Sabtu, 05 Sep 2026 13:46 WIB

Menyoal Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo, Kemenag RI Dorong Upaya Investigasi

Wamenag Romo H. R. Muhammad Syafi'i
didampingi Kakanwil Kemenag Jatim Akhmad Sruji Bahtiar saat jenguk korban MBG.
Wamenag Romo H. R. Muhammad Syafi'i didampingi Kakanwil Kemenag Jatim Akhmad Sruji Bahtiar saat jenguk korban MBG.

selalu.id — Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H. R. Muhammad Syafi'i menjenguk tujuh santri Pesantren Manbaul Hikam yang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, menyusul kejadian dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam kunjungan tersebut, Wamenag didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama RI , Basnang Said.

Baca Juga: Kemenag Jatim dan Baznas Kirim 27 Ton Bantuan Logistik untuk Korban Bencana di NTT

Wamenag memberikan santunan kepada masing-masing santri sekaligus menyampaikan semangat dan doa agar mereka segera diberikan kesembuhan. Usai menjenguk para santri, Wamenag melanjutkan kunjungan ke Pesantren Manbaul Hikam. Rombongan diterima Ketua Yayasan Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun.

Pada kesempatan tersebut, Wamenag juga menyampaikan perhatian dan dukungan Kementerian Agama kepada pesantren serta para santri yang terdampak.

Wamenag menegaskan, program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi pesantren dan madrasah.

Menurutnya, kejadian yang terjadi di Pesantren Manbaul Hikam perlu menjadi bahan evaluasi untuk memastikan penyebabnya, bukan menjadi alasan untuk menghentikan program MBG.

“Dari kunjungan ke santri tadi, mereka menunggu dan sangat membutuhkan MBG. Program ini sudah berjalan beberapa bulan dari SPPG yang sama dan tidak ada persoalan. Baru kali ini terjadi masalah. Karena itu, harus ada investigasi untuk mengetahui penyebabnya,” ujar Wamenag, Jumat (3/9/2026).

Menurut Wamenag, berdasarkan informasi awal yang diterima, keluhan para santri terutama berkaitan dengan menu telur dan sayuran. Namun demikian, penyebab kejadian tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut.

“Yang perlu kita pastikan adalah penyebabnya apa. Apakah proses memasaknya atau jadwal makannya yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam juknis. Ini yang perlu kita selesaikan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa evaluasi tersebut bukan untuk mempertanyakan keberlanjutan program MBG. Evaluasi justru diperlukan untuk memastikan kualitas, keamanan, dan standar pengolahan makanan bagi para penerima manfaat tetap terpenuhi.

“Bukan investigasi yang masuk ke wilayah perlu atau tidaknya MBG, tetapi kita ingin mengetahui ada apa. Apalagi dari dapur yang sama, untuk anak-anak yang sama, setelah berjalan sekian bulan, baru terjadi hari ini. Tentu harus ada investigasi,” tegasnya.

Wamenag juga menyampaikan bahwa para santri pada dasarnya tetap antusias menerima MBG. Berdasarkan keterangan yang diperoleh saat kunjungan, para santri justru menunggu dan membutuhkan makanan yang disediakan melalui program tersebut.

“Artinya, MBG-nya, semuanya mengatakan mereka sangat senang dan menunggu datangnya makanan dari MBG,” ungkapnya.

Dorong Perluasan MBG ke Pesantren dan Madrasah Di sisi lain, Wamenag menyampaikan bahwa Kementerian Agama terus mendorong agar semakin banyak pesantren dan madrasah memperoleh manfaat program MBG.

Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terus dilakukan, termasuk untuk menjangkau lembaga pendidikan yang berada di wilayah terpencil.

“Kita sedang ngebut agar tidak ada lagi pesantren yang tidak mendapat jatah MBG, termasuk madrasah. Kita terus berkomunikasi dengan kepala BGN yang baru. Kita berharap tahun ini tidak ada lagi madrasah dan pesantren yang tidak mendapat manfaat makan gratis dari MBG,” katanya.

