Minggu, 16 Agu 2026 01:43 WIB

Kisah Perjuangan Julianti, Pedagang Asongan di Puncak Penanggungan saat Badai Besar

  • Penulis : Ade Resty
  • | Minggu, 10 Mei 2026 17:22 WIB
Julianti, penjual cilok di Puncak Penanggungan. (Ade/Selalu.id)
Julianti, penjual cilok di Puncak Penanggungan. (Ade/Selalu.id)

selalu.id — Julianti (60), seorang pedagang asongan di puncak Gunung Penanggungan, tak akan pernah melupakan momen saat badai besar menerjang kawasan puncak gunung tersebut.

Perempuan asal Gempol, Pasuruan itu harus bertahan seorang diri di tengah terpaan angin kencang, hujan deras, dan kabut tebal yang menutup seluruh area puncak.

Baca Juga: Pembakar-Perusak Mobil Polisi saat Bentrok di Pasuruan Diamankan, Hukuman Berat Menanti

Sudah tiga tahun terakhir Julianti berjualan di atas Penanggungan. Ia menjajakan pentol, mie instan, kopi, hingga minuman kemasan dan jajanan untuk para pendaki yang singgah. Demi bisa membuka lapak di puncak, ia harus memulai perjalanan sejak dini hari.

Setiap akhir pekan, Julianti biasanya berangkat sekitar pukul 03.00 WIB. Ia tidak naik sendirian, melainkan bersama suaminya.

Dia juga menggunakan porter untuk membantu membawa air dan barang dagangan ke atas puncak.

“Jam tiga pagi berangkat. Sama suami saya. Dia yang bawa air sama barang-barang juga,”ujar Julianti.

Kata dia, perjalanan menuju puncak biasanya dimulai selepas Magrib atau Isya untuk persiapan barang, lalu dilanjutkan pendakian dini hari agar bisa tiba sebelum pendaki ramai berdatangan.

Bagi Julianti, berjualan di atas gunung bukan sekadar mencari uang tambahan. Itu menjadi satu-satunya cara agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

“Kalau di rumah saya tidak punya pekerjaan. Anak masih sekolah, yang satu baru lulus SMK, yang satu masih kelas dua. Keinginan saya cuma satu, anak saya bisa sekolah sampai lulus. Makanya saya cari nafkah ke sini,” katanya.

Namun, di balik aktivitas itu, ada pengalaman mencekam yang masih ia ingat hingga kini. Julianti bercerita badai besar itu terjadi beberapa bulan lalu, sebelum Ramadan 2026. Saat itu cuaca mendadak berubah drastis. Langit gelap, angin datang sangat kencang, lalu hujan turun deras.

“Saya sendirian satu bulan full itu sebelum puasa. Badai itu besar banget. Tidak kelihatan apa-apa. Gelap banget di sini,” ujarnya kepada Selalu.id, saat ditemui di Puncak Penanggungan, Sabtu (9/5/2026).

Julianti bercerita, situasi saat itu sangat menegangkan. Angin yang berembus keras membuat tubuhnya sulit berdiri tegak.

Baca Juga: Polisi Buru Pelaku Pembakar dan Perusak Mobil Patroli dalam Bentrokan di Pasuruan

“Tidak kelihatan apa-apa. Gelap banget di sini. Tidak bisa berdiri,” katanya.

Saat cuaca buruk datang, para pedagang lain memilih tidak naik ke puncak. Julianti justru terjebak sendirian di lokasi. Tidak ada teman, tidak ada tempat berlindung layak, bahkan tenda pun tidak punya.

Ia hanya bisa menutup barang dagangannya menggunakan batu agar tidak diterbangkan angin.

“Barang saya tutup pakai batu. Saya di dalam sini sendirian,” tuturnya.

Rasa takut tak bisa disembunyikan. Dalam kondisi sepi dan badai terus menerjang, Julianti mengaku sempat menangis.

“Menangis rasanya kalau sendirian di sini pas badai. Pokoknya susah sekali saya sendirian di sini,” ucapnya lirih.

Baca Juga: Bentrok Oknum Suporter dengan Warga di Pasuruan, 3 Mobil Polisi Dirusak dan Dibakar

Menurutnya, badai bisa datang siang maupun malam hari. Saat cuaca buruk datang, pendaki memang masih ada, namun biasanya memilih turun dan tidak membeli dagangannya.

“Siang. Siang malam juga di sini. Pendakinya masih ada, tapi kalau sudah badai ya tidak beli, habis itu pulang,” katanya.

Jika cuaca cerah, dagangannya biasanya lebih laku. Namun untuk bertahan di puncak bukan perkara mudah. Selain cuaca ekstrem, kondisi fisik juga menjadi tantangan berat di usianya yang kini 60 tahun.

“Sulit banget. Nyawa juga taruhannya. Kalau naik ke gunung ya kaki sakit banget, kaku semuanya,” ujar Julianti.

Meski begitu, perempuan 60 tahun tersebut memilih bertahan dan pasrah demi kehidupan keluarganya.

“Pasrah aja mba, yang penting anak saya bisa sekolah sampai lulus,” pungkasnya.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Selain di Margorejo Surabaya, Pos Polisi Cito juga Dilempar Molotov

Pantauan di Pos Polisi Cito, saat ini sejumlah petugas tengah berjaga. Di dalam ruang tengah pos polisi itu, terlihat terpasang police line atau garis polisi.

Pelaku Pelemparan Molotov di Pos Polisi Margorejo Surabaya Itu Kendarai Motor

Saat ini, polisi tengah melakukan serangkaian penyelidikan untuk mengungkap pelakunya. Pelaku diketahui mengendarai motor dan kabur ke arah Utara.

Pos Polisi Margorejo Surabaya Dilempar Molotov, Begini Kesaksian Warga

Molotov yang dilempar oleh seorang pengendara motor misterius, itu disebut mengeluarkan suara ledakan meski tidak keras.

Pos Polisi Margorejo Surabaya Dilempar Molotov oleh Pemotor Misterius

Saat ini, polisi masih di lokasi kejadian untuk melakukan serangkaian penyelidikan, termasuk memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap insiden tersebut.

KUA-PPAS Sidoarjo 2026 Digedok, Belanja Daerah Turun Rp102,78 Miliar

Banggar DPRD Sidoarko meminta Pemkab memastikan dokumen perencanaan nasional, provinsi, dan kabupaten tetap selaras.

Pengurus ESI Gresik 2025-2028 Dilantik, Persiapan Porprov Jatim jadi Fokus

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani meminta ESI Gresik memperbanyak event kompetisi untuk menjaring sekaligus membina bibit atlet esports.