh seorang perempuan, kita melihat realita apa saja prestasi yang sudah ditorehkan,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menjelaskan, Kota Mojokerto memilih fokus membangun kualitas sumber daya manusia melalui penguatan layanan kesehatan dan inovasi masyarakat yang dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Baca Juga: Pemkab Mojokerto Kucurkan Rp3,2 Miliar untuk Kelompok Tani, Ajak Milenial Tak Gengsi jadi Petani

Dalam penanganan stunting, Pemerintah Kota Mojokerto melakukan intervensi berkelanjutan mulai dari pemantauan kesehatan remaja putri, pendampingan calon pengantin, pemeriksaan ibu hamil, pendampingan ibu pasca salin, hingga pemantauan tumbuh kembang anak balita.

Berbagai inovasi juga dijalankan untuk memperkuat upaya tersebut, di antaranya program Canting Gula Mojo, Gempa Genting, serta penguatan peran kader motivator kesehatan di seluruh wilayah Kota Mojokerto.

Dalam penanganan stunting, Kota Mojokerto mencatat tren penurunan setiap tahun. Berdasarkan data ePPGBM, prevalensi stunting turun dari 4,84 persen pada 2021 menjadi 3,12 persen pada 2022, kemudian 2,04 persen pada 2023, turun lagi menjadi 1,54 persen pada 2024, 1,07 persen pada 2025, hingga mencapai 0,92 persen pada 2026.

Atas capaian tersebut, Pemerintah Kota Mojokerto memperoleh insentif fiskal dari pemerintah pusat sebesar Rp6,3 miliar.

“Penurunan stunting Kota Mojokerto signifikan setiap tahun dan akhir 2025 kami mendapat insentif fiskal Rp6,3 miliar dari pemerintah pusat,” sebut Ning Ita.

Baca Juga: Berkat Akses dan Kualitas Kesehatan, Kota Mojokerto Terima Insentif Fiskal 2 Miliar

Keberhasilan itu, tidak lepas dari peran ribuan kader kesehatan yang menjadi ujung tombak pendampingan masyarakat hingga tingkat lingkungan.

“Kami punya 1.619 kader motivator kesehatan, 99 persen perempuan, yang menjadi ‘tentara’ penggerak kesehatan masyarakat,” katanya.

Selain itu, Kota Mojokerto juga telah menjalankan program pemenuhan gizi masyarakat melalui program Gempa Genting sebelum program Makan Bergizi Gratis (MBG) diterapkan pemerintah pusat.

“Sebelum program MBG berjalan, Kota Mojokerto sudah lebih dulu menerapkan pola penyediaan makanan bergizi melalui program Gempa Genting,” tandas Ning Ita.

Kunjungan studi tiru tersebut diharapkan menjadi awal penguatan kolaborasi antardaerah dalam percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Mangkrak dan Tak Ada Kepastian, Tiga Pembeli Apartemen PT TPI Gugat Pengembang Rp6,49 Miliar di PN Surabaya

Langkah hukum ini ditempuh lantaran unit yang telah dilunasi sejak 2024 tak kunjung diserahterimakan.

Ketika Peziarah Terusik dengan Markanya Anjal dan Pengemis di Kawasan Sunan Ampel Surabaya

Aduan tersebut mengalir deras ke hotline Lapor Cak Eri. Sejumlah peziarah mengaku kerap diresahkan oleh aksi anjal yang meminta uang dengan berbagai macam cara.

Resmi Dikelola Pemkab Pasuruan, Rest Area dan Tengger Cultural Center Tosari Siap Dihidupkan

Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menegaskan komitmennya untuk segera mengaktifkan fasilitas penunjang wisata tersebut.

Gandeng PMI Surabaya, PT PAL Indonesia Kirim Donasi Kemanusiaan Rp83,1 Juta ke Korban Gempa NTT

Berdasarkan komunikasi dan assessment sementara tim lapangan di NTT, bantuan akan difokuskan untuk pemenuhan fasilitas dasar masyarakat terdampak.

Bahlil Mini Soccer Zona Madiun Raya Resmi Bergulir, Dibuka Laga Golkar Vs PKB

Ketua Pelaksana Bahlil Mini Soccer 2026 Arif Fathoni mengatakan, antusiasme sekolah dan pelajar untuk mengikuti kompetisi tersebut cukup tinggi.

Ketika Korban Penganiayaan di Surabaya Diintimidasi dan Ditawari Uang Damai Rp150 Juta

Majelis hakim dijadwalkan bakal memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV pada persidangan pekan depan guna mencocokkan fakta lapangan.