Berdasarkan data yang disampaikan Wamenag, 42 persen dari pesantren sasaran telah memperoleh manfaat MBG. Cakupan tersebut akan terus ditingkatkan agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas. Wamenag juga menjelaskan adanya kebijakan yang memberikan peluang bagi pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 orang untuk mengelola dapur MBG secara mandiri. Pesantren tidak harus membangun dapur baru dengan model Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi dapat mengoptimalkan dapur yang telah tersedia dengan memenuhi standar higienitas. “Dapur yang ada di-update. Yang perlu ditambah adalah higienisnya, tentang pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbahnya. Kalau itu bisa dipenuhi, pesantren yang santrinya mendekati atau sekitar 1.000 sudah bisa membuat dapur sendiri, tidak perlu harus mendapat asupan dari dapur yang ada di luar pesantren,” jelasnya. Sementara itu, Ketua Yayasan Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun, menjelaskan bahwa Pesantren Manbaul Hikam telah menerima program MBG selama sekitar tiga bulan. Selama ini, makanan biasanya dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan kemudian dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00 WIB. Hal tersebut menyesuaikan jadwal kegiatan pendidikan madrasah yang dimulai pukul 13.00 WIB. Pada hari kejadian, Selasa (1/9), sebanyak 1.010 porsi makanan MBG dari SPPG Kalitengah dikirim untuk dikonsumsi oleh siswa-siswi MA dan MTs Manbaul Hikam. Menu yang diterima terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel. Para santri kemudian menyantap makanan tersebut secara bersama-sama. Beberapa jam setelah makan siang, sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah santri mulai mengeluhkan kondisi kesehatan, di antaranya pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas. Pihak pengurus pesantren kemudian membawa santri yang mengalami keluhan ke bidan terdekat di Desa Putat untuk mendapatkan penanganan awal. Sekitar pukul 16.30 WIB, jumlah santri yang mengalami keluhan mual dan muntah terus bertambah hingga mencapai puluhan orang. Menjelang Magrib, melihat kondisi yang semakin membutuhkan penanganan, pengurus pesantren menghubungi layanan ambulans untuk mengevakuasi para santri ke fasilitas kesehatan. Total ada 9 rumah sakit yang dituju. Keluhan kesehatan juga dilaporkan muncul secara bertahap. Sejumlah santri mengalami keluhan pada malam hari, kemudian kembali ditemukan keluhan pada Rabu pagi dan siang. Kementerian Agama memastikan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi dan hasil pemeriksaan secara menyeluruh mengenai penyebab kejadian tersebut. Pada kesempatan tersebut, Kementerian Agama juga menyerahkan santunan kepada pihak pesantren dan para santri yang terdampak sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap proses pemulihan para santri.

teks foto: Wamenag Romo H. R. Muhammad Syafi'i
didampingi Kakanwil Kemenag Jatim Akhmad Sruji Bahtiar dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama RI , Basnang Said saat jenguk santri korban keracunan MBG. (Dok. Kemenag)

Jenguk Santri Korban Dugaan Keracunan MBG, Wamenag: Harus Ada Investigasi untuk Pastikan Penyebabnya

selalu.id — Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo H. R. Muhammad Syafi'i menjenguk tujuh santri Pesantren Manbaul Hikam yang menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Jawa Timur, menyusul kejadian dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam kunjungan tersebut, Wamenag didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar dan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama RI , Basnang Said.

Wamenag memberikan santunan kepada masing-masing santri  sekaligus menyampaikan semangat dan doa agar mereka segera diberikan kesembuhan.

Baca Juga: Korban Keracunan MBG Sidoarjo Tembus 730 Orang, BGN-SPPG Malah Mangkir di Hearing DPRD

Usai menjenguk para santri, Wamenag melanjutkan kunjungan ke Pesantren Manbaul Hikam. Rombongan diterima Ketua Yayasan Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun. Pada kesempatan tersebut, Wamenag juga menyampaikan perhatian dan dukungan Kementerian Agama kepada pesantren serta para santri yang terdampak.

Wamenag menegaskan, program MBG tetap dibutuhkan dan diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi pesantren dan madrasah. Menurutnya, kejadian yang terjadi di Pesantren Manbaul Hikam perlu menjadi bahan evaluasi untuk memastikan penyebabnya, bukan menjadi alasan untuk menghentikan program MBG.

“Dari kunjungan ke santri tadi, mereka menunggu dan sangat membutuhkan MBG. Program ini sudah berjalan beberapa bulan dari SPPG yang sama dan tidak ada persoalan. Baru kali ini terjadi masalah. Karena itu, harus ada investigasi untuk mengetahui penyebabnya,” ujar Wamenag, Jumat (3/9/2026).

Menurut Wamenag, berdasarkan informasi awal yang diterima, keluhan para santri terutama berkaitan dengan menu telur dan sayuran. Namun demikian, penyebab kejadian tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut.

“Yang perlu kita pastikan adalah penyebabnya apa. Apakah proses memasaknya atau jadwal makannya yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam juknis. Ini yang perlu kita selesaikan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa evaluasi tersebut bukan untuk mempertanyakan keberlanjutan program MBG. Evaluasi justru diperlukan untuk memastikan kualitas, keamanan, dan standar pengolahan makanan bagi para penerima manfaat tetap terpenuhi.

“Bukan investigasi yang masuk ke wilayah perlu atau tidaknya MBG, tetapi kita ingin mengetahui ada apa. Apalagi dari dapur yang sama, untuk anak-anak yang sama, setelah berjalan sekian bulan, baru terjadi hari ini. Tentu harus ada investigasi,” tegasnya.

Wamenag juga menyampaikan bahwa para santri pada dasarnya tetap antusias menerima MBG. Berdasarkan keterangan yang diperoleh saat kunjungan, para santri justru menunggu dan membutuhkan makanan yang disediakan melalui program tersebut. “Artinya, MBG-nya, semuanya mengatakan mereka sangat senang dan menunggu datangnya makanan dari MBG,” ungkapnya.

Di sisi lain, Wamenag menyampaikan bahwa Kementerian Agama terus mendorong agar semakin banyak pesantren dan madrasah memperoleh manfaat program MBG. Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terus dilakukan, termasuk untuk menjangkau lembaga pendidikan yang berada di wilayah terpencil.

“Kita sedang ngebut agar tidak ada lagi pesantren yang tidak mendapat jatah MBG, termasuk madrasah. Kita terus berkomunikasi dengan kepala BGN yang baru. Kita berharap tahun ini tidak ada lagi madrasah dan pesantren yang tidak mendapat manfaat makan gratis dari MBG,” katanya.

Berdasarkan data yang disampaikan Wamenag, 42 persen dari pesantren sasaran telah memperoleh manfaat MBG. Cakupan tersebut akan terus ditingkatkan agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.

Baca Juga: Tak Cuma Fisik, Dinkes Sidoarjo Gelar Rapid Asesmen Jiwa Pulihkan Trauma Santri Keracunan MBG

Wamenag juga menjelaskan adanya kebijakan yang memberikan peluang bagi pesantren dengan jumlah santri sekitar 1.000 orang untuk mengelola dapur MBG secara mandiri. Pesantren tidak harus membangun dapur baru dengan model Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi dapat mengoptimalkan dapur yang telah tersedia dengan memenuhi standar higienitas.

“Dapur yang ada di-update. Yang perlu ditambah adalah higienisnya, tentang pencucian, penyimpanan, dan pembuangan limbahnya. Kalau itu bisa dipenuhi, pesantren yang santrinya mendekati atau sekitar 1.000 sudah bisa membuat dapur sendiri, tidak perlu harus mendapat asupan dari dapur yang ada di luar pesantren,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Manbaul Hikam, KH Abdul Wachid Harun, menjelaskan bahwa Pesantren Manbaul Hikam telah menerima program MBG selama sekitar tiga bulan.

Selama ini, makanan biasanya dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan kemudian dibagikan kepada para santri sekitar pukul 12.00 WIB. Hal tersebut menyesuaikan jadwal kegiatan pendidikan madrasah yang dimulai pukul 13.00 WIB.

Pada hari kejadian, Selasa (1/9), sebanyak 1.010 porsi makanan MBG dari SPPG Kalitengah dikirim untuk dikonsumsi oleh siswa-siswi MA dan MTs Manbaul Hikam. Menu yang diterima terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.

Para santri kemudian menyantap makanan tersebut secara bersama-sama. Beberapa jam setelah makan siang, sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah santri mulai mengeluhkan kondisi kesehatan, di antaranya pusing, mual, muntah, diare, hingga sesak napas.

Pihak pengurus pesantren kemudian membawa santri yang mengalami keluhan ke bidan terdekat di Desa Putat untuk mendapatkan penanganan awal. Sekitar pukul 16.30 WIB, jumlah santri yang mengalami keluhan mual dan muntah terus bertambah hingga mencapai puluhan orang. 

Menjelang Magrib, melihat kondisi yang semakin membutuhkan penanganan, pengurus pesantren menghubungi layanan ambulans untuk mengevakuasi para santri ke fasilitas kesehatan. Total ada 9 rumah sakit yang dituju.

Keluhan kesehatan juga dilaporkan muncul secara bertahap. Sejumlah santri mengalami keluhan pada malam hari, kemudian kembali ditemukan keluhan pada Rabu pagi dan siang.

Kementerian Agama memastikan akan terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memperoleh informasi dan hasil pemeriksaan secara menyeluruh mengenai penyebab kejadian tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Kementerian Agama juga menyerahkan santunan kepada pihak pesantren dan para santri yang terdampak sebagai bentuk kepedulian dan dukungan terhadap proses pemulihan para santri.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Sango Ceramics Indonesia Luncurkan Showroom di Surabaya, Hadirkan Produk Keramik Ekspor

Soal harga, produk Sango Ceramics dibanderol mulai dari Rp15.000 per item

DPRD Surabaya Temukan Anak Putus Sekolah, Data Desilnya di Atas 5

“Masih banyak ternyata anak-anak yang butuh sekolah karena biaya. Sementara ternyata desilnya di atas 5,” kata Imam.

Kenang Setahun Wafatnya Affan Kurniawan, Forkopimda Sidoarjo Bagi Beras ke Seribu Driver Ojol

Bantuan bertepatan dengan satu tahun wafatnya Affan Kurniawan, pengemudi ojol asal Jakarta yang meninggal dunia setahun lalu dalam aksi ujuk rasa.

Libatkan 25.613 Peserta, Tajemtra 2026 Pecah Rekor 

Para peserta menempuh perjalanan kurang lebih 30 KM hingga finish di kawasan Alun-alun Jember.

Aturan Jam Operasional Pasar Tanjungsari 77 Surabaya Diprotes, Saleh Mukadar: Pemerintah Mau Ganti Rugi Kalau Buah Rusak

Tokoh masyarakat Surabaya, Saleh Mukadar, menilai penerapan aturan jam operasional secara seragam tanpa melihat jenis komoditas adalah langkah yang keliru.

1,4 Juta Penerima Bansos Terindikasi Judol, Mensos Gus Ipul Mulai Sisir Data dan Siapkan Sanksi ASN

Langkah ini diambil memastikan transaksi tersebut benar-benar dilakukan oleh penerima manfaat atau akibat penyalahgunaan identitas dan rekening oleh pihak lain.