Pipa PDAM di Surabaya Sering Jebol Gegara Proyek Drainase, Biaya Perbaikan Ditanggung PAM
- Penulis : Ade Resty
- | Rabu, 30 Sep 2026 14:56 WIB
selalu.id - Pipa PDAM berulang kali terkena imbas galian proyek drainase untuk mengatasi genangan di Kota Surabaya mengalami rusak dan harus dipindahkan dari tempat semula.
Perumda Air Minum (PAM) Surya Sembada juga harus berulang kali memindahkan maupun memperbaiki jaringan pipa. Sepanjang 2026, sedikitnya 110 titik pipa milik PAM Surya Sembada terdampak pengerjaan saluran air.
Baca Juga: Soal Kebocoran Pipa PDAM di Jalan Merr Surabaya, Ini Penyebabnya
Rinciannya, 36 titik berada di Zona 1, 33 titik di Zona 2 dan 41 titik di Zona 3. Namun, ketika jalur pipa harus dipindahkan untuk menyesuaikan proyek, biaya penanganannya menjadi tanggung jawab pemilik utilitas.
Manajer Tata Usaha dan Humas Perumda Air Minum Surya Sembada, Louis Andilun Gatu, mengatakan ketentuan tersebut berlaku bagi jaringan utilitas yang berada di area proyek pemerintah.
“Jadi memang pembangunan Kota Surabaya ini tidak bisa dihindari, kita kota besar yang sedang berkembang. Ujung-ujungnya kita tetap mendukung program kerja Pemkot Surabaya karena tujuannya untuk masyarakat, terutama mengatasi masalah utama yaitu genangan,” kata Louis, Rabu (30/9/2026).
Menurut Louis, berdasarkan aturan yang berlaku, keberadaan utilitas bawah tanah seperti pipa air maupun jaringan lainnya harus menyesuaikan dengan pembangunan yang dilakukan pemerintah.
Dengan demikian, ketika terdapat kebutuhan pemindahan jaringan pipa akibat proyek drainase, biaya penanganan maupun relokasi menjadi tanggung jawab pemilik utilitas.
“Seluruh utilitas bawah tanah mulai dari pipa air hingga kabel optik harus menyesuaikan dengan proyek pemerintah,” ujarnya.
Persoalan tersebut menjadi semakin kompleks karena sebagian jaringan pipa merupakan jaringan lama yang posisi aktualnya tidak selalu sama dengan data pemetaan.
Louis mencontohkan, dalam sistem pemetaan sebuah pipa bisa tercatat berada sekitar satu meter dari jalur saluran. Namun ketika dilakukan penggalian, posisi pipa di lapangan ternyata mencapai 2,5 meter.
Kondisi tersebut membuat jaringan berisiko tersenggol alat berat saat pengerjaan proyek berlangsung.
“Koordinasi dengan DSDABM (Dinas Sumber Daya Air Bina Marga) sebenarnya terus berjalan lewat surat resmi untuk proyek-proyek besar. Namun kendalanya ada pada pipa-pipa tua yang letaknya miring atau tidak teridentifikasi di sistem kami. Misalnya di peta berjarak 1 meter dari saluran, ternyata di lapangan posisinya 2,5 meter, sehingga akhirnya tersenggol alat berat,” jelasnya.
Sejumlah kejadian bahkan terjadi dalam tiga hari berturut-turut pada akhir September.
Pada Jumat (25/9/2026) lalu, pipa berdiameter 200 milimeter di Jalan Manyar depan Kelurahan Baratajaya terdampak pemasangan box culvert. Perbaikan jaringan membutuhkan waktu sekitar sembilan jam.
Kemudian Sabtu (26/9/2026), pipa berdiameter 200 milimeter di Jalan Raya Manyar depan Terminal Bratang putus akibat pengerjaan saluran. Gangguan distribusi air berdampak pada Bratang Binangun, Nginden Kota, Manyar, Ngagel Madya, Menur, Ngagel Mulyo hingga sebagian Ngagel Jaya Selatan.
Baca Juga: Hindari Jalan Merr Surabaya, Ada Pipa PDAM Bocor bikin Macet
Terbaru, pipa PAM Surya Sembada kembali terdampak pengerjaan saluran air di Jalan Tanjungsari pada Minggu (27/9/2026) malam.
PAM Pilih Pindahkan Pipa Sebelum Digali
Untuk menghindari kerusakan yang lebih besar, PAM Surya Sembada memilih melakukan pemindahan jaringan terlebih dahulu untuk proyek-proyek dengan risiko tinggi.
Louis mengatakan strategi tersebut terutama diterapkan pada pipa berukuran besar karena kerusakan jaringan dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas dan membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
“Kalau pipa besar yang kena, pemulihannya akan jauh lebih berat, waktunya lebih panjang, dan dampaknya jauh lebih luas. Makanya kalau ada proyek besar, kami ambil risiko pengerjaan pemindahan pipa lebih dulu,” ungkapnya.
Sementara untuk pipa berukuran sedang, petugas disiagakan agar dapat langsung melakukan penanganan ketika jaringan terdampak.
“Kalau pipa sedang, begitu kena, petugas kami yang standby langsung melakukan pengalihan, menangani kebocoran, dan langsung menyambung kembali,” lanjut Louis.
Pola tersebut kini juga diperkuat melalui koordinasi bersama DSDABM. Kepala DSDABM Kota Surabaya Hidayat Syah mengatakan pengerjaan pipa dan drainase dilakukan secara paralel untuk mencegah pekerjaan harus dilakukan berulang.
Baca Juga: Pipa PDAM di Perempatan Stikom Merr Surabaya Bocor, Ganggu Pengguna Jalan
“Memang pada saat kita bikin saluran, PDAM itu sekalian paralel ganti pipanya. Jadi sama-sama melakukan pengerjaan supaya tidak bolak-balik, jadi satu kesatuan,” kata Hidayat.
Menurut Hidayat, sebelum alat berat digunakan, tim PAM Surya Sembada ikut berada di lokasi untuk memastikan jalur pipa yang berpotensi terdampak dapat ditangani lebih dulu.
“Sebelum melakukan penggalian kita sudah koordinasi dengan mereka, jadi mereka juga nunggu di lokasi pengerjaan. Tinggal berapa pipa yang dibutuhkan, diambil dulu, digeser dulu, baru dipasang lagi,” ujarnya.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Bahtiyar Rifai meminta persoalan utilitas bawah tanah menjadi bagian dari perencanaan proyek sejak awal. Menurutnya, gangguan jaringan pipa dapat berdampak langsung terhadap masyarakat.
“Tujuan jangka panjang proyek penanganan banjir ini sangat baik dan kami dukung penuh. Namun, jangan sampai proses pembangunannya justru menghantam jaringan pipa PDAM. Dampak krisis air itu langsung dirasakan masyarakat saat itu juga,” tegas Bahtiyar.
Ia meminta pemetaan utilitas dilakukan lebih akurat, terutama pada proyek fisik berskala lingkungan yang berpotensi memiliki tingkat koordinasi berbeda dengan proyek yang dikerjakan langsung oleh dinas.
“Instalasi yang rusak ini cakupannya luas. Skala kerusakannya bisa memengaruhi pasokan air untuk beberapa RT, RW, bahkan lintas kelurahan. Inilah pentingnya duduk bersama dengan PDAM sejak awal perencanaan untuk memetakan titik mana saja yang aman sebelum alat berat diturunkan,” pungkasnya.
Editor : Achmad Supriyadi