UMKM Herbaroso Sidoarjo Sulap Pekarangan jadi Cuan dan Obat Ginjal
- Penulis : Ariyanto
- | Rabu, 05 Agu 2026 16:20 WIB
selalu.id - Pemanfaatan lahan tidur menjadi kebun tanaman herbal dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Potensi itu terlihat dari pengembangan UMKM teh daun kumis kucing di Dusun Girang, Desa Wonokupang, Kecamatan Balongbendo, yang kini mulai menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.
Baca Juga: Pemkab Sidoarjo Ratakan 21 Lapak di Eks Lokalisasi Krengseng, Penataan Kawasan Berlanjut
Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana mengunjungi lokasi budidaya sekaligus melihat proses produksi teh daun kumis kucing bermerek Herbaroso milik Herwanto.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga ikut memanen daun kumis kucing bersama pemilik usaha.
Menurut Mimik, keberadaan UMKM berbasis tanaman herbal tersebut layak dijadikan contoh bagi desa-desa lain karena mampu mengubah lahan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan menjadi sumber penghasilan masyarakat.
"Tanaman Toga itu sebenarnya banyak sekali, tetapi kita mulai dengan tanaman kumis kucing. Ini adalah salah satu contohnya, dengan menanam tanaman kumis kucing bisa menghasilkan uang. Perputaran perekonomian di desa ini Insya Allah akan lebih cepat,” katanya.
Mimik menilai Desa Wonokupang memiliki peluang menjadi desa percontohan pengembangan UMKM herbal. Sebab, masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal dan dapat ditanami tanaman obat keluarga, khususnya kumis kucing.
"Ini harus kita kembangkan, dan ini udah ada salah satu contohnya. Ayo ben desa-desa liyane melok-melok (Ayo tiap desa-desa lainnya ikut). Karena di desa itu banyak sekali lahan-lahan yang tidak berfungsi. Nah, ayo dimanfaatkan,” ajaknya.
Selain bernilai ekonomi, Mimik menyebut tanaman kumis kucing telah lama dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. Daunnya cukup dikeringkan dan diseduh sehingga mudah dikonsumsi masyarakat.
"Manfaat tumbuhan kumis kucing ini sangat bagus sekali bagi kesehatan, murah meriah, cukup diseduh, khasiatnya langsung topcer,” ungkapnya.
Sementara itu, pemilik UMKM Herbaroso, Herwanto menjelaskan budidaya tanaman kumis kucing yang dikelolanya bermula dari pemanfaatan lahan pekarangan rumah seluas sekitar 500 meter persegi.
Selama setahun terakhir, lahan yang sebelumnya tidak produktif itu disulap menjadi kebun tanaman herbal.
Baca Juga: Deklarasi Sidoarjo Merdeka Tanpa Narkoba Diikuti 150 Anggota Komunitas Emak-emak
Latar belakangnya sebagai tenaga kesehatan di TNI Angkatan Laut mendorongnya mencari cara sederhana membantu masyarakat. Inspirasi tersebut muncul setelah meningkatnya kasus gagal ginjal di Indonesia.
"Pada tahun 2025 Menteri Kesehatan menyatakan seperti itu. Saya seorang nakes, jadi saya harus berupaya menolong masyarakat walaupun tanpa dukungan siapapun. Karena saya dulu pernah disumpah untuk membantu masyarakat, menolong masyarakat. Terciptalah ini karena teh kumis kucing ini komposisinya nomor satu untuk ginjal,” paparnya.
Herwanto mengakui proses awal budidaya tidak mudah karena bibit tanaman kumis kucing cukup sulit diperoleh. Namun setelah berhasil dikembangkan, tanaman tersebut mampu menghasilkan ratusan kilogram daun yang kemudian diolah menjadi teh herbal.
”Jadi lahan yang saya punya ini adalah lahan pekarangan rumah. Di lahan tidur yang nggak produktif saya jadikan produktif. Saya tanam tumbuhan kumis kucing ini karena sangat bermanfaat bagi kesehatan terutama kesehatan ginjal,” jelasnya.
Herwanto mengatakan bahwa tanaman kumis kucing tergolong mudah dibudidayakan karena minim perawatan.
Tanaman ini cukup disiram, diberi pupuk, dan dibersihkan dari gulma tanpa perlu menggunakan pestisida karena memiliki ketahanan alami terhadap hama.
Baca Juga: Perempuan asal Surabaya Ditemukan Tewas Membusuk di Kamar Kos Sidoarjo, Ini Identitasnya
Masa panen pertama dapat dilakukan sekitar 1,5 bulan setelah tanam dan terus dipanen berkala hingga sekitar tiga tahun masa produktif.
”Kalau tanaman kumis kucing aman sekali dari hama apapun. Coba dilihat daunnya, ada yang bolong nggak? Ini tanpa pestisida, tanpa semprot. Kita rawat saja dengan menyiram air dan kita cabut rumputnya,” katanya.
Saat ini, Herwanto bermitra dengan sekitar sepuluh petani tanaman kumis kucing. Dari jaringan tersebut, ia mampu menghimpun sekitar 700–800 kilogram daun kumis kucing setiap bulan. Daun basah yang telah dicacah dibeli seharga Rp3.000 per kilogram.
”Daripada nandur yang lain mending nandur tanaman kumis kucing, karena tidak ada yang namanya hama. Masa produktivitasnya dua sampai tiga tahun ke depan," ujarnya.
"Semisal modal pertama itu bisa kembali antara setengah sampai 1 tahun, 2 tahun selanjutnya adalah untung sampeyan. Berapa per kilo? Tiga ribu rupiah. Langsung potong, kirim ke rumah saya,” tambah Herwanto.
Editor : Zein MuhammadURL : https://selalu.id/news-14939-umkm-herbaroso-sidoarjo-sulap-pekarangan-jadi-cuan-dan-obat-ginjal
