Jumat, 04 Sep 2026 18:25 WIB

Ahli Kesehatan Unair: Wali Kota Risma Sudah On Track Tangani Covid-19

  • Penulis : Ade Resty
  • | Jumat, 05 Jun 2020 13:35 WIB

Surabaya (selalu.id) – Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (IKA FKM Unair), menyebut Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berani mengambil langkah risiko, dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona atau Covid-19 di Kota Pahlawan.

Langkah risiko Wali Kota Risma yang dimaksud Persakmi IKA FKM Unair adalah berani melakukan tes polymerase chain reaction (PCR) secara massif. “Tes ini membawa konsekuensi yakni semakin ditemukannya kasus terkonfirmasi atau positif dalam jumlah banyak,” Estiningtyas Nugraheni SKM MARS, Pengurus Pusat Persakmi yang juga Ketua IKA FKM Unair, Jumat (5/6/2020).

Baca Juga: Pemkot Surabaya Matangkan RDTR 2026, Bebaskan Lahan Warga yang 'Terjebak' Proyek Mangkrak

Tapi, menuruti Estiningtyas, temuan banyaknya kasus terkonfirmasi positif itu tidak perlu dicemaskan, apalagi secara berlebihan. “Justru langkah Walikota Bu Risma perlu mendapat apresiasi tinggi. Sebab belum tentu semua kepala daerah berani mengambil langkah beresiko itu,” kata Estiningtyas.

“Sebagaimana prinsip dasar penanganan Covid-19, bahwa tes masif adalah pintu masuk penemuan dini kasus baru, perlu diikuti dengan proses tracing dan penanganan perawatan sesuai standar. Dengan kata lain upaya Pemkot Surabaya dalam menangani Covid saat ini adalah on the track,” lanjutnya.

Berdasar data yang diamati hingga 3 Juni 2020, kontribusi Kota Surabaya atas kasus konfirmasi positif Covid-19 di Jawa Timur mencapai 53 persen. Sementara bila dibandingkan dengan kasus konfirmasi positif di seluruh Indonesia, maka Surabaya menyumbang sekitar 10 persen.

Estiningtyas menyebut, angka dan persentase tersebut, mungkin dianggap tidak terlalu baik dalam penanganan Covid-19. Meski sebetulnya bila kasus konfirmasi positif di Surabaya yang mencapai 2.803 orang bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Surabaya sebesar 3,15 juta masih berada dikisaran 0,009.

Dijelaskan, berbeda dengan daerah yang uji PCR rendah, bila satu kasus positif ditemukan dengan memeriksa sedikit orang. Bisa jadi, sebetulnya masih banyak orang yang terinfeksi tetapi belum diperiksa.

Baca Juga: Marak Pemotongan Unggas Ilegal di Permukiman Padat Surabaya, DPRD Bilang Begini

“Tentu hal ini jauh lebih berbahaya dalam penanganan pendemi Covid-19. Dimana aspek tes sebagai pintu masuk penanganan lebih lanjut justru diabaikan. Padahal diketahui penemuan dini kasus baru yang terkonfirmasi bertujuan untuk menghentikan laju penularan,” kata Esti.

“Semakin banyak tes yang dilakukan, maka upaya memutus rantai penularan akan semakin terarah. Test yang masif setidaknya dilakukan 1/1000 penduduk. Dengan jumlah penduduk Surabaya sekitar 3,15 juta, maka idealnya tes Covid dilakukan minimal kepada 3150 warga Surabaya,” ungkap Estiningtyas.

Prof Dr. Sri Sumarmi S.K.M, M.Si, dosen dan peneliti Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, mengatakan, berdasarkan temuan 2.803 kasus positif, sebanyak 78 persen mendapatkan perawatan. Sebanyak 19 persen diantaranya telah dinyatakan sembuh. Tentu ini merupakan capaian yang cukup baik dari aspek prinsip dasar treatmen.

Baca Juga: Ketika Korban Penganiayaan di Surabaya Diintimidasi dan Ditawari Uang Damai Rp150 Juta

“Adapun kasus yang meninggal dunia yang mencapai 9 persen, Pemkot Surabaya perlu merilis data lebih lanjut karakteristik kasus kematiannya. Apakah ada penyakit penyerta (komorbid) yang juga diderita pasien kasus konfirmasi, rata-rata usia yang meninggal. Hal ini penting untuk menjadi pelajaran dan bahan edukasi bagi masyarakat berbasis bukti,” jelas Sumarmi.

Gurui besar ilmu kesehatan FKM Unair itu berharap, dengan pelaksanaan tes uji PCR yang masif di Kota Surabaya, pelaksanaan tracing yang ketat dan perawatan yang sesuai standart, Pemkot Surabaya dapat melakukan pemetaan efektivitas intervensi berdasarkan ukuran informasi angka reproduksi Covid-19 (Rt) per wilayah kecamatan.

“Berdasar ukuran bilangan reproduksi Covid-19 inilah Walikota Bu Risma dan jajaran Gugus Tugas Surabaya dapat menetapkan strategi pencegahan dan penanganan yang lebih tepat,” ujar Sumarmi.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Kemenag Jatim dan Baznas Kirim 27 Ton Bantuan Logistik untuk Korban Bencana di NTT

Pengiriman ini merupakan hasil kolaborasi bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jatim dan Forum Zakat (FOZ) Jatim.

Ternyata Banyak Sarjana di Surabaya Belum Update KK, Disdukcapil Wanti-wanti Begini

Irvan menekankan, kesadaran memperbarui data kependudukan kian krusial menyongsong era integrasi data nasional dan pengembangan Digital Public Infrastructure.

Korban Keracunan MBG Sidoarjo Tembus 730 Orang, BGN-SPPG Malah Mangkir di Hearing DPRD

Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo, Usman, mendesak audit dan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh dapur penyedia program MBG.

Sambut Hari Pelanggan Nasional 2026, BRI Cabang Mojokerto Beri Kejutan Haru untuk Nasabah

Momen tahunan ini dimanfaatkan sebagai wadah menyapa langsung sekaligus mendekatkan diri dengan nasabah setia.

Tak Cuma Fisik, Dinkes Sidoarjo Gelar Rapid Asesmen Jiwa Pulihkan Trauma Santri Keracunan MBG

Langkah rapid asesmen ini menegaskan komitmen Pemkab Sidoarjo bahwa penanganan darurat MBG dilakukan secara menyeluruh hingga aspek psikologis korban pulih.

Tiga OPD Pemkab Jember Sabet Penghargaan Public Service of The Year 2026

Gus Fawait menegaskan apresiasi ini bukan sekadar piala biasa, melainkan pelecut semangat agar Pemkab Jember terus melahirkan terobosan baru.