Pengusaha Kerupuk Terancam Gulung Tikar Imbas Kelangkaan Minyak Goreng Curah

Reporter : Ade Resty
Tempat produksi kerupuk di Semampir

selalu.id - Kenaikan harga minyak goreng kemasan serta kelangkaan stok minyak goreng curah berimbas pada pengusaha makanan yang bergantung pada minyak. Seperti pengusaha krupuk di Surabaya ini yang mengaku kesulitan mendapatkan minyak sebagai bahan untuk menggoreng kerupuknya.

Situasi seperti pepatah buah simalakama dirasakan Levi Yuli Anjarto (40), salah satu pengusaha kerupuk di Jalan Medokan Semampir AWS II. Jika menggunakan minyak goreng kemasan, dia akan merugi, namun minyak curah sulit didapat.

Baca juga: TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal

"Kalau pakai minyak goreng kemasan jelas ndak nutut saya. Jadi memang pakainya minyak curah, tapi sekarang susah carinya harus antri dibeberapa agen,"kata Levie, saat ditemui Selalu.id di tempat penggorengan kerupuk miliknya, Senin (21/3/2022).

Levie mengungkapkan, untuk menggoreng kerupuk, dirinya memerlukan sekitar 20 hinga 25 galon minyak goreng curah. Saat ini dia hanya kebagian 5 galon saja.

"Di agen dijatah 5 galon. Saya dapat 10 galon itupun masih kurang," ungkapnya.

Saat kondisi normal, Levi mengaku tidak perlu keluar untuk mendapatkan minyak, agen yang langsung mengantar ke lokasi produksinya. Namun saat ini, Levi harus rela anti dari beberapa agen.

"3 minggu pengurangan, harus dengan tenaga ektra. Dulu dikirim gak pakai antre minyak datang jadi sudah dapat banyak,"ujarnya.

Lebih lanjut levie menjelaskan, akibat minyak goreng curah langka. Dirinya setiap hari berkeliling di beberapa agen, diantaranya di Kapas Krampung, Panjang Jiwo dan daerah Jagir.

"Tapi di tempat agen pun ndak bisa dapat sesuai kebutuhan saya. Paling dapatnya 5 sampai 10 galon saja," ucapnya.

Baca juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang

Levie juga mengungkapkan, produksi kerupuknya tetap berjalan meski minyak goreng curah mengalami kelangkaan. Bahkan harus dengan tenaga ekstra mencari minyak goreng.

"Produksi tetap, ya itu tadi, saya harus cari minyak ke beberapa agen dan antrenya sekarang panjang,"jelasnya.

Levie pun rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan minyak goreng curah. Dirinya mengaku pernah mengantre sejak pagi hingga malam.

"Saya kalau antri minyak bisa berjam-jam, pernah saya antri dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam dan itupun cuma dapat 4 hingga 5 galon,"jelasnya.

Baca juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin 

Tak bisa dipungkiri kelangkaan minyak goreng dan tingginya harga mempengaruhi keuntungan Levi. Keutungan penjualan kerupuknya berkurang 70 persen dari sebelumnya. Untuk mensiasati hal tersebut, Levi harus mengurangi isi kerupuknya perkemasan, yang biasanya berisi 10 kerupuk menjadi 8 kerupuk.

"Misalnya anggap saja keutungan per harinya Rp 10 ribu, sekarang keuntungannya hanya Rp 3 ribu," keluhnya.

Menurutnya, jika kondisi seperti ini terus berlanjut, Levi mengaku tak dapat menggoreng kerupuk lagi. Levie berharap, pemerintah segera mendapatkan solusi atas kelangkaan harga minyak goreng yang mahal ini.

"Harapannya kembali seperti dulu, tapi kayaknya harganya pasti mahal. Kalau pun harga naik saya tidak keberatan asal distribusinya lancar," harapnya. (Ade/SL1)

Editor : Redaksi

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru