Kamis, 15 Okt 2026 09:53 WIB

Alasan di Balik 9 Ulama Sepuh Pilih Kiai Miftachul Akhyar Sebagai Rais Aam PBNU

Sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) berkumpul, membawa bobot spiritual dan keilmuan tertinggi jam’iyyah untuk menentukan pimpinan Rais Aam PBNU. (Dok. Istimewa).
Sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) berkumpul, membawa bobot spiritual dan keilmuan tertinggi jam’iyyah untuk menentukan pimpinan Rais Aam PBNU. (Dok. Istimewa).

selalu.id - Di balik pintu tertutup Gedung Sidang Pleno V Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, takdir kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk lima tahun ke depan dirumuskan.

Pada Minggu (30/8/2026) malam, ruang musyawarah menjadi saksi ketika sembilan ulama sepuh yang tergabung dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) berkumpul, membawa bobot spiritual dan keilmuan tertinggi jam’iyyah untuk menentukan sosok penuntun organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Baca Juga: Potret Kebijakan Absurd Penanganan Judi Online di Indonesia

Musyawarah sembilan kiai sepuh ini bukan sekadar prosesi pemungutan suara biasa. Di tanah kelahiran para muassis (pendiri) NU, para anggota AHWA menyelami ikhtiar keutamaan: mencari sosok yang tidak mengejar tampuk kekuasaan, melainkan figur yang siap menuntun jam’iyyah kembali ke akar spiritualnya memasuki abad kedua.

Pilihan sembilan ulama sepuh ini akhirnya bulat menunjuk kembali KH Miftachul Akhyar untuk mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031.

Keputusan mufakat sembilan ulama tersebut diumumkan secara khidmat oleh KH Anwar Iskandar dari atas podium.

Baca Juga: Menatap Abad Kedua NU di Bawah Kepemimpinan Teduh Gus Kikin

Pilihan AHWA yang jatuh kepada Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya ini didasarkan pada rekam jejak integritas dan sanad keilmuan yang kokoh.

Di mata para ulama sepuh, Kiai Miftach yang berguru di pesantren Tambakberas, Rejoso, Sidogiri, hingga Lasem sejak usia delapan tahun, merupakan gambaran ideal kepemimpinan yang teduh, independen, dan teguh memegang prinsip, sebagaimana dibuktikannya saat melepaskan jabatan Ketua Umum MUI demi menghindari rangkap jabatan.

Baca Juga: Gus Kikin Terpilih jadi Ketum PBNU

Melalui kehendak dan pertimbangan mendalam sembilan ulama sepuh AHWA, obor kepemimpinan tertinggi PBNU kini resmi kembali menyala di tangan Kiai Miftachul Akhyar.

Amanah abadi dari tanah Jombang ini menjadi pijakan utama NU untuk terus merawat tradisi, menyejukkan umat, dan menuntun langkah organisasi menyinari dinamika zaman.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Top 5 Berita: Penggerebekan Jalan Kunti hingga Toko Miras di Surabaya Disegel

Pembaca banyak terfokus ke peristiwa penggerebekan Jalan Kunti.

Hasil Champions League: Drama 7 Gol di Olimpico! Real Madrid Remontada Kalahkan AS Roma 4-3

Kemenangan ini jadi modal penting bagi pasukan Jose Mourinho untuk bersaing di fase grup.

Bos Biro Umroh Surabaya Dipolisikan Kasus Kekerasan Seksual-Aborsi, Kuasa Hukum Bantah Begini

Berdasarkan keterangan kuasa hukum pelapor, kedua belah pihak awalnya bertetangga. Kedekatan bermula setelah suami korban meninggal dunia pada 2023. 

Jejak Kelam Kampung Narkoba Jalan Kunti Surabaya

Kawasan Jalan Kunti Surabaya pernah tumbuh menjadi pusat peredaran sabu-sabu yang tertutup, sistematis, dan sukar ditembus yang punya sistem keamanan.

Respons Santai Syaifuddin Zuhri Soal Eks Kader PDIP Pindah ke PSI, Ini Fokus yang Lebih Penting

Dalam dinamika ini, Kaji Ipuk juga menyinggung perlunya edukasi bagi kader yang dinilai masih perlu memahami nilai dan jati diri partai.

Marhaen Lantik 103 Pejabat Pemkab Nganjuk, Tekankan Layanan Kecamatan dan Netralitas Pilkades

Marhaen menekankan agar para pejabat yang baru dilantik segera beradaptasi di tempat tugas yang baru dan langsung bekerja untuk masyarakat.