Selasa, 16 Jun 2026 05:30 WIB

Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya Soroti Paradoks Digital Indonesia

Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia. (Foto: selalu.id).
Tiga Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia. (Foto: selalu.id).

selalu.id - Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), Indonesia menghadapi sebuah paradoks: masyarakatnya sangat cepat mengadopsi teknologi, namun kesiapan di tingkat organisasi dan institusi masih tertinggal.

Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Ciputra Surabaya, Prof. Dr. Trianggoro Wiradinata, dalam orasi ilmiahnya tentang masa depan AI di Indonesia.

Baca Juga: Yayasan Amway Peduli Gandeng UC Surabaya: Edukasi Kesehatan, Siapkan Karir Generasi Muda

“Sebanyak 92% individu di Indonesia sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47%. Artinya, kita cepat mencoba, tetapi belum sepenuhnya siap mengelola,” jelasnya, Selasa (28/4/2026).

Menurut Prof Trianggoro, tantangan terbesar bukan sekadar mempercepat penggunaan AI, tetapi memastikan manusia tetap menjadi pusat dalam pengambilan keputusan.

Ia juga menyoroti fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan manusia menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.

Jika tidak diantisipasi, hal ini berpotensi menurunkan kemampuan analitis dan nalar kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.

Baca Juga: UC Fair dan UC Play 2026, Gebrakan Universitas Ciputra Surabaya Ciptakan Entrepreneur Muda

Selain itu, risiko penyalahgunaan AI seperti deepfake juga semakin meningkat dan dapat mengancam integritas informasi di ruang digital.

Namun demikian, Prof Trianggoro menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman jika digunakan dengan tepat.

Ia memperkenalkan konsep “symbiotic workforce”, di mana manusia dan AI bekerja saling melengkapi.

Baca Juga: Penuhi Kebutuhan Dokter Spesialis, Universitas Ciputra Surabaya Resmikan 3 Prodi Baru

“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegas Prof Trianggoro.

Ke depan, ia mendorong pentingnya penguatan literasi AI, serta kebijakan yang adaptif agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengendalikan arah perkembangan teknologi.

Editor : Yasin
Berita Terbaru

IIFEX dan ALLPACK Surabaya 2026, Cara Krista Exhibitions Dukung Ekonomi Jatim

Menurut Daud, pameran menjadi sarana efektif untuk mempertemukan pelaku industri dengan calon mitra bisnis sekaligus membuka peluang investasi baru.

Mahasiswa hingga Dosen Surabaya Minta Militer Kembali ke Barak, HAM juga Disorot

Dalam orasinya, massa meminta pemerintah agar militer ataupun polri tidak masuk pada ranah politik agar tidak terjadi pemerintahan yang anti kritik.

Komitmen HGI dalam Majukan Domino Lewat Piala Wali Kota Surabaya

Perwakilan HGI, Ray mengatakan bahwa pihaknya memiliki visi untuk menjadikan domino sebagai olahraga profesional yang mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi.

Pura-pura Beli Alat Tulis, Pasutri di Mojokerto Bawa Kabur Motor Vario

Pencurian ini telah dilaporkan ke polisi, dan saat ini tengah dilakukan serangkaian penyelidikan lebih lanjut.

DPRD Surabaya Bakal Bawa Tuntutan Mahasiswa ke Pusat

Sebagai lembaga perwakilan rakyat, DPRD Surabaya memastikan seluruh aspirasi tersebut akan ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.

Penampakan Alat Kontrasepsi yang Disediakan Terapis Gion Spa Surabaya

Saat di kamar terapis akan menawarkan apakah customer mau dipijat terlebih dahulu atau langsung menikmati layanan plus-plus dari sang terapis.