Jumat, 23 Okt 2026 09:20 WIB

Kenakalan Remaja di Surabaya Tahun Ini Disebut Turun, Apa Iya?

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 21 Apr 2026 13:34 WIB
Satpol PP Surabaya saat razia anak jalanan. (Dok. Diskominfo Surabaya).
Satpol PP Surabaya saat razia anak jalanan. (Dok. Diskominfo Surabaya).

selalu.id - Tren kenakalan remaja di Kota Surabaya menunjukkan penurunan signifikan dalam setahun terakhir.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mencatat jumlah kasus yang sebelumnya menembus ratusan kini merosot tajam, dipicu kombinasi kebijakan jam malam dan pola pembinaan yang lebih intensif.

Baca Juga: Massa Demo Berpakaian Serba Hitam Mulai Datang di Depan Grahadi Surabaya

Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya menyebutkan, lebih dari 450 kasus ditangani sepanjang tahun lalu.

Namun pada 2026, jumlahnya turun drastis hingga di bawah 100 kasus.

Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati mengatakan penurunan ini tak lepas dari kebijakan pembatasan aktivitas malam bagi anak-anak yang mulai diterapkan secara masif.

“Alhamdulillah ada penurunan yang cukup signifikan, terutama sejak diberlakukannya kebijakan jam malam bagi anak-anak,” katanya, Selasa (21/4/2026).

Tak hanya mengandalkan pembatasan jam malam, Pemkot juga mengubah pendekatan penanganan.

Jika sebelumnya anak yang terjaring razia hanya mendapat konseling singkat di Kantor Satpol PP, kini mereka menjalani pembinaan lebih terstruktur.

Anak-anak yang terlibat kasus seperti konsumsi minuman keras, tawuran, hingga geng motor, tidak langsung dipulangkan.

Baca Juga: DPRD Surabaya Siapkan Public Hearing dalam Tatib Baru, Cegah Protes Perda Susulan

Mereka ditempatkan di Rumah Aman untuk mengikuti pembinaan selama 7 hingga 14 hari.

Dalam program ini, peserta tidak hanya mendapat pendampingan psikologis, tetapi juga edukasi tentang bahaya kriminalitas, narkoba, serta penguatan wawasan kebangsaan.

Bagi yang masih berstatus pelajar, Pemkot tetap memfasilitasi kegiatan belajar melalui sistem daring.

“Tidak hanya konseling singkat, tapi ada edukasi yang lebih mendalam agar anak-anak benar-benar memahami dampak dari perilaku mereka,” jelas Ida.

Baca Juga: Banyak Kabel Semrawut di Surabaya, DPRD Minta Pemkot Tertibkan dan Tegas Pada Provider

Program yang berjalan sejak pertengahan tahun lalu ini mulai menunjukkan efek jera. Jumlah anak yang harus menjalani pembinaan di Rumah Aman pun disebut terus menurun.

Di sisi lain, Pemkot juga mendorong keterlibatan keluarga melalui edukasi kepada orang tua agar pengawasan terhadap anak lebih optimal.

Kombinasi pendekatan preventif dan pembinaan ini diyakini menjadi kunci menjaga tren penurunan kenakalan remaja di Surabaya.

“Harapannya anak-anak bisa lebih banyak terlibat dalam kegiatan positif. Karena perilaku negatif tidak hanya berdampak sosial, tapi juga memengaruhi kondisi psikologis dan masa depan mereka,” tutur Ida.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Tiga Pemuda Bobol 2 Sekolah di Mojokerto, Pelaku Diringkus saat Tidur

Aksi pencurian dengan pemberatan itu terjadi di SDN Mlaten Kecamatan Puri dan TK Jabon Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar.

Top 5 Berita: Perampokan Toko Emas di Jember hingga Santri Terganjal Aturan

Artikel peristiwa dan pemerintahan masih banyak dibaca.

Pabrik Daur Ulang Ban Bekas Dekat SPBU di Mojokerto Terbakar

Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih diselidiki pihak kepolisian. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian ditaksir cukup besar.

Polda Jatim Amankan 11 Orang Diduga Pembuat Onar saat Demo di Grahadi Surabaya

Dalam penangkapan itu, polisi turut menyita barang bukti cairan tiner, minuman keras jenis arak, senjata keling (knuckle), hingga beberapa telepon seluler.

7.000 Hektare Hutan dan Lahan di Indonesia Masih Terbakar, Ini Daftar Wilayahnya

Selain karhutla, BNPB mencatat 2.188 bencana alam melanda Indonesia hingga Oktober 2026. Dari kekeringan, gempa, erupsi gunung, hingga cuaca ekstrem.

Banyak Santri Terganjal Aturan Usia 16 Tahun, DPRD Surabaya Desak Revisi Juknis Beasiswa

Muhammad Saifuddin mengungkapkan, dari target awal 3.000 santri penerima beasiswa pada 2026, baru sekitar 700 santri yang terealisasi.