Kamis, 03 Sep 2026 11:49 WIB

Nikmatnya Tradisi Hidangan Tape Ketan Hitam saat Lebaran di Mojokerto 

Suasana lebatan Idul Fitri dengan hidangan Tape Katan Hitam ala warga desa Kembanganringgit Mojokerto.
Suasana lebatan Idul Fitri dengan hidangan Tape Katan Hitam ala warga desa Kembanganringgit Mojokerto.

selalu.id - Makan tape ketan hitam ketika bersilaturahmi saat lebaran Idul Fitri menjadi tradisi di Desa Kembangringgit, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Berbeda dengan sajian atau hidangan di tempat lainnya, tape ketan hitam ini menjadi favorit atau primadona saat keluarga atau tamu luar desa yang bersilaturahmi di momen Idul Fitri.

Baca Juga: Pemkab Mojokerto Kucurkan Rp3,2 Miliar untuk Kelompok Tani, Ajak Milenial Tak Gengsi jadi Petani

Aroma khas fermentasi yang lembut berpadu dengan rasa manis yang legit, menghadirkan pengalaman berbeda bagi siapa saja yang mencicipinya.

Salah satu tamu yang datang bersilaturahmi, Rizka Andini mengatakan, menu sajian tape ketan hitam ini selalu meninggalkan kesan mendalam lantaran memiliki citarasa khas yang berbeda.

"Lebaran tahun ini sangat mengesankan karena di sini disuguhi tape ketan hitam,” kata Rizka saat bersilaturahmi, Sabtu (21/3/2026).

Ia mengaku, sejak dirinya masih dini tradisi seperti ini sudah ada dan hingga sekarang telah melekat dalam ingatannya.

“Sejak saya dari kecil dulu mesti disuguhi ini, biar terasa berbeda saja,” tambahnya.

Menurutnya, rasa tape ketan hitam buatan saudara dari nenek kandungnya ini memiliki keunikan tersendiri.

Baca Juga: Melihat Keseruan Tradisi Rombekan Tabur Uang Peringati Maulid Nabi Muhammad di Mojokerto

“Rasanya manis, berbeda dari ketan hitam yang biasa dijual,” tandasnya.

Di balik kelezatan tape tersebut, ada proses panjang yang dijaga turun-temurun. Seperti yang disampaikan Vivi Nur Rahmawati, salah satu pemilik rumah yang rutin menyajikan hidangan ini saat Lebaran, menuturkan bahwa tradisi tersebut diwarisi dari orang tuanya.

“Ya karena memang ini turun-temurun. Biasanya ibu itu membuat tape ketan hitam,” ujarnya.

Selama momen Lebaran, Vivi bahkan bisa mengolah hingga empat kilogram beras ketan hitam untuk memenuhi permintaan para tamu. Proses pembuatannya pun tidak instan. Beras ketan harus direndam semalaman, lalu diberi ragi dan didiamkan selama dua hari hingga menghasilkan tape yang sempurna.

Baca Juga: Kejam! Wanita di Mojokerto jadi Korban Perampasan Lalu Diperkosa Residivis di Lahan Tebu

“Bikin sendiri, bahan dasar ketan hitam direndam semalam terus diberikan ragi hingga dua hari,” jelasnya.

Tak heran jika sajian ini selalu menjadi incaran para tamu.

“Dan antusias tamu-tamu itu selalu yang ditanyakan tape ketan hitam ini,” tambah Vivi.

Lebih dari sekadar hidangan, tape ketan hitam di Desa Kembanganringgit telah menjadi simbol kehangatan dan identitas tradisi Lebaran setempat. Di setiap suapan manisnya, tersimpan cerita tentang warisan keluarga, kebersamaan, dan rasa rindu yang hanya bisa terobati saat hari raya tiba.

Editor : Redaksi
Berita Terbaru

Air PDAM Bocor Rp400 Miliar, DPRD Surabaya Ungkap Praktik Pengelolaan Air Mandiri di Perumahan Elit

Hingga 28 Agustus 2026, dari total pagu anggaran mencapai Rp1,9 triliun, BPKAD baru merealisasikan anggaran sebesar Rp11 miliar.

Pengumuman Beasiswa Cinta Bergema Jember, 7.566 Mahasiswa Lolos Administrasi

Pemkab Jember nantinya hanya akan menyaring sekitar 4.200 mahasiswa sesuai batas kuota yang tersedia.

Potensi Pendapatan PDAM Hilang, DPRD Surabaya Bakal Panggil Pengelola Air Mandiri di Perumahan Elit

Machmud membeberkan, sejumlah pengelola kawasan perumahan elit memproduksi air sendiri dan menetapkan tarif secara sepihak kepada para penghuninya.

Sering Bikin Bahaya, Arus Lalu Lintas Embong Gayam dan Embong Sawo Surabaya Kini Dibalik

Selama masa uji coba, Dishub Surabaya tidak hanya memfokuskan pemantauan pada Jalan Basuki Rahmat, tetapi juga mengevaluasi kawasan sekitarnya secara berkala.

‎Gempur Rokok Ilegal, Bea Cukai Probolinggo Targetkan Penerimaan Rp1,4 Triliun

Selain pemberantasan rokok ilegal, Bea Cukai Probolinggo juga memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait aturan barang bawaan penumpang dari luar negeri.

Ternyata, Ada 21 SPPG MBG di Sidoarjo Belum Berizin

Imbas keracunan massal santri, Pemkab Sidoarjo mendesak agar pengawasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada program MBG benar-benar diperketat.