Senin, 20 Jul 2026 09:39 WIB

Megawati Raih Profesor Kehormatan Ketiga di Uzbekistan, PDIP Surabaya Bangga

Megawati saat menerima profesor kehormatan di Uzbekistan
Megawati saat menerima profesor kehormatan di Uzbekistan

selalu.id - Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, kembali mendapat pengakuan global atas kiprahnya untuk Indonesia dan dunia. Megawati menerima penganugerahan gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Silk Road Internasional di Samarkand, Uzbekistan, Sabtu (21/9/2024).

Megawati dianugerahi gelar Profesor Kehormatan di Bidang Pariwisata Budaya Berkelanjutan (Sustainable Cultural Tourism), diserahkan langsung oleh Rektor Universitas Silk Road Internasional sekaligus Menteri Pariwisata dan Warisan Budaya Republik Uzbekistan, Aziz Abduhakimov. Megawati menyampaikan pidato ilmiah bertema “Jalan Kebudayaan dan Titik Temu Peradaban” di hadapan sivitas akademika Universitas Silk Road Internasional.

Baca Juga: PDIP Surabaya Wajibkan 40 Persen Pengurus Ranting dari Gen Z

Tercatat ini merupakan gelar profesor kehormatan ketiga yang dianugerahkan kepada Megawati, setelah sebelumnya menerima gelar serupa dari Seoul Institute of The Arts (SIA), Korea Selatan, pada 2022, dan dari Universitas Pertahanan (Unhan) pada 2021.

Ketua DPC PDI Perjungan Kota Surabaya, Adi Sutarwijono, menyampaikan bahwa keluarga besar PDIP Surabaya menyampaikan selamat dan turut berbangga dengan pencapaian Megawati tersebut.

"Selamat kepada Ibu Megawati atas penganugerahan profesor kehormatan. Kami bangga dan terinspirasi dengan kiprah Ibu Megawati yang terus berkontribusi bagi demokrasi, kebudayaan, dan kehidupan sosial-kemasyarakatan di tanah air dan dunia," ujar Adi, Minggu (22/9/2024).

Adi mengatakan, perjalanan Megawati ke Samarkand, Uzbekistan, untuk menerima penganugerahan gelar profesor kehormatan sekaligus berziarah ke makam Imam Bukhari menunjukkan bagaimana Megawati sangat memahami dan menghargai upaya-upaya mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik. Megawati mencetuskan pemikiran tentang pentingnya jalan kebudayaan di tengah kebuntuan hukum internasional akibat berbagai konflik geopolitik dunia dewasa ini.

"Ibu Megawati meyakini bahwa jalan kebudayaan sebagai jembatan dialog yang tepat antar bangsa demi terwujudnya perdamaian dunia dan peradaban dunia yang lebih baik," jelas Adi.

Megawati, lanjut Adi, dalam pidato ilmiahnya juga menyinggung soal Jalur Sutra yang merupakan jejak sejarah peradaban dunia yang sangat berpengaruh dalam membentuk dunia modern di masa kini.

Baca Juga: Kisah Menyentuh Rizky Andranata, Dari Bukan Siapa-siapa Kini Masuk PDIP

"Ibu Megawati menyebut jalur sutera bukan sekadar mata rantai perdagangan, tetapi juga visi dan daya kepeloporan untuk membangun peradaban dunia," jelas Adi.

Dalam sejarah, Jalur Sutra dikenal sebagai rute perdagangan global pertama yang menjangkau begitu banyak kawasan dunia. Jalur Sutra menjadi bagian peradaban yang mengembangkan perdagangan, seni, keagamaan, budaya, ide, dan teknologi.

"Uzbekistan, negara yang dikunjungi Ibu Megawati sekaligus tempat dimana beliau menerima gelar profesor kehormatan, adalah salah satu pusat utama Jalur Sutra ribuan tahun lalu," ujarnya.

Di Uzbekistan, Megawati juga berziarah di makam Imam Bukhari, yang kitabnya dikenal luas di Indonesia dan seluruh dunia serta menjadi rujukan utama soal hadits. Makamnya terletak di Samarkand, sebuah kota yang sangat tua di Asia Tengah, kini masuk wilayah Uzbekistan.

Baca Juga: Di Bulan Bung Karno, Armuji Tantang Kader Gen Z PDIP Surabaya jadi Anggota Dewan

Indonesia mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Samarkand dan Uzbekistan secara umum, karena peran Presiden Sukarno dalam menemukan makam tersebut. Berdasarkan sejumlah literatur sejarah, saat akan berkunjung ke Uni Sovyet saat itu, Bung Karno memberi syarat kepada pemimpin Uni Sovyet agar makam Imam Bukhari “ditemukan”, kemudian ditindaklanjuti dengan pencarian hingga ditemukanlah di Samarkand, yang ketika itu masih menjadi bagian dari Uni Sovyet.

Setelah dorongan Bung Karno tersebut, makam Imam Bukhari diberi atensi, dari dulunya relatif tidak terawat, lalu diperbaiki secara berkelanjutan. Dan kini menjadi kompleks yang lebih representatif dengan masjid berkapasitas ribuan jamaah, museum, hingga pusat kajian hadits.

"Rentetan sejarah ini menunjukkan bagaimana Bung Karno mampu memainkan peran penting dalam peradaban dunia melalui jalan kebudayaan," ujar Adi.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

1 Rumah dan 3 Lapak di Dukuh Kupang Surabaya Terbakar

Berdasarkan laporan petugas, objek yang terbakar meliputi satu rumah milik Suprapti serta tiga lapak usaha.

Ratusan Guru Ikuti TPN XIII Jember, Perkuat Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Berdampak

Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Kabupaten Jember, tetapi juga dari sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Pasuruan dan Probolinggo.

Bupati Fawait Minta Ribuan Mahasiswa KKN Fokus Dukung Desa dan Validasi Data Kemiskinan

"Mahasiswa jangan hanya menjadi pengamat atau pemberi kritik, tetapi juga ikut menghadirkan solusi," ujar Fawait.

Api Tinggi Tampak di Area TPA Benowo Surabaya, Begini Kesaksian Pengendara

Informan bernama Amar itu menyebut bahwa ia merekam kejadian tepat saat melintasi jalan menuju gerbang tol Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya.

Hukum Pidana Tanpa Kasta: Menepis Hak Istimewa di Hadapan Hukum

Hukum tunduk pada pembuktian, bukan pada jabatan. Kewenangan negara pun dibatasi oleh UU, dan bukan oleh hierarki kekuasaan.

Bisnis Keterampilan Rajut dari Candipari, Perjalanan Ernawati Menembus Pasar Internasional

Meski telah menjangkau pasar internasional, Ernawati tetap mempertahankan prinsip yang sama sejak awal merintis usaha, yakni bekerja dengan sabar dan telaten.