selalu.id – Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni mengingatkan Pemerintah Kota Surabaya agar program pembinaan generasi muda yang mengalokasikan Rp5 juta untuk setiap RW tidak berjalan seragam dan berujung kegiatan seremonial tanpa hasil yang jelas.
Baca juga: Rapor Merah Dari DPRD Surabaya untuk Setahun Kepemimpinan Eri-Armuji
Ia menyebut Surabaya menjadi satu-satunya daerah di Jawa Timur yang menganggarkan dana khusus untuk pembinaan generasi muda. Karena itu, ia menekankan anggaran harus disesuaikan dengan karakter pemuda di tiap wilayah.
“Kalau kegiatannya sama semua, ya kami meragukan tujuan pembinaan Gen Z itu bisa tercapai. Tiap wilayah punya karakteristik berbeda, sehingga output-nya juga harus berbeda,” ujarnya kepada selalu.id, Senin (17/11/2025).
Fathoni menjelaskan total kebutuhan anggaran dapat mencapai lebih dari Rp50 miliar per tahun. Ia meminta kecamatan dan kelurahan mengidentifikasi kebutuhan pemuda secara lebih spesifik. Ia mencontohkan kawasan Ampel yang memiliki karakter religius dan potensi wisata religi sehingga pembinaannya perlu diarahkan untuk melahirkan wirausaha baru di sektor tersebut.
“Tentu itu berbeda dengan Sememi, Gayungan, atau Rungkut. Karena kebutuhan pemudanya tidak sama,” katanya.
Terkait mekanisme, ia berharap anggaran lebih banyak diakses melalui karang taruna sebagai wadah resmi pemuda. Namun ia meminta organisasi itu tetap bebas dari kepentingan politik.
Baca juga: Atap Kelas SMPN 60 Surabaya Ambruk, DPRD Desak Evaluasi Total Bangunan Sekolah
“Karang taruna itu jembatan pemuda. Jangan ada kepentingan politik di dalamnya,” ujarnya.
Pemuda yang ingin mengajukan kegiatan cukup membuat proposal ke kelurahan. Proposal kemudian diverifikasi dan camat bertindak sebagai pengawas penggunaan anggaran.
Menurut Fathoni, program ini harus mampu melahirkan generasi muda dengan keterampilan nyata baik keterampilan wirausaha, kreativitas, maupun penguatan nilai kebangsaan. Ia juga menyinggung peran pemuda dalam mendukung program Kampung Pancasila.
Baca juga: Kasus Bimtek DPRD Surabaya Kembali Dibuka, Begini Tanggapan Sekwan
“Dengan anggaran ini, pemuda harus jadi pelopor. Bukan kegiatan seremonial, tapi penguatan karakter. Pemerintah kota sudah memberi ruang, tinggal bagaimana memaksimalkan agar muncul pemuda unggul di tiap wilayah,” tandasnya.
Fathoni menegaskan DPRD akan melakukan pengawasan saat program ini berjalan pada 2026. Bila seluruh wilayah menjalankan kegiatan yang sama tanpa mempertimbangkan karakter lokal, DPRD tidak menutup kemungkinan meminta program tersebut tidak direalisasikan.
“Kalau kegiatannya sama semua, mending tidak usah direalisasikan. Karena tujuan pembinaan itu harus menghasilkan pemuda-pemudi unggul yang sesuai dengan potensi kampungnya,” pungkasnya.
Editor : Ading