Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya Soroti Paradoks Digital Indonesia
- Penulis : Zein Muhammad
- | Selasa, 28 Apr 2026 19:51 WIB
selalu.id - Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), Indonesia menghadapi sebuah paradoks: masyarakatnya sangat cepat mengadopsi teknologi, namun kesiapan di tingkat organisasi dan institusi masih tertinggal.
Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia.
Baca Juga: Yayasan Amway Peduli Gandeng UC Surabaya: Edukasi Kesehatan, Siapkan Karir Generasi Muda
“Sebanyak 92% individu di Indonesia sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47%. Artinya, kita cepat mencoba, tetapi belum sepenuhnya siap mengelola,” jelasnya, Selasa (28/4/2026).
Menurut Prof Trianggoro, tantangan terbesar bukan sekadar mempercepat penggunaan AI, tetapi memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam pengambilan keputusan.
Ia juga menyoroti fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.
Jika tidak diantisipasi, hal ini berpotensi menurunkan kemampuan analitis dan nalar kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.
Baca Juga: UC Fair dan UC Play 2026, Gebrakan Universitas Ciputra Surabaya Ciptakan Entrepreneur Muda
Selain itu, risiko penyalahgunaan AI seperti deepfake juga semakin meningkat dan dapat mengancam integritas informasi di ruang digital.
Namun demikian, Prof Trianggoro menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman jika digunakan dengan tepat.
Ia memperkenalkan konsep “symbiotic workforce”, di mana manusia dan AI bekerja saling melengkapi.
Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Dokter Spesialis, Universitas Ciputra Surabaya Resmikan 3 Prodi Baru
“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegas Prof Trianggoro.
Ke depan, ia mendorong pentingnya penguatan literasi AI, serta kebijakan yang adaptif agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengendalikan arah perkembangan teknologi.
Editor : Yasin