Challenge Tendang Bola, Siswa SMPN 27 Surabaya Cedera hingga Masuk Rumah Sakit

Reporter : Ade Resty
Direktur RSUD Husada Dyah Retno A Puspitorini 

selalu.id - Siswa kelas 7 SMPN Surabaya cedera leher usai bermain challenge tendang bola bersama teman-temannya. Saat ini siswa yang berjenis kelamin laki-laki itu sedang dirawat di RSUD Husada Prima.

Direktur RSUD Husada Prima, Dyah Retno A Puspitorini menyampaikan awal pasien siswa berisinial R itu diantar ke rumah sakit oleh guru pasca kejadian beberapa hari lalu dengan keluhan nyeri leher belakang.

“Pasien diantar gurunya dengan keluhan nyeri di daerah leher, khawatir terjadi apa-apa, diantar ke RS oleh guru, baru orang tua menyusul,” kata Dyah, kepada awak media, Jumat (22/9/2023).

Dyah menjelaskan pasien R saat diperiksa mengaku bermain dengan kawan sekelasnya, challenge tendang bola di atas kepala. Giliran R jadi objek peletakan bola, malah terkena bagian lehernya.

“Dia bermain challenge dengan menaruh bola di atas kepala. Siapa yang bisa nendang itu. Ternyata yang nendang kena leher gak sampai bolanya,” terangnya.

Dalam hasi pemeriksaan di foto rontgent, beruntung R tidak sampai mengalami retak. Hanya trauma otot yang mengakibatkan memar dan nyeri. R pun juga diperiksa dengan dokter syaraf dan dokter bedah untuk mengetahui kemungkinan retak atau patah tulang.

"Dikonsulkan ke dokter bedah medik juga. Hasil foto rontgent aman, tidak ada retak atau patah hanya trauma otot atau jaringan bagian belakang leher,” tuturnya.

R sempat dipasangi alat penyangga leher untuk R yang merasa sakit jika bergerak. Namun sudah dilepas.

“Alhamdulillah hari ini sudah dilepas dan sudah bisa duduk. Insya Allah ini aman. Secara medis saya tanyakan ke dokter yang merawat perkembangannya, kondisi dari diterima sampai sekarang, sudah disampaikan,” ungkapnya.

Sementara salah satu teman sekelasnya F, menceritakan saat bermain diawali tebak-tebakan pemukulan kepala yang sudah ditutup bola yang dipotong jadi separuh dan dilanjutkan dengan tendang-tendangan.

“Kan main bola. Bola dipotong setengah ditaruh di kepala. Main tebak-tebakan. Yang dipukul nebak siapa yang mukul. Jadi orangnya yang dipukul ngadep (menghadap) sini tapi yang mukul ngadep (menghadap) belakang (saling membelakangi). Kalau salah nanti dia lagi (yang dipukul). R jadi (yang kepalanya ditutup bola), D (kawan yang bagian memukul) terus nendang kepalanya R.  Terus R jatuh kesakitan. Masih sadar. Terus gak bisa noleh dikasih minyak dibawa ke UKS,” jelas F yang ada di kelas saat kejadian, ditemui media hari ini.

Sementara EW, ibu korban mengaku saat itu dirinya ditelepon oleh guru anaknya di bawa ke RS karena lehernya ditenang oleh temannya.

"Jadi saya ke sini (RS) sudah dikasih alat penyangga leher ini. Saya gak tahu sebenarnya bagaimaba anaknya juga diam, ditanya diam. Saya tanya diam. Lama-lama baru ngomong, kalau dia ada yang mukul dan nempeleng ada yang satunya nendang bagian leher belakang,” tutur EW.

EW juga menceritakan sempat ada intimidasi dari beberapa kawan sekelas R. Namun ia sudah tidak mempermasalahkan karena hasil rontgent R tidak ditemukan luka serius.

“Tiga orang (yang mengintimidasi). Sebenarnya menerima ya tidak. Namanya juga anak digitukan. Tapi kondisinya dirontgent baik-baik saja, gak kenapa-kenapa jadi ya sudah dapat penanganan, jadi ya keluarganya anak-anak yang intimidasi anak saya juga sudah minta maaf, sudah jenguk,” pungkasnya.

Diketahui dari pihak sekolah, rencananya akan memberikan pernyataan ke media Senin pagi pekan depan.

Editor : Ading

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru