Rabu, 21 Okt 2026 18:00 WIB

Fenomena Janda Usia Sekolah di Jatim Meningkat, DPRD Minta Penanganan Serius

Ilustrasi perceraian. (Dok. Freepik).
Ilustrasi perceraian. (Dok. Freepik).

selalu.id - Fenomena janda usia sekolah di Jawa Timur dinilai sebagai bom waktu sosial yang harus segera ditangani secara serius dan terintegrasi.

Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Sri Wahyuni menyebut lonjakan perceraian pasangan muda yang menikah di usia dini, di tengah tren penurunan angka pernikahan anak dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: Ketua DPRD Jatim: Pembangunan Harus Merata, Berkelanjutan, dan Diawasi Ketat

"Penurunan angka pernikahan anak memang patut diapresiasi, tapi kita tidak boleh menutup mata terhadap dampak lanjutan yang kini mulai terlihat. Janda usia sekolah adalah realitas pahit yang harus kita hadapi," ungkapnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/4/2026).

Data dari Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur menunjukkan tren penurunan perkara dispensasi kawin yang signifikan.

Angkanya turun dari 15.095 kasus pada 2022 menjadi 7.491 kasus di 2025. Meski demikian, melalui Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), masih tercatat sebanyak 7.590 peristiwa pernikahan anak sepanjang tahun 2025.

Politisi Partai Demokrat Dapil Bojonegoro-Tuban ini mengatakan, angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan pernikahan anak belum sepenuhnya selesai.

Pernikahan anak yang terjadi pada periode sebelumnya kini memberikan dampak berupa tingginya angka perceraian usia muda.

"Ini efek domino. Mereka menikah tanpa kesiapan mental, ekonomi, dan sosial. Akibatnya, dalam hitungan 1–3 tahun, rumah tangga banyak yang kandas," jelasnya.

Yang lebih memprihatinkan, beban terbesar dari fenomena ini justru ditanggung oleh kaum perempuan.

Sekitar 85 persen dari total pernikahan anak melibatkan pengantin perempuan di bawah umur.

Baca Juga: Sidang Korupsi Hibah Pokir Jatim, JPU KPK Bakal Panggil Sekda Jatim

Kondisi ini membuat mereka rentan menghadapi tekanan psikologis, kesulitan ekonomi, hingga harus menjadi orang tua tunggal di usia remaja.

Sri Wahyuni menilai, fenomena ini tidak bisa diselesaikan hanya melalui pendekatan administratif semata.

Ia pun mendorong adanya intervensi yang lebih komprehensif, mulai dari edukasi keluarga, penguatan peran sekolah, hingga keterlibatan tokoh agama dan masyarakat.

"Pencegahan harus dimulai dari hulu. Edukasi tentang kesiapan menikah, kesehatan reproduksi, dan perencanaan masa depan harus diperkuat di kalangan remaja," tegasnya.

Selain upaya pencegahan, DPRD Jatim juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat program pendampingan bagi remaja yang sudah terlanjur menikah, agar pernikahan mereka tidak berujung pada perceraian.

Baca Juga: DPRD Jatim Apresiasi Penggerebekan Jalan Kunti, Minta Kapolda Baru Konsisten Berantas Narkoba

"Kalau sudah terjadi, negara tidak boleh lepas tangan. Harus ada pendampingan psikologis, sosial, dan ekonomi agar mereka tidak semakin terpuruk," papar Sri Wahyuni.

Sementara itu, Kemenag Jatim telah melakukan berbagai langkah konkret, seperti pemblokiran pendaftaran nikah di bawah umur melalui sistem SIMKAH, program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), hingga pendekatan berbasis wilayah yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah.

Namun, DPRD Jatim menegaskan bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah ini secara menyeluruh.

"Ini bukan sekadar angka, tapi masa depan generasi muda. Semua pihak harus bergerak bersama agar anak-anak kita tidak terjebak dalam siklus yang sama," pungkas Sri Wahyuni.

Editor : Zein Muhammad
Berita Terbaru

45 Ribu Reklame di Surabaya, Ratusan Masih Bandel dan Nunggak Pajak

Kepala Bidang Pajak Daerah Bapenda Surabaya Ekkie Noorisma menyebut, dua biang keroknya klasik tidak berizin dan belum bayar pajak.

21 Anggota Geng Motor Pengeroyok Pengunjung Angkringan di Mojokerto Diringkus

Tiga orang dilaporkan menjadi korban dan mengalami luka-luka, salah satunya luka robek diduga akibat senjata tajam.

Doa Kebangsaan di Mojokerto, Ning Ita dan Kapolres Kompak Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Doa bersama menjadi ikhtiar menyatukan tekad sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, aparat, dan tokoh masyarakat dalam membangun bangsa.

Hilangkan Stigma Kampung Narkoba, Pemkot Surabaya Siapkan Langkah Bagi Warga Jalan Kunti 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, penindakan saja tidak cukup.

Ayah Bacok Dua Anak Kandung di Surabaya Gegara Sengketa Harta

Pelaku datang ke lokasi yang juga berfungsi sebagai hunian keluarga, dan menuntut secara kasar kepada Renata agar menyerahkan surat atau sertifikat bangunan.

SIER Perkuat Kerja Sama dengan Investor Jepang, Konjen Dukung Rencana Pengembangan Kawasan Industri

Selain membahas kerja sama yang telah berjalan, Takonai menyambut baik rencana SIER untuk terus mengembangkan kawasan industri di daerah lain.