Senin, 19 Okt 2026 06:03 WIB

Jawa Timur Urutan Kedua Covid-19, Saran DPRD untuk Gubernur: Stop Pencitraan, Stop Menyalahkan Kabupaten/Kota

  • Penulis : Ade Resty
  • | Selasa, 12 Mei 2020 10:11 WIB

Surabaya (selalu.id) – Kalangan DPRD Jawa Timur kembali mengkritisi kebijakan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dalam menangani pandemi Covid-19.

Pejabat nomor satu di Jawa Timur ini dinilai tidak melakukan langkah strategis yang komprehensif dalam menangani dampak Covid-19, mulai dari aspek kesehatan, jaring pengaman sosial, hingga pemulihan ekonomi.

Baca Juga: Perkuat Sinergi, Kapolri Temui Rais Aam PBNU di Surabaya

”Gubernur gagal menangani pendemi Covid-19. Faktanya angka kasus Covid-19 di Jawa Timur terus naik. Kita mau bilang apa? Secara nasional, total Jawa Timur sekarang rangking kedua, sebanyak 1.502 kasus. Setelah DKI di urutan pertama, dan melampaui Jawa Barat,” ujar Deni Wicaksono, anggota Komisi E Bidang Kesejahteraan Rakyat DPRD Jatim, Senin (11/5/2020).

Dikatakan lebih lanjut, dengan refocussing APBD Pemprov Jatim Rp 2,3 triliun, bagi masyarakat di daerah-daerah tidak terasa hentakan kebijakan Gubernur Khofifah Indar Parawansa untuk menangani pendemi Covid-19. Klaster-klaster baru terus bermunculan di berbagai kabupaten/kota di provinsi ini.

Dari 57 klaster di Jawa Timur, diantaranya yang besar klaster Tenaga Kesehatan Haji Indonesia, pabrik rokok Sampoerna, Temboro Magetan, dan yang terbaru pasar tradisional Bojonegoro.

”Antisipasi Gubernur dan Pemprov Jatim terhadap klaster-klaster besar dirasakan masyarakat di daerah-daerah tidak optimal,” kata Deni yang berasal dari Dapil IX, diantaranya Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek.

“Publik menangkap, Gubenur dan Pemprov Jatim hanya sibuk jumpa pers tiap hari di Gedung Negara Grahadi untuk mengabarkan penambahan jumlah pasien. Di lapangan tidak terlihat langkah konkrit yang strategis dan efektif dalam mengerem laju penyebaran Covid-19 di Jawa Timur,” ujar Deni Wicaksono.

Politisi muda itu mengingatkan Gubernur Khofifah Indar Parawansa merupakan pemimpin rakyat Jawa Timur. “Bukan hanya Gubenurnya Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Stop segala pencitraan. Rakyat butuh tindakan konkrit. Sudahilah silang pendapat Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya. Masyarakat tidak perlu ditunjukkan pentas gegeran antar lembaga pemerintahan,” kata Deni.

Baca Juga: Cegah Inflasi, Pemprov Jatim Gelar Pasar Murah ke-158 di Mojokerto

Deni juga menyoroti desain kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tidak dikomandoi Pemprov Jatim dengan baik.

”PSBB secara desain kebijakan bagus, tapi implementasinya kacau. Gubernur yang sejak awal ngebet mendorong PSBB Surabaya Raya terlihat tidak siap,” ujarnya.

”Alih-alih sukses mengerem laju penambahan pasien positif, PSBB yang tak dijalankan dengan desain kebijakan terpadu. Mulai aspek medis, protokol kesehatan di seluruh sektor, hingga pemenuhan jaring pengaman sosial, Bagi rakyat, kebijakan ini dirasakan menyengsarakan,” imbuh Deni.

Yang juga disayangkan Deni adalah absennya Pemprov Jatim dalam memandu kolaborasi antardaerah dalam menanggulangi Covid-19. Yang tampak justru sebaliknya. Pemprov Jatim sibuk menyalahkan kabupaten/kota dalam penanganan Covid-19.

Baca Juga: DPRD Jatim Sahkan Perda Hak Disabilitas, Perkuat Perlindungan dan Kesetaraan Hukum

”Yang namanya pemimpin tertinggi di sebuah provinsi itu harus ambil tanggung jawab, bukan melempar kesalahan. Pemprov Jatim punya sumberdaya sangat besar, fasilitas kesehatan terbaik di tangan provinsi, duitnya puluhan triliun, seharusnya jangan menyalahkan kabupaten/kota yang dari sisi apapun kalah dari sumberdaya Pemprov,” tegas Deni.

Yang terbaru, misalnya, ketika Khofifah mengkritik APBD kabupaten/kota yang tidak rinci dalam memaparkan mata anggaran penanganan Covid-19.

”Di Jatim, berdasarkan keputusan Menkeu, ada lebih dari 27 kabupaten/kota yang ditunda penyaluran dana alokasi umum dan dana bagi hasilnya. Dampaknya luar biasa bagi daerah, karena duit dari pusat tidak mengucur penuh. Lebih baik Pemprov Jatim membina, mendampingi, agar realokasi APBD sesuai SKB Menkeu dan Mendagri, bukan malah menyalahkan,” ujarnya.

”Kan Pemprov Jatim itu membina dan mengoordinasi kabupaten/kota, bukan seperti pengamat yang mengkritik,” pungkas Deni.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Hasil MU vs Leeds 1-1, Suporter The Red Devils Desak Carrick Out

Kondisi ini kian memojokkan posisi Michael Carrick di kursi kepelatihan. Suporter mulai kehilangan kesabaran dan meminta dia out atau dipecat.

Pendakian Horor Gunung Anjasmoro, Terjebak di Hutan Keramat dan Desa Terkutuk

Warga setempat meyakini barang siapa yang memasuki Desa Mahkota Prabu dan belum keluar sampai pagi menjelang, besar kemungkinan akan tinggal selamanya di sana.

Geliat Budaya dan Ekonomi Warga Surabaya dari Panggung Fasum Perumahan

DPRD pun mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya agar memberi kemudahan akses serta kepastian izin pemanfaatan fasum untuk kegiatan kebudayaan warga.

Dramatis! Bermain 10 Pemain, Deltras FC Ditahan Imbang Persis Solo 3-3

Tambahan satu poin ini tetap mengamankan posisi Deltras FC di puncak klasemen sementara dengan koleksi 14 poin. SedangkanPersis di peringkat 7 dengan enam poin.

Pemprov Jatim dan ICCN Pacu Ekosistem Ekonomi Kreatif Tembus Pasar Global

Penguatan ekosistem serta peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi kunci utama untuk membuka peluang usaha dan menyerap tenaga kerja.

PDIP Tergetkan Sapu Bersih Kemenangan di Dapil 5 Surabaya pada Pemilu 2029

Armuji menantang seluruh kader PDIP di Dapilb5 Surabaya untuk menyapu bersih kemenangan di wilayah sasaran konsolidasi partai pada Pemilu 2029.