Tekan Penularan HIV pada Remaja, Pemkab Sidoarjo Geser Fokus ke Edukasi dan Promotif
- Penulis : Ariyanto
- | Kamis, 06 Agu 2026 19:20 WIB
selalu.id - Penanganan Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Sidoarjo kini tak lagi hanya berpusat pada penemuan kasus dan skrining massal.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mulai menggeser fokus pada langkah promotif dan edukatif, membidik kalangan pelajar sebagai benteng utama pencegahan sejak dini.
Baca Juga: 60 Remaja di Sidoarjo Idap HIV: Tujuh Meninggal, 53 Berjuang Hidup
Komitmen tersebut diwujudkan lewat gelaran Sidoarjo Youth Safeguard 2026 di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Rabu (5/8/2026).
Kolaborasi Dinkes Sidoarjo, Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), dan Umsida ini menghimpun ratusan siswa SMA/SMK se-Kabupaten Sidoarjo.
Program ini dirancang komprehensif: memadukan pemahaman HIV, kesehatan reproduksi, hingga pembentukan karakter agar para remaja tangguh menghadapi tekanan perilaku berisiko.
Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina menegaskan, pembekalan seputar kesehatan reproduksi dan pemahaman diri adalah investasi perlindungan bagi masa depan generasi muda.
"Edukasi tentang seksual dan pengenalan diri para pelajar merupakan bentuk upaya melindungi generasi muda. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, mereka diharapkan mampu menjaga diri dari perilaku berisiko, sekaligus teredukasi untuk tidak memberikan stigma kepada Orang dengan HIV (ODHIV)," katanya.
Lakhsmie menilai, strategi pengendalian tak cukup sekadar menemukan kasus. Memutus rantai penularan dari akar, yakni kelompok usia muda menjadi kunci menekan angka kasus baru di masa mendatang.
Berdasarkan data Dinkes Sidoarjo periode 2001 hingga Juni 2026, tercatat 60 kasus HIV secara kumulatif pada kelompok anak dan remaja usia 11–17 tahun. Dari jumlah itu, 7 anak meninggal dunia dan 53 anak lainnya berjuang hidup bersama HIV.
Baca Juga: Gempur Miras Ilegal di Sidoarjo: 3 Penjual Diseret ke Sidang Tipiring, Didenda hingga Rp1 Juta
Namun, Lakhsmie meminta masyarakat tidak merespons angka ini dengan kepanikan. Data tersebut justru menjadi cermin meluasnya jangkauan deteksi dini yang masif dilakukan Pemkab Sidoarjo.
"Sehingga masyarakat yang ditemukan terinfeksi dapat segera memperoleh pengobatan," tegasnya.
Dinkes merinci, temuan kasus HIV pada kelompok usia di atas 24 tahun masih didominasi faktor perilaku berisiko. Sementara pada rentang usia 0–10 tahun, penularan mayoritas terjadi secara vertikal dari ibu ke anak.
Guna membendung penularan vertikal ini, layanan skrining berdasarkan siklus hidup terus diperkuat, termasuk lewat program triple eliminasi (HIV, sifilis, dan hepatitis B) bagi ibu hamil serta pemeriksaan awal pada bayi.
Di sela edukasi, Dinkes juga kembali meruntuhkan mitos salah seputar HIV yang kerap memicu stigma.
Baca Juga: 187 Jabatan Kepsek di Sidoarjo Kosong, DPRD Minta BKD dan Dindik Segera Bertindak
Masyarakat diminta paham bahwa HIV tidak menular melalui kontak fisik harian seperti berjabat tangan, berpelukan, belajar bersama, berbagi makanan, pemakaian toilet bersama, maupun gigitan nyamuk.
Penularan HIV sejatinya hanya terjadi melalui aktivitas spesifik: hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta penularan dari ibu ke bayi jika tidak mendapatkan intervensi medis selama kehamilan, persalinan, dan menyusui.
Tak hanya urusan medis, ajang ini turut membekali peserta dengan ketahanan mental. Psikolog Pendidikan dan Keluarga, Widji Lestari, menekankan bahwa benteng terkuat remaja berada pada keberanian mengambil keputusan tegas.
Rasa percaya diri serta keberanian berkata "tidak" pada ajakan berisiko menjadi modal utama yang harus dipupuk bersama oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat demi mencetak generasi muda yang bertanggung jawab.
Editor : Zein Muhammad