selalu.id — Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Azhar Kahfi, menilai aksi balap liar yang sering terjadi di sejumlah titik Kota Pahlawan tak bisa lagi dianggap sekadar kenakalan remaja.
Baca juga: Aspal Baru Panjang Jiwo Jadi Arena Balap Liar Remaja, Pemkot Siapkan Penindakan
Menurut Azhar, balap liar telah berkembang menjadi subkultur yang memiliki pola, aturan tak tertulis, hingga komunitas yang terorganisir.
“Balap liar ini bukan kejadian acak. Mereka punya lokasi tetap, jam tertentu, bahkan kode etik antar sesama pelaku. Ini sudah jadi bagian dari identitas sebagian anak muda,” kata Azhar, Kamis (17/7/2025).
Politisi Fraksi Gerindra itu menyebut pembatasan jam malam tetap penting sebagai upaya pencegahan, terutama saat anak-anak kembali masuk sekolah. Namun, ia menilai pembatasan saja tidak cukup tanpa disertai pemetaan sosial yang lebih dalam.
“Apakah mereka ini pelajar, atau justru anak-anak yang sudah putus sekolah? Kalau kita nggak tahu siapa mereka, kita hanya menangani gejalanya, bukan akar masalahnya,” ujarnya.
Baca juga: 26 Pelajar Terlibat Kerusuhan Demo, Wali Kota Surabaya Ketatkan Jam Malam
Azhar juga melihat kelompok pelaku balap liar sudah berkembang layaknya organisasi dengan sistem kaderisasi dan loyalitas yang tinggi. Aktivitas mereka di jalanan, menurutnya, lebih dari sekadar hobi dan bahkan menjadi simbol solidaritas yang kuat.
“Mereka sudah membentuk jaringan sosial yang solid, meski konteksnya negatif. Tapi bukan berarti mereka harus dikucilkan. Pemerintah perlu hadir dengan pendekatan khusus,” ucapnya.
Ia mendorong agar pemerintah menyediakan ruang legal dan aman bagi pecinta otomotif muda untuk menyalurkan minat, dengan pendampingan dari komunitas, dinas pendidikan, hingga tokoh pemuda.
Baca juga: Balap Liar dan Geng Motor di Surabaya Menurun Drastis, Ini Penyebabnya
“Kita nggak sedang melegalkan balap liar. Tapi menyelesaikan ini juga nggak cukup dengan razia atau stempel ‘sampah masyarakat’. Mereka perlu dibina dan dijembatani ke arah yang lebih positif,” tandas Azhar.
Editor : Ading