Selasa, 20 Okt 2026 04:52 WIB

Ahli Kesehatan Unair: Wali Kota Risma Sudah On Track Tangani Covid-19

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 05 Jun 2020 13:35 WIB

Surabaya (selalu.id) – Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (IKA FKM Unair), menyebut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berani mengambil langkah risiko, dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona atau Covid-19 di Kota Pahlawan.

Langkah risiko Wali Kota Risma yang dimaksud Persakmi IKA FKM Unair adalah berani melakukan tes polymerase chain reaction (PCR) secara massif. “Tes ini membawa konsekuensi yakni semakin ditemukannya kasus terkonfirmasi atau positif dalam jumlah banyak,” Estiningtyas Nugraheni SKM MARS, Pengurus Pusat Persakmi yang juga Ketua IKA FKM Unair, Jumat (5/6/2020).

Baca Juga: Anak Down Syndrome Tewas di Surabaya, Wali Kota Eri Bilang Gini

Tapi, menuruti Estiningtyas, temuan banyaknya kasus terkonfirmasi positif itu tidak perlu dicemaskan, apalagi secara berlebihan. “Justru langkah Walikota Bu Risma perlu mendapat apresiasi tinggi. Sebab belum tentu semua kepala daerah berani mengambil langkah beresiko itu,” kata Estiningtyas.

“Sebagaimana prinsip dasar penanganan Covid-19, bahwa tes masif adalah pintu masuk penemuan dini kasus baru, perlu diikuti dengan proses tracing dan penanganan perawatan sesuai standar. Dengan kata lain upaya Pemkot Surabaya dalam menangani Covid saat ini adalah on the track,” lanjutnya.

Berdasar data yang diamati hingga 3 Juni 2020, kontribusi Kota Surabaya atas kasus konfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur mencapai 53 persen. Sementara bila dibandingkan dengan kasus konfirmasi positif di seluruh Indonesia, maka Surabaya menyumbang sekitar 10 persen.

Estiningtyas menyebut, angka dan persentase tersebut, mungkin dianggap tidak terlalu baik dalam penanganan Covid-19. Meski sebetulnya bila kasus konfirmasi positif di Surabaya yang mencapai 2.803 orang bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Surabaya sebesar 3,15 juta masih berada dikisaran 0,009.

Dijelaskan, berbeda dengan daerah yang uji PCR rendah, bila satu kasus positif ditemukan dengan memeriksa sedikit orang. Bisa jadi, sebetulnya masih banyak orang yang terinfeksi tetapi belum diperiksa.

Baca Juga: Perda Air Limbah Disetujui, Fraksi Gerindra Minta Tarif Sanitasi Adil

“Tentu hal ini jauh lebih berbahaya dalam penanganan pendemi Covid-19. Dimana aspek tes sebagai pintu masuk penanganan lebih lanjut justru diabaikan. Padahal diketahui penemuan dini kasus baru yang terkonfirmasi bertujuan untuk menghentikan laju penularan,” kata Esti.

“Semakin banyak tes yang dilakukan, maka upaya memutus rantai penularan akan semakin terarah. Test yang masif setidaknya dilakukan 1/1000 penduduk. Dengan jumlah penduduk Surabaya sekitar 3,15 juta, maka idealnya tes Covid dilakukan minimal kepada 3150 warga Surabaya,” ungkap Estiningtyas.

Prof Dr. Sri Sumarmi S.K.M, M.Si, dosen dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, mengatakan, berdasarkan temuan 2.803 kasus positif, sebanyak 78 persen mendapatkan perawatan. Sebanyak 19 persen diantaranya telah dinyatakan sembuh. Tentu ini merupakan capaian yang cukup baik dari aspek prinsip dasar treatmen.

Baca Juga: Kasus Anak Down Syndrome Tewas di Surabaya, Polisi Tunggu Hasil Toksikologi

“Adapun kasus yang meninggal dunia yang mencapai 9 persen, Pemkot Surabaya perlu merilis data lebih lanjut karakteristik kasus kematiannya. Apakah ada penyakit penyerta (komorbid) yang juga diderita pasien kasus konfirmasi, rata-rata usia yang meninggal. Hal ini penting untuk menjadi pelajaran dan bahan edukasi bagi masyarakat berbasis bukti,” jelas Sumarmi.

Gurui besar ilmu kesehatan FKM Unair itu berharap, dengan pelaksanaan tes uji PCR yang masif di Kota Surabaya, pelaksanaan tracing yang ketat dan perawatan yang sesuai standart, Pemkot Surabaya dapat melakukan pemetaan efektivitas intervensi berdasarkan ukuran informasi angka reproduksi Covid-19 (Rt) per wilayah kecamatan.

“Berdasar ukuran bilangan reproduksi Covid-19 inilah Walikota Bu Risma dan jajaran Gugus Tugas Surabaya dapat menetapkan strategi pencegahan dan penanganan yang lebih tepat,” ujar Sumarmi.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Jaga Kamtibmas, Kapolres Nganjuk Instruksikan Kapolsek Jajaran Cek Rutin SPBU

Langkah ini dilakukan untuk memantau langsung stok BBM, terutama jenis bersubsidi, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan normal.

Diam-diam Prabowo Panggil Tito dan Dudung untuk Rapat Terbatas, Ada Apa?

Rapat terbatas ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi lintas kementerian yang sebelumnya digelar di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat.

Krisis Air Bersih dan Gagal Panen Mengancam Indonesia, Ini Peringatan BMKG

Tren ini memperparah penyusutan curah hujan tahunan hingga 2–3 persen per dekade, khususnya di wilayah selatan khatulistiwa, disertai kenaikan muka air laut.

Kapolri Ungkap Keterlibatan Perusahaan Asing dalam Kasus Karhutla, Bidik Tersangka Baru

Langkah tegas ini menjadi sinyal kuat bahwa penegakan hukum kasus karhutla tidak hanya menyasar pelaku di lapangan, melainkan juga menyasar korporasi asing.

Korban Tewas dalam Kebakaran Bromo Kini jadi Lima Orang, Ini Identitasnya

Gugurnya Munawi menambah daftar panjang pahlawan pemadam karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Sidak SPBU, Polres Probolinggo Tegaskan Stok BBM Aman dan Bantah Isu Panic Buying

Sejauh ini, sedikitnya 11 SPBU telah dipantau oleh tim gabungan, termasuk dari Satreskrim Polres Probolinggo, dan ditegaskan stok BBM aman.