Selalu.id - Menjalankan ibadah puasa terkadang bisa menyebabkan beberapa perubahan kondisi fisik, hal itu lumrah terjadi. Oleh karenanya, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Dr Lilik Herawati membagi tips dalam menyeimbangkan jasmani dan rohani saat sedang berpuasa.
Lilik menyampaikan meski rajin olahraga namun keseharian juga banyak konflik, hal itu membuat diri setres. Sama hal seorang hanya fokus rohani tanpa ada upaya meningkatkan jasmani.
Baca juga: Pinjam Alat, Begini Perjuangan Atlet Asal Mojokerto Sabet Perunggu di Sea Games Thailand
"Ada hadits bahwa Allah itu menyayangi orang-orang yang kuat. Oleh sebab itu, supaya kuat, kita perlu menyeimbangkan kebutuhan jasmani dan rohani,” kata Lilik, Selasa (28/3/2023).
Saat berpuasa, Lilik menganjurkan melakukan olahraga intensitas ringan sampai sedang, yang jenisnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing seperti jogging, berjalan, bersepeda, maupun senam.
"Adapun komponen frekuensi (banyaknya olahraga per minggu), intensitas (ringan, sedang, berat), durasi saat olahraga, dan jenis olahraga," ujarnya
Kemudian, bagi remaja atau dewasa yang tidak memiliki gangguan dalam persendian, tidak ada penyakit tertentu, dan berat badan normal, dianjurkan melakukan jogging. Tetapi untuk lansia maupun seseorang yang overweight atau obesitas, sebaiknya cukup berjalan dan bersepeda. Lantaran jika berlari dapat membahayakan sendi-sendi lutut.
Tak hanya itu, menurutnya, berenang sebenarnya juga boleh tetapi saat puasa mungkin khawatir ada air yang tertelan. Lebih lanjut Lilik menjelaskan terdapat beberapa cara dalam membedakan intensitas olahraga, cara yang paling mudah yakni dengan tes bicara.
Baca juga: Aklamasi! Arderio Hukom Resmi Pimpin KONI Surabaya 2025–2029
Kata dia jika seseorang yang sedang olahraga sembari bernyanyi dan berkomunikasi dengan lawan bicara, maka itu termasuk kategori olahraga intensitas ringan. Sedangkan, jika bicara masih bisa namun sulit untuk bernyanyi, maka itu termasuk olahraga kategori intensitas sedang.
Sementara, jika telah kesusahan bicara, apalagi menyanyi saat olahraga, maka itu termasuk intensitas berat. Penyiasatan olahraga pun menjadi perlu, terlebih intensitas dan waktu. Ia menyarankan waktu yang ideal berolahraga yakni saat menjelang berbuka puasa. Lantaran, ketika olahraga, relatif terjadi kehilangan cairan tubuh dan merasa haus, dapat segera kembali pulih saat berbuka.
"Kalaupun dilakukan di pagi hari setelah sahur juga boleh, asalkan tidak terlalu bera,"tuturnya.
Baca juga: Tinjau Ulang Rencana Pengiriman 1.110 Atlet ke Sea Games 2025, Wamenpora: Harus Tepat dan Efisien
Apabila memang olahraganya hanya sempat di pagi hari, sebaiknya cukup peregangan saja sekitar 30-60 menit, atau kurang dari waktu tersebut, yang penting menyesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebiasaan. Begitu pula, jika malam hari kondisi pulang kerja dan sedang capek sekali. Sebaiknya tidak perlu dipaksakan olahraga. Hal ini dapat memicu efek yang tidak diinginkan dan meningkatkan risiko cedera.
“Kalaupun bisanya selepas tarawih ya gunakan jenis olahraga ringan sampai sedang. Sementara olahraga berat tidak perlu dulu karena irama hormonal kortisol yang lebih rendah saat malam,” jelas dosen fisiologi dan ilmu kesehatan olahraga FK Unair itu.
Untuk orang yang mempunyai riwayat penyakit tertentu, tambah Lilik, mereka harus konsultasi ke dokter dulu. Kemudian, apabila diizinkan berolahraga, ikuti saran dokter tersebut. Namun prinsipnya, tubuh jangan dibiarkan lama tidak bergerak (kecuali memang ada indikasi tidak boleh bergerak). Selain itu, upayakan aktivitas fisik sehari-hari di-setting menjadi olahraga. Misalnya ketika berjalan, jalannya dibuat jalan ala olahraga, ataupun ketika naik ke lantai dua, lebih baik menggunakan tangga daripada eskalator atau lift.
“Jadi dengan aktivitas olahraga yang tepat dapat memberikan manfaat. Layaknya obat, jika dosisnya pas akan memberikan manfaat, tetapi jika kurang ya tidak bermanfaat, apalagi jika berlebihan ya bisa membahayakan,” tutupnya. (Ade/Adg)
Editor : Ading