Waspada! BPOM Temukan Boraks pada Makanan di Kawasan Masjid Agung Surabaya

Reporter : Ade Resty

selalu.id - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Surabaya melakukan pengujian makanan dan minuman yang dijual di sekitar Masjid Al-Akbar atau Masjid Agung. Hasilnya 30 persen makanan menggunakan zat pengawet berbahaya.

"Kami lakukan pengujian dan random sampling pada 15 makanan dan minuman di sekitar Masjid al-Akbar Surabaya. Hasilnya, 8 positif mengandung boraks," kata Ketua BPOM Surabaya, Rustyawati, Selasa (12/4/2022).

Baca juga: TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal

Rustyawati mengatakan, beberapa makanan yang diuji itu adalah batagor, kerupuk pulí Semanggi, kerupuk ikan, es cao, mutiara merah, harum manis, sosis bintang, kerang tumis, tahu dan siomay.

"Temuan boraks positif di kerupuk pulí semanggi, es cao, kikil, dan lontong," kata dia.

Beberapa jenis makanan itu dipilih karena bahan berbahaya normalnya ditemukan di jenis-jenis tersebut.

Untuk itu, Rustywati menyampaikan, pihaknya melakukan pengujian pada jenis-jenis makanan yang dijual untuk mengantisipasi adanya bahan berbahaya.

"Pengujian ini dilakukan untuk mencegah adanya kandungan bahan berbahaya dalam makanan yang dikonsumsi Warga Surabaya," tegasnya.

Baca juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang

Pengujian ini rutin dilakukan tiap tahun. Ia berharap, warga Surabaya dapat mengantisipasi dan lebih berhati-hati ketika akan mengonsumsi makanan tertentu.

"Pengujian ini untuk pantauan dan antisipasi. Setelah ini kami akan sertifikasi dan rekomendasi ke Dinkes untuk sosialisasi dan edukasi," pungkas dia.

Sementara itu, Sub Koordinator Kefarmasian Makanan dan Minuman Dinkes Surabaya, Umul Jariyah mengatakan, tiap tahunnya, Dinkes mendapatkan surat rekomendasi dari BPOM Surabaya terkait temuan bahan berbahaya di makanan.

"Dinkes dapat surat dari BPOM, kami edukasi ke pedagang. Kami beritahu dan beberapa bulan lagi akan sampling ulang," kata dia.

Baca juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin 

Dari temuan itu, Dinkes akan melakukan pembinaan dan koordinasi untuk tidak lagi menggunakan bahan berbahaya.

Ia menambahkan, pihaknya akan menempeli stiker untuk menegaskan keikutsertaan mereka di pemeriksa labolatorium dan hygine sanitasi

"Akan kami stiker. Ini program baru sekali dari pusat, malau beberapa bulan lagi masih pakai, kami akan sosialisasi lagi," terangnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru