Minggu, 19 Jul 2026 22:10 WIB

Janda Usia Sekolah di Jatim Meningkat, Cuma Bertahan 1 hingga 3 Tahun Lalu Cerai

Ilustrasi perceraian. (Dok. Freepik).
Ilustrasi perceraian. (Dok. Freepik).

selalu.id - Penurunan angka pernikahan anak di Jawa Timur dalam tiga tahun terakhir ternyata tidak serta merta menghilangkan masalah sosial yang ditimbulkannya.

Fenomena baru yang kini mengemuka adalah lonjakan jumlah "janda usia sekolah", akibat gagalnya rumah tangga pasangan muda yang menikah di bawah umur pada periode sebelumnya.

Baca Juga: Kunci Sukses WBK-WBBM: Kanwil Kemenag Jatim Bagikan Strategi Pembangunan ZI ke DKI Jakarta

Kepala Bidang Urusan Agama Islam (URAIS) Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Munir, menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh terkecoh hanya dengan melihat grafik penurunan angka dispensasi kawin.

Dampak dari pernikahan dini masa lalu kini mulai terakumulasi dalam bentuk gelombang perceraian usia muda.

"Secara kuantitas memang turun. Tapi dampaknya terakumulasi. Ini yang sekarang mulai terlihat dalam bentuk perceraian usia muda," jelasnya, Senin (13/4/2026).

Berdasarkan data Pengadilan Agama (PA) se-Jawa Timur mencatat, perkara dispensasi kawin turun dari 15.095 kasus (2022) menjadi 12.334 kasus (2023), lalu 8.753 kasus (2024), dan 7.491 perkara (2025).

Meski demikian, melalui Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), masih tercatat 7.590 peristiwa pernikahan anak sepanjang 2025.

Munir menjelaskan, fenomena meningkatnya janda usia sekolah yang disorot BKKBN ini merupakan efek domino dari pernikahan anak pada 2022–2024.

"Mereka menikah muda, tapi tidak siap. Dalam 1–3 tahun, banyak yang berakhir di perceraian," katanya.

Baca Juga: Matamuda, Tranformasi Pendidikan Kemenag dalam Perkuat Program Madrasah Ramah Anak

Yang lebih memprihatinkan, dampak paling berat dari fenomena ini ditanggung oleh kaum perempuan.

Dari total 7.590 pernikahan anak pada 2025, sebanyak 85 persen melibatkan pengantin perempuan di bawah umur.

Mereka tidak hanya menghadapi tekanan psikologis dan ekonomi, tetapi juga berisiko tinggi menjadi orang tua tunggal di usia remaja.

"Ketika rumah tangga rapuh, perempuan yang paling terdampak. Banyak yang harus mengurus anak tanpa kesiapan finansial," papar Munir.

Baca Juga: Kemenag Jatim Ajak Guru Kristen Bentuk Generasi Berkarakter dan Pembawa Damai 

Ia menambahkan, 86 persen pernikahan anak terjadi karena faktor reaktif, baik tekanan moral maupun kondisi darurat seperti kehamilan, bukan karena kesiapan matang membangun keluarga.

"Ini yang membuat fondasi rumah tangga sangat lemah dan rentan cerai," tegas Munir.

Menghadapi situasi ini, Kemenag Jatim melakukan intervensi berlapis, mulai dari pemblokiran sistem pendaftaran nikah di bawah umur di SIMKAH, pendekatan berbasis wilayah bersama ulama, hingga program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) dan bimbingan perkawinan khusus.

"Kami masuk di semua lini, dari hulu hingga hilir. Tapi ini bukan hanya tugas pemerintah. Ini soal perubahan cara pandang masyarakat," tandas Munir.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Ratusan Guru Ikuti TPN XIII Jember, Perkuat Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Berdampak

Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Kabupaten Jember, tetapi juga dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Pasuruan dan Probolinggo.

Bupati Fawait Minta Ribuan Mahasiswa KKN Fokus Dukung Desa dan Validasi Data Kemiskinan

"Mahasiswa jangan hanya menjadi pengamat atau pemberi kritik, tetapi juga ikut menghadirkan solusi," ujar Fawait.

Api Tinggi Tampak di Area TPA Benowo Surabaya, Begini Kesaksian Pengendara

Informan bernama Amar itu menyebut bahwa ia merekam kejadian tepat saat melintasi jalan menuju gerbang tol Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya.

Hukum Pidana Tanpa Kasta: Menepis Hak Istimewa di Hadapan Hukum

Hukum tunduk pada pembuktian, bukan pada jabatan. Kewenangan negara pun dibatasi oleh UU, dan bukan oleh hierarki kekuasaan.

Bisnis Keterampilan Rajut dari Candipari, Perjalanan Ernawati Menembus Pasar Internasional

Meski telah menjangkau pasar internasional, Ernawati tetap mempertahankan prinsip yang sama sejak awal merintis usaha, yakni bekerja dengan sabar dan telaten.

Demi Tambahan Penghasilan, Perempuan Penjual Roti di Surabaya Kasus Narkoba Lagi

Dari hasil penggeledahan, petugas menemukan sembilan paket sabu dengan berat total 96,884 gram serta 10 butir ekstasi seberat 4,274 gram.