Senin, 07 Sep 2026 06:06 WIB

Pencemaran Kali Brantas dan Surabaya Memburuk, Aktivis Lingkungan Tuntut Aksi Nyata

selalu.id – Aktivis lingkungan Prigi Arisani mendesak pemerintah segera mengambil tindakan serius terhadap pencemaran di Kali Surabaya dan Kali Brantas. Ia mengingatkan, musim hujan yang akan datang berpotensi memperburuk kondisi sungai akibat limpasan limbah industri.

 

Baca Juga: Parah! Ditemukan Air Rumah Tangga Tercemar Tinja di Indonesia

“Saat musim hujan tiba, beban sungai akan meningkat karena limpasan dari industri-industri yang membuang limbah sembarangan. Ini akan berdampak buruk,” ujar Prigi Arisani kepada selalu.id saat ditemui di bantaran Kali Mas Surabaya, Senin (3/11/2025).

 

Prigi menyoroti kasus kematian ikan massal yang terjadi beberapa waktu lalu sebagai bukti nyata dampak pencemaran. Ia menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai mengabaikan persoalan ini, padahal Mahkamah Agung telah memenangkan gugatan warga yang menyatakan Gubernur Jawa Timur dan beberapa menteri lingkungan hidup bersalah karena lalai menangani pencemaran dan kematian ikan.

 

“Hari ini, kami ingin mengingatkan pemerintah bahwa sungai ini butuh perhatian khusus. Kami menuntut hak sungai Kali Surabaya dan Kali Brantas,” tegasnya.

 

Ia berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya segera merespons dan mengambil tindakan nyata. Salah satu masalah utama yang disoroti adalah pencemaran bahan kimia yang semakin tidak terkendali, serta meningkatnya kandungan mikroplastik di air sungai.

 

“Jika dibiarkan, ini sama saja dengan memberi makan orang dengan plastik,” kata Prigi.

 

Ia juga menyoroti kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Menurutnya, harus ada sinergi antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Kementerian Lingkungan Hidup dalam menangani masalah ini.

 

“Kami sudah menang kasasi di Mahkamah Agung, sudah enam tahun kami menunggu. Putusan ini harus segera dieksekusi,” ujarnya.

 

Selain pencemaran kimia dan mikroplastik, Prigi juga menyoroti keberadaan permukiman ilegal di sepanjang bantaran sungai. Ia menyebut sekitar 4.000 rumah di kawasan itu tidak memiliki sanitasi layak dan masih membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai.

 

“Ini masalah yang harus dipikirkan pemerintah. Mereka harus merelokasi warga tersebut,” katanya.

 

Prigi juga meminta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas untuk bertanggung jawab karena dinilai membiarkan permukiman ilegal tersebut berdiri. Ia menyatakan akan melayangkan somasi terkait persoalan ini.

Editor : Ading
Berita Terbaru

PAMDI Surabaya Soroti Izin dan Citra Pentas Dangdut, Sekaligus Kejar Pengakuan UNESCO

Ia mendorong para penyanyi dan pelaku seni dangdut mengedepankan etika, termasuk dalam penampilan di atas panggung.

Cegah Busa Masuk Kalimas Surabaya, PJT I Alirkan Pasokan Air Tambahan dari Waduk Sutami

PJT I terus berkoordinasi dengan pihak terkait guna memastikan keamanan pasokan air baku bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya.

Air PDAM Surabaya Keruh dan Berbusa di Belasan Kawasan, Warga Keluhkan Bau Kimia

Gangguan dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Banyu Urip, Lakarsantri, Gunung Sari, Babatan, Wiyung, Manukan, Kedurus, Petemon, dan lainnya.

Dua Rumah Terbakar di Mojokerto, Terdengar Tiga Kali Ledakan

Api berasal dari freon kulkas yang diduga mengalami korsleting. Akibat kejadian itu, rumah dan semua perabotan serta peralatan elektronik hangus terbakar.

DPRD Surabaya Soroti Data Warga: Baru Dibetulkan Saat Butuh Bantuan, BPJS hingga Waris

Cahyo menilai Dispendukcapil Surabaya perlu memetakan data yang belum mutakhir maupun tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Melon Hidroponik jadi Magnet Baru Wisata Edukasi di Candi Negoro, Sidoarjo

Greenhouse seluas 400 meter persegi menjadi pusat pengembangan wisata ini.