BEM SI Jatim
Potret Aksi 'Agustus Kelam' di Surabaya, Serukan Perlindungan hingga DBH Migas Madura
- Penulis : Ade Resty
- | Senin, 31 Agu 2026 18:07 WIB
selalu.id - Aliansi BEM SI Jawa Timur menggelar aksi simbolik bertajuk “Agustus Kelam, Jatim Melawan” di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (31/8/2026).
Aksi ini digelar sebagai ruang refleksi mendalam atas sederet persoalan bangsa sepanjang bulan Agustus sekaligus awal konsolidasi menjelang gerakan September Hitam.
Baca Juga: Target PAD Parkir Terlalu Tinggi, DPRD Surabaya: Jangan Hanya Kejar Angka, Layani Warga!
Mahasiswa menilai momentum peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tidak boleh sekadar berhenti pada perayaan seremoni semata.
Lebih dari itu, kemerdekaan harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana negara hadir dalam memberikan rasa aman, perlindungan, kesejahteraan, serta keadilan bagi seluruh rakyatnya.
“Indonesia telah merdeka selama 81 tahun, tetapi kemerdekaan harus dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan masyarakat,” tulis pernyataan resmi Aliansi BEM SI Jawa Timur.
Dalam pembacaan situasinya, mahasiswa menyoroti sejumlah tragedi kemanusiaan yang menelan korban jiwa, salah satunya kericuhan yang menewaskan warga.
Mahasiswa menegaskan bahwa setiap korban jiwa tidak boleh berhenti sebatas angka dalam laporan. Setiap peristiwa kematian harus ditindaklanjuti dengan pengungkapan objektif dan evaluasi total agar tidak terus berulang.
Selain isu kemanusiaan, persoalan keselamatan warga akibat bencana alam juga menjadi perhatian serius.
Merujuk pada bencana gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Agustus 2026, mahasiswa mendesak penanganan bencana tidak hanya berfokus pada fase tanggap darurat.
Baca Juga: BEM SI Jatim Gelar Aksi Simbolik di Grahadi Surabaya, Soroti Ketimpangan Anggaran Bencana
Pemerintah didesak untuk memperkuat mitigasi bencana, sistem peringatan dini, infrastruktur tahan bencana, perlindungan kelompok rentan, hingga jaminan pemulihan pascabencana.
Sorotan tajam juga diarahkan pada penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Mahasiswa menekankan penanganan Karhutla tidak boleh reaktif saat api sudah meluas, melainkan harus memperkuat langkah pencegahan, pengawasan tata kelola lahan, perlindungan ekosistem, serta jaminan kesehatan masyarakat yang terdampak paparan asap.

Tak hanya isu nasional, Aliansi BEM SI Jatim turut membawa persoalan daerah, khususnya ketimpangan pembangunan di Pulau Madura terkait Dana Bagi Hasil (DBH) Minyak dan Gas Bumi (Migas).
Mahasiswa menilai pemanfaatan sumber daya alam harus memberikan dampak serta manfaat nyata bagi masyarakat daerah penghasil.
Baca Juga: Demo Jukir di Pemkot Surabaya, Tuntut Sistem Non-tunai hingga Bagi Hasil 70 Persen
Bagi mereka, DBH Migas bukan sekadar angka-angka dalam struktur anggaran belanja, melainkan instrumen vital untuk pembangunan infrastruktur, pemenuhan kualitas hidup masyarakat, dan pengentasan kesenjangan antarwilayah.
Rangkaian aksi simbolik di Surabaya ini diakhiri dengan doa bersama lintas agama serta prosesi tabur bunga sebagai bentuk penghormatan dan rasa duka mendalam kepada para korban tragedi kemanusiaan maupun bencana.
Gerakan ini dipastikan tidak berhenti di sini. Aliansi BEM SI Kerakyatan Jawa Timur akan melangkah ke tahap berikutnya lewat gerakan September Hitam.
Pada tahap tersebut, mahasiswa dari berbagai daerah di Jawa Timur akan menghimpun data, memperdalam kajian, dan menyusun tuntutan berbasis fakta riil di lapangan guna menagih komitmen serta kehadiran negara.
Editor : Zein Muhammad