Senin, 03 Agu 2026 10:26 WIB

Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya Soroti Paradoks Digital Indonesia

Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia. (Foto: selalu.id).
Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia. (Foto: selalu.id).

selalu.id - Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), Indonesia menghadapi sebuah paradoks: masyarakatnya sangat cepat mengadopsi teknologi, namun kesiapan di tingkat organisasi dan institusi masih tertinggal.

Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia.

Baca Juga: Komitmen Universitas Ciputra Surabaya: Musibah Tak Boleh Memutus Kesempatan Mahasiswa Meraih Cita-Cita

“Sebanyak 92% individu di Indonesia sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47%. Artinya, kita cepat mencoba, tetapi belum sepenuhnya siap mengelola,” jelasnya, Selasa (28/4/2026).

Menurut Prof Trianggoro, tantangan terbesar bukan sekadar mempercepat penggunaan AI, tetapi memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam pengambilan keputusan.

Ia juga menyoroti fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.

Jika tidak diantisipasi, hal ini berpotensi menurunkan kemampuan analitis dan nalar kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.

Baca Juga: Gelar Alumni Peduli Ojek Online, Cara IKA MM Universitas Ciputra Ringankan Beban Masyarakat

Selain itu, risiko penyalahgunaan AI seperti deepfake juga semakin meningkat dan dapat mengancam integritas informasi di ruang digital.

Namun demikian, Prof Trianggoro menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman jika digunakan dengan tepat.

Ia memperkenalkan konsep “symbiotic workforce”, di mana manusia dan AI bekerja saling melengkapi.

Baca Juga: Yayasan Amway Peduli Gandeng UC Surabaya: Edukasi Kesehatan, Siapkan Karir Generasi Muda

“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegas Prof Trianggoro.

Ke depan, ia mendorong pentingnya penguatan literasi AI, serta kebijakan yang adaptif agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengendalikan arah perkembangan teknologi.

Editor : Yasin
Berita Terbaru

Gelar Istigasah Jelang IGIC 2026, Kemenag Jatim Tekankan Fungsi Masjid sebagai Pusat Perdamaian

Puncak acara akan diisi langsung oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, yang memimpin Tabligh Akbar di hadapan ribuan jemaah.

JKCI 2026 Pukau Dunia, Terobosan Jitu Dongkrak Ekonomi dan Pariwisata Jember

Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan hilirisasi menjadi kunci utama agar kesejahteraan para petani tembakau melonjak tajam.

Semifinal dan Final Piala Presiden 2026 Digelar di Bali, Hadiah Juara Naik jadi Rp8 M

Maruarar mengungkapkan, meski sebelumnya ada wacana menggelar laga krusial tersebut di Surabaya, namun keputusan laga akhirnya digelar di Bali.

Pakar Hukum Ingatkan Pemkot Surabaya Cermat Terbitkan Izin Acara Besar Pasca-Kericuhan Konser SUBEC

Menurutnya, aspek administrasi, keamanan, hingga perlindungan bagi petugas harus menjadi perhatian utama untuk mencegah terjadinya insiden di lapangan.

Viral Isu Bocah 5 Tahun Dieksploitasi Ayah Kandung di Surabaya, Ini Penjelasan Pemkot

Ida Widayati menjelaskan pihaknya langsung berkoordinasi dengan jajaran Polres setempat untuk memverifikasi kebenaran informasi yang meresahkan publik itu.

Tak Ada Ongkos Berobat? Pemkab Jember Kirim Nakes dan Dokter Spesialis Langsung ke Rumah Warga

Bupati Jember, Muhammad Fawait mengungkapkan bahwa program dengan konsep jemput bola ini lahir dari keprihatinan atas kondisi riil di lapangan.