Sabtu, 26 Sep 2026 19:07 WIB

Aset BUMD Buruk, DPRD Jatim: Harus ada Langkah Konkret dengan Target Khusus!

Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim, Pranaya Yudha Mahardika. (Dok. Fraksi Golkar for selalu.id).
Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim, Pranaya Yudha Mahardika. (Dok. Fraksi Golkar for selalu.id).

selalu.id - Pengelolaan aset BUMD Jawa Timur dinilai masih sangat buruk. Data menunjukkan sebagian besar aset non-perbankan justru tidak produktif, menganggur, atau status legalitasnya tidak jelas.

Padahal, aset tersebut seharusnya menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Baca Juga: RAPBD Jatim 2027 Turun 8,2 Persen, Golkar Pertanyakan Pemangkasan Belanja Modal

Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim, Pranaya Yudha Mahardika menjelaskan, masalah utama terletak pada tidak adanya grand design atau roadmap yang jelas dari pemerintah daerah.

Akibatnya, pengelolaan berjalan parsial, tumpang tindih, dan tidak terintegrasi.

Selain itu, banyak aset hasil penyatoran modal (inbreng) yang tidak dikaji kelayakannya, sehingga sulit dimanfaatkan.

"Aset besar tidak berbanding lurus dengan hasil. Bahkan ada aset yang dikuasai pihak lain atau hanya menjadi beban biaya perawatan. Padahal potensinya sangat besar untuk dimonetisasi," jelas Yudha kepada selalu.id, Jumat (1/5/2026)

Baca Juga: Kekeringan di Jatim Makin Parah, Fraksi PKS Sentil Pemprov: Jangan Cuma Sibuk Bagi-bagi Air!

Ia menilai Biro Perekonomian saat ini belum berfungsi maksimal sebagai pengendali. Oleh karena itu, diperlukan transformasi menjadi lembaga Strategic Holding Controller yang kuat.

Langkah konkret yang dituntut adalah penataan aset dalam waktu 12 bulan ke depan. Targetnya, minimal 30-50 persen aset idle harus sudah dimanfaatkan atau dialihkan melalui skema KSP/KSO yang transparan sebelum akhir 2026.

Seperti diketahui, Kondisi pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Jawa Timur dinilai masih timpang dan sangat bergantung pada satu entitas saja.

Baca Juga: RAPBD Jatim 2027 Defisit Rp1,01 Triliun, Banggar Andalkan SiLPA dan Minta Pemprov Genjot Pendapatan

Data menunjukkan bahwa dari total setoran dividen sebesar Rp488,1 miliar, sekitar 86 persen atau lebih dari Rp420 miliar berasal semata-mata dari Bank Jatim.

Sedangkan Jawa Tengah sendiri memiliki deviden sebesar Rp696 miliar, jauh lebih tinggi jika dibandingkan Jawa Timur.

"Kami minta aset tidak lagi diposisikan sebagai beban, tapi dioptimalkan menjadi sumber nilai ekonomi nyata bagi masyarakat Jawa Timur," tegas Yudha.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Festival Gamelan Kahuripan 2026, Siswa Sidoarjo Jadi Garda Pelestarian Karawitan

Pada 2025 di lokasi yang sama ada 23 kelompok. Kini 2026 mencapai 33 kelompok dari pelajar dan masyarakat umum.

Motor Adu Depan Mobil di Mojokerto, Satpam Berangkat Kerja Tewas

Akibat kecelakaan tersebut, korban langsung meningga dunia di lokasi kejadian.

Respons Cepat Dugaan Luberan Air Limbah, SIERLakukan Pengecekan dan Pembersihan Saluran

Direktur Operasi PT SIER, Yohanes Deddy Setiawan, mengatakan setiap informasi yang berkaitan dengan lingkungan menjadi perhatian serius.

Kortastipidkor Polri Tetapkan Bupati Gowa jadi Tersangka Dugaan Korupsi Perizinan

Penyidik telah memeriksa sekitar 30 saksi dan empat ahli serta melakukan penggeledahan di empat lokasi.

Dittipidsiber Bareskrim Polri Tangkap DPO Kasus Judi Online 1 Triliun di Thailand

Proses penangkapan dilakukan bersama Divisi Hubungan Internasional Polri, Kepolisian Thailand, dan Imigrasi Thailand.

Ribuan Santri Adu Bakat dalam PORSADIN VII Jatim di Lumajang

Para juara nantinya akan mewakili Jawa Timur di PORSADIN Nasional yang rencananya digelar di Jakarta pada November 2026.