Rabu, 04 Feb 2026 07:50 WIB

Dugaan Malpraktik RS Siti Hajar Mandek, Keluarga Ancam Praperadilan

Konfrensi pers kasus dugaan malpraktek RS Siti Hajar
Konfrensi pers kasus dugaan malpraktek RS Siti Hajar

selalu.id – Kasus dugaan malpraktik yang menyebabkan kematian Bagas Priyo (28), warga Sepande, Sidoarjo, usai operasi amandel di RS Siti Hajar pada 21 September 2024, hingga kini belum menemui titik terang. Polresta Sidoarjo yang menangani laporan keluarga korban menyatakan kemungkinan akan menerbitkan Surat Penghentian Penyidikan Perkara (SP3).

 

Baca Juga: Dugaan Malpraktik RS Siti Hajar Sidoarjo Mandek, Korban dan Kuasa Hukum Laporkan ke Bareskrim

Kuasa hukum keluarga korban, Muhammad Nainul Anami, menilai ada sejumlah kejanggalan dalam proses operasi. Menurutnya, Bagas sempat diberi makan beberapa jam sebelum tindakan, padahal pasien operasi seharusnya dalam kondisi puasa. Keluarga juga mengaku tidak menandatangani persetujuan tertulis untuk tindakan medis tersebut.

 

"Kami menduga adanya kelalaian dan tindakan yang tidak sesuai standar operasional prosedur. Operasi yang seharusnya kecil, justru berujung pada kematian Bagas," kata Nainul saat ditemui di kantor LBH Nurani Surabaya, Selasa (29/7/2025).

 

Sejak laporan diajukan ke Polresta Sidoarjo pada Oktober 2024, pihak keluarga belum mendapatkan perkembangan berarti. Penyidik Unit Pidana Umum Satreskrim Polresta Sidoarjo berdalih belum memiliki cukup bukti untuk melanjutkan penyidikan.

 

Baca Juga: Kasus Dugaan Malpraktik RS Siti Hajar Mandek, Begini Pendapat Ahli Hukum

"Kami telah menyampaikan kesiapan memberikan bukti. Namun sampai sekarang tidak ada koordinasi lebih lanjut," tegas Nainul.

 

Ia menyebut penyidik bahkan telah memberi sinyal akan mengeluarkan SP3. Hal ini membuat keluarga kecewa dan mempertimbangkan langkah hukum lanjutan melalui praperadilan jika SP3 benar-benar dikeluarkan.

 

"Ada batas waktu untuk mengajukan praperadilan. Jika SP3 dikeluarkan di luar batas itu, kami akan laporkan sebagai tindak kejahatan," ujar Nainul.

 

Kasus ini menjadi perhatian masyarakat Sidoarjo dan Surabaya, terutama soal pengawasan terhadap praktik medis di rumah sakit. Pihak keluarga berharap penanganan dilakukan secara adil dan transparan, serta memberi efek jera jika ditemukan pelanggaran prosedur.

 

Editor : Ading
Berita Terbaru

Balita 2 Tahun di Probolinggo Hilang Misterius

Balita itu bernama Muhammad Arsyad Arrazi, berusia 2 tahun, anak dari pasangan Abdul Manan dan Zuharo, warga Dusun Polai, Desa Sumendi.

Reklame Patah di Surabaya Itu Milik Anda Advertising, Jubir: Insya Allah Sesuai Konstruksi!

“Insya Allah konstruksinya sudah sesuai. Tiang-tiang utamanya juga masih kuat,” jelas Juru Bicara Anda Advertising, Nana.

Jika Palestina Tak Dijamin Merdeka, Prabowo Tegaskan Indonesia Siap Keluar dari BoP Gaza

Isu ini memanas setelah Wakil Ketua Umum MUI, KH Cholil Nafis, secara langsung menyampaikan keraguan para ulama terhadap objektivitas BoP.

Reklame Patah di Surabaya Bahayakan Warga, DPRD Desak Audit Pemegang Izin

DPRD Surabaya pun menilai kejadian ini menjadi alarm serius terhadap pengawasan dan perizinan reklame di ruang publik.

Reklame Patah di Surabaya yang Berbahaya Belum Dievakuasi, Ini Alasannya 

Reklame besar itu sudah nyaris patah. Tepat di bawah reklame itu, terdapat gang kecil yang menjadi akses jalan warga.

Reklame Patah saat Hujan Disertai Angin di Surabaya: Belum Ada Petugas, Bahayakan Warga 

Reklame patah itu berada di atas sebuah gedung, tepat di samping Poppy cafe & karaoke Jalan Tidar Surabaya.