Tingkatkan Layanan Terminal Peti Kemas, Pelindo Datangkan Alat Bongkar Muat Baru
- Penulis : Dony Maulana
- | Senin, 09 Feb 2026 16:58 WIB
selalu.id – Sejumlah terminal peti kemas yang dioperasikan oleh PT Pelindo Terminal Petikemas akan dilengkapi dengan alat bongkar muat yang didatangkan dalam kondisi baru.
Secara keseluruhan terdapat sedikitnya 13 unit alat bongkar muat jenis quay container crane atau QCC (alat angkat peti kemas di dermaga) dan 26 unit alat bongkar muat jenis rubber tyred gantry crane atau RTG (alat angkat peti kemas di lapangan penumpukan).
Baca Juga: Jelang Imlek, Salon di Surabaya Diserbu Pelanggan
Alat-alat tersebut rencananya akan mulai tiba secara bertahap pada semester-II tahun 2026.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra mengatakan sejumlah alat baru tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk meningkatkan layanan bongkar muat.
Menurutnya, alat tersebut akan ditempatkan di sejumlah terminal utama seperti TPK Belawan di Sumatera Utara, TPS Surabaya di Jawa Timur dan TPK Semarang di Jawa Tengah.
