Surabaya Terapkan Wajib Belajar 13 Tahun, Ketua PAUD: Pra-Sekolah Kunci Kemandirian Anak

Reporter : Ade Resty

Selalu.id– Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat implementasi enam program prioritas pendidikan anak usia dini (PAUD) yang dicanangkan Kemendikdasmen. Salah satunya, Gerakan Wajib Belajar 13 Tahun, dengan tambahan satu tahun pra-sekolah sebelum masuk Sekolah Dasar (SD).

Ketua Bunda PAUD Surabaya, Rini Indriyani, menegaskan pentingnya jenjang pra-sekolah sebagai pondasi pendidikan dasar anak. Menurutnya, pengalaman belajar di PAUD akan membuat anak lebih mandiri, percaya diri, dan siap beradaptasi ketika masuk SD.

Baca juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin 

“Kalau anak sudah terbiasa sekolah di PAUD, biasanya lebih berani. Bahkan ada yang bilang, ‘Mama nggak usah diantar,’ karena mereka sudah terbiasa mandiri,” kata Bunda Rini, Minggu (21/9/2025).

Ia menambahkan, pra-sekolah bukan hanya soal belajar membaca atau berhitung, tapi juga melatih anak bersosialisasi, belajar antre, hingga menunggu giliran. “Hal-hal sederhana seperti itu penting untuk pembentukan karakter sejak dini,” ujarnya.

Untuk memastikan program berjalan, Pemkot menurunkan tim berlapis mulai dari tingkat kota hingga kelurahan. Mereka mendata anak usia 5–6 tahun yang belum sekolah, bahkan turun langsung mendekati orang tua yang enggan menyekolahkan anaknya.

Baca juga: Hadapi Puncak Hujan Februari, Pemkot Surabaya Tambah Lagi 5 Rumah Pompa

Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Yusuf Masruh, menekankan bahwa program ini tak hanya menambah durasi wajib belajar, tapi juga membentuk karakter anak. “Kalau sejak dini terbiasa disiplin, mandiri, dan percaya diri, itu jadi modal besar saat menempuh pendidikan lebih lanjut,” ucapnya.

Dukungan juga datang dari akademisi. Dosen PG-PAUD Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Fatiha Khoirotunnisa Elfahmi, menilai langkah Surabaya lebih maju dibanding banyak daerah lain.

Baca juga: Pemkot Surabaya Putus 2 Kontraktor Proyek Pompa Air Karena Wanprestasi

“Surabaya ini sangat masif dan sungguh-sungguh. Tidak hanya advokasi wajib pra-sekolah, tapi juga menyekolahkan guru-guru PAUD hingga S1. Tahun ini saja sekitar 200 guru sedang menempuh kuliah,” jelas Fatiha.

Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan RPJMN 2025–2029 yang menekankan pentingnya pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembangunan SDM. “Kalau atensi ini terus dijaga, Surabaya bukan hanya maju secara infrastruktur, tapi juga unggul dalam SDM,” pungkasnya.

Editor : Redaksi

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru