Rabu, 04 Nov 2026 02:47 WIB

Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya Soroti Paradoks Digital Indonesia

Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia. (Foto: selalu.id).
Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia. (Foto: selalu.id).

selalu.id - Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), Indonesia menghadapi sebuah paradoks: masyarakatnya sangat cepat mengadopsi teknologi, namun kesiapan di tingkat organisasi dan institusi masih tertinggal.

Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia.

Baca Juga: Mengenal Aryasetya Kanaka, Wisudawan UC Surabaya Sukses Bawa Kopi Lokal ke Pasar Dunia

“Sebanyak 92% individu di Indonesia sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47%. Artinya, kita cepat mencoba, tetapi belum sepenuhnya siap mengelola,” jelasnya, Selasa (28/4/2026).

Menurut Prof Trianggoro, tantangan terbesar bukan sekadar mempercepat penggunaan AI, tetapi memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam pengambilan keputusan.

Ia juga menyoroti fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.

Jika tidak diantisipasi, hal ini berpotensi menurunkan kemampuan analitis dan nalar kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.

Baca Juga: Komitmen Universitas Ciputra Surabaya: Musibah Tak Boleh Memutus Kesempatan Mahasiswa Meraih Cita-Cita

Selain itu, risiko penyalahgunaan AI seperti deepfake juga semakin meningkat dan dapat mengancam integritas informasi di ruang digital.

Namun demikian, Prof Trianggoro menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman jika digunakan dengan tepat.

Ia memperkenalkan konsep “symbiotic workforce”, di mana manusia dan AI bekerja saling melengkapi.

Baca Juga: Gelar Alumni Peduli Ojek Online, Cara IKA MM Universitas Ciputra Ringankan Beban Masyarakat

“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegas Prof Trianggoro.

Ke depan, ia mendorong pentingnya penguatan literasi AI, serta kebijakan yang adaptif agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengendalikan arah perkembangan teknologi.

Editor : Yasin
Berita Terbaru

Gila! Listyo Sigit dkk Sadap Presiden Prabowo hingga Media Sejak 2025

Nomor-nomor yang disadap dimasukan ke dalam sistem tanpa verifikasi. Pada Oktober 2026 tersangka diduga memerintahkan menghapus file penyadapan tersebut.

Presiden Prabowo Diduga Disadap, Ini Komentar PDIP untuk Polri

Menurut Hasto, pengungkapan kasus penyadapan ilegal harus menjadi pintu masuk untuk membongkar kemungkinan adanya praktik-praktik serupa.

Polemik Jam Operasional Pasar Tanjungsari, DPRD Surabaya: Kalau Perlu Perdanya Diubah!

Jika aktivitas perdagangan dibatasi oleh waktu yang terlalu ketat, Kaji Ipuk khawatir dapat berdampak pada kondisi komoditas yang mudah rusak.

Eks Kapolri Listyo Sigit hingga Ahrie Sonta jadi Tersangka Dugaan Penyadapan Presiden

Diketahui, ketiga jenderal polisi tersebut tak tanya menyadap Presiden Prabowo Subianto, tapi juga menyadap sejumlah pejabat, politisi, media hingga LSM.

Kabar Gembira Warga Probolinggo, Gubernur Jatim Khofifah Gelontorkan Bantuan Rp19,6 M

Dalam momen itu, ‎Khofifah mengatakan bahwa bantuan tersebut mencakup bidang perumahan, ekonomi, kesehatan, pendidikan hingga infrastruktur.

Razia Toko Kelontong di Nganjuk, Petugas Sita 7.540 Batang Rokok Ilegal

David mewanti-wanti seluruh elemen masyarakat dan pelaku usaha agar tidak nekat terlibat dalam rantai distribusi barang ilegal tersebut.