Cegah Praktik Suap Penerimaan Mahasiswa Baru, Universitas Airlangga Terapkan ini
- Penulis : Ade Resty
- | Kamis, 25 Agu 2022 12:32 WIB
selalu.id - Universitas Airlangga (Unair) memiliki cara atau sejumlah strategi untuk mencegah terjadinya suap dalam seleksi penerimaan mahasiswa pada jalur mandiri.
Rektor UNAIR Prof Mohammad Nasih mengatakan, jalur mandiri merupakan amanah dari Undang-Undang yang diatur oleh pemerintah. Sehingga,Perguruan tinggi memiliki sistemnya masing-masing untuk mengembangkan jalur ini.
Baca Juga: KPK Panggil 10 Saksi Kasus Dugaan Suap di Pemkab Ponorogo
"Dalam seleksi mahasiswa baru, Unair mengutamakan akademik atau nilai peserta. Akademik adalah indikator utama dalam proses seleksi mahasiswa baru pada jalur mandiri. Bukan karena sumbangannya banyak, namun karena memang nilai akademiknya layak untuk dapat diterima," kata Rektor Nasih, Kamis (25/8/2022).
Prof Nasih mengatakan, proses penetapan mahasiswa baru itu juga melibatkan berbagai pihak. Seperti dekan fakultas, badan penjaminan mutu (BPM), maupun badan pengawas internal (BPI).
"Paguyuban rektor juga selalu mengevaluasi sistem penerimaan mahasiswa jalur mandiri yang telah digunakan,"ujarnya.
Unair pun memiliki sejumlah strategi dalam melakukan penerimaan mahasiswa baru, Prof Nasih menjelaskan yang pertama, sosialisasi yakni melalui website dan juga media sosial universitas.
"Disosialisasikan bahwa tidak ada pembayaran yang sah selain yang tertera di peraturan rektor, yaitu Uang Kuliah Awal (UKA) dan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Segala transaksi keuangan tidak masuk dalam rekening pribadi, melainkan melalui rekening universitas,"tegasnya.
Kemudian, yang kedua sayembara, kata Prof Nasih, setiap tahun, Unair menyelenggarakan sayembara berkaitan dengan oknum-oknum yang mengaku dapat memasukkan putra putrinya masuk melalui jalur tertentu.
"Jika ada oknum yang mengaku dari Unair memberikan iming-iming tertentu, masyarakat bisa melaporkan ke kami, maka orang itu bisa dapat hadiah dari kami. Kami akan sangat senang jika masyarakat mau memberikan informasi yang valid,"jelasnya.
Lalu strategi yang ketiga, peniadaan kunjungan maupun tamu tanpa tujuan spesifik. Prof Nasih menegaskan, menjelang penerimaan mahasiswa baru, pihaknya seringkali mendapat kunjungan yang tidak spesifik tujuannya.
Baca Juga: KPK Tetapkan Bupati Pati Sudewo dan Tiga Kepala Desa Tersangka Pemerasan Pengisian Jabatan
"Kami tidak menerima tamu-tamu yang tidak jelas yang pengin ketemu rektor maupun pimpinan. Kami tidak akan temui. Ini untuk menghindari korupsi, kolusi, dan nepotisme,"ucapnya.
Lebih lanjut prof Nasih meyampaikan, selain tiga strategi tersebut, Unair memberlakukan strategi pendukung berupa penggunaan nilai ujian tulis berbasis komputer (UTBK) sebagai seleksi resmi dari pemerintah pusat dalam seleksi mandiri.
"Strategi itu untuk mereduksi oknum-oknum tertentu yang bermaksud melakukan kecurangan,"tuturnya.
Sebab itu untuk menghindari kolusi, Unair membentuk badan khusus bernama Pusat Pengelola Dana Sosial. Pembentukan PUSPAS untuk menghindari pihak-pihak yang ingin memberikan sumbangan atas nama pribadi.
"Bagi orang yang ingin menyumbang, kami tampung dalam mekanisme PUSPAS. Itu juga diaudit. Semua transparan. Intinya, UNAIR mengembangkan sistem di mana seluruh penerimaan tidak masuk rekening pribadi,"terangnya.
Baca Juga: Maidi Resmi Jadi Tersangka, Gerindra Jatim: Walikota Madiun Bukan Kader Partai !
Terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkungan kampus, lanjutnya, bukan persoalan sistem. Sebagus apapun sistemnya, jika yang mengelola sistem tidak berintegritas, peluang untuk melakukan kecurangan tetap besar.
Karena itu, faktor integritas menjadi perhatian utama dalam pengelolaan penerimaan mahasiswa baru di UNAIR.
"Sebaik apapun sistemnya, kalau manusianya, integritasnya tidak bagus, peluang untuk melakukan kecurangan akan tetap terjadi. Faktor integritas harus menjadi perhatian utama,"terangnya.
Prof Nasih juga menambahkan, dalam proses penerimaan baru, beberapa prodi memiliki keketatan hingga lebih dari satu persen. Artinya, satu peserta harus bersaing dengan lebih dari 99 peserta lainnya.
"Dalam beberapa prodi, ada pendaftar mencapai 2000 calon mahasiswa sementara yang diterima hanya 50 mahasiswa. Angka inilah yang kemudian memunculkan prasangka di masyarakat,"tutupnya. (Ade/SL1)
Editor : Redaksi