Minggu, 06 Sep 2026 10:33 WIB

Fenomena Janda Usia Sekolah di Jatim Meningkat, DPRD Minta Penanganan Serius

Ilustrasi perceraian. (Dok. Freepik).
Ilustrasi perceraian. (Dok. Freepik).

selalu.id - Fenomena janda usia sekolah di Jawa Timur dinilai sebagai bom waktu sosial yang harus segera ditangani secara serius dan terintegrasi.

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni menyebut lonjakan perceraian pasangan muda yang menikah di usia dini, di tengah tren penurunan angka pernikahan anak dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: Fraksi PDIP Semprit Pemprov Jatim Soal P-APBD 2026: Tambahan Belanja Rp2,64 Triliun Jangan Cuma jadi SiLPA!

"Penurunan angka pernikahan anak memang patut diapresiasi, tapi kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak lanjutan yang kini mulai terlihat. Janda usia sekolah adalah realitas pahit yang harus kita hadapi," ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/4/2026).

Data dari Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur menunjukkan tren penurunan perkara dispensasi kawin yang signifikan.

Angkanya turun dari 15.095 kasus pada 2022 menjadi 7.491 kasus di 2025. Meski demikian, melalui Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), masih tercatat sebanyak 7.590 peristiwa pernikahan anak sepanjang tahun 2025.

Politisi Partai Demokrat Dapil Bojonegoro-Tuban ini mengatakan, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pernikahan anak belum sepenuhnya selesai.

Pernikahan anak yang terjadi pada periode sebelumnya kini memberikan dampak berupa tingginya angka perceraian usia muda.

"Ini efek domino. Mereka menikah tanpa kesiapan mental, ekonomi, dan sosial. Akibatnya, dalam hitungan 1–3 tahun, rumah tangga banyak yang kandas," jelasnya.

Yang lebih memprihatinkan, beban terbesar dari fenomena ini justru ditanggung oleh kaum perempuan.

Sekitar 85 persen dari total pernikahan anak melibatkan pengantin perempuan di bawah umur.

Baca Juga: Peringati HUT ke-81 RI, Partai Demokrat Gresik Gelar Aksi Bersih-bersih Makam Pahlawan

Kondisi ini membuat mereka rentan menghadapi tekanan psikologis, kesulitan ekonomi, hingga harus menjadi orang tua tunggal di usia remaja.

Sri Wahyuni menilai, fenomena ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif semata.

Ia pun mendorong adanya intervensi yang lebih komprehensif, mulai dari edukasi keluarga, penguatan peran sekolah, hingga keterlibatan tokoh agama dan masyarakat.

"Pencegahan harus dimulai dari hulu. Edukasi tentang kesiapan menikah, kesehatan reproduksi, dan perencanaan masa depan harus diperkuat di kalangan remaja," tegasnya.

Selain upaya pencegahan, DPRD Jatim juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat program pendampingan bagi remaja yang sudah terlanjur menikah, agar pernikahan mereka tidak berujung pada perceraian.

Baca Juga: Kabar Baik, Masyarakat Kini Bisa 'Cas' Mobil Listrik di Gedung DPRD Jatim

"Kalau sudah terjadi, negara tidak boleh lepas tangan. Harus ada pendampingan psikologis, sosial, dan ekonomi agar mereka tidak semakin terpuruk," papar Sri Wahyuni.

Sementara itu, Kemenag Jatim telah melakukan berbagai langkah konkret, seperti pemblokiran pendaftaran nikah di bawah umur melalui sistem SIMKAH, program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), hingga pendekatan berbasis wilayah yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

Namun, DPRD Jatim menegaskan bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah ini secara menyeluruh.

"Ini bukan sekadar angka, tapi masa depan generasi muda. Semua pihak harus bergerak bersama agar anak-anak kita tidak terjebak dalam siklus yang sama," pungkas Sri Wahyuni.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

Kebakaran Landa Pabrik Rokok di Jabon Sidoarjo

Petugas mencatat area gudang yang hangus terbakar diperkirakan mencapai 700 meter persegi.

Hadiri Raker Gabungan DPP Apeksi, Wali Kota Mojokerto Ning Ita: TKD Harus Fleksibel

Ning Ita menegaskan Apeksi akan terus mendorong agar relasi pusat dan daerah dibangun dengan prinsip kuat, adil, dan adaptif.

Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Soal harga, produk Sango Ceramics dibanderol mulai dari Rp15.000 per item

DPRD Surabaya Temukan Anak Putus Sekolah, Data Desilnya di Atas 5

“Masih banyak ternyata anak-anak yang butuh sekolah karena biaya. Sementara ternyata desilnya di atas 5,” kata Imam.

Menyoal Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo, Kemenag RI Dorong Upaya Investigasi

Wamenag menegaskan, program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi pesantren dan madrasah.

Kenang Setahun Wafatnya Affan Kurniawan, Forkopimda Sidoarjo Bagi Beras ke Seribu Driver Ojol

Bantuan bertepatan dengan satu tahun wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol asal Jakarta yang meninggal dunia setahun lalu dalam aksi ujuk rasa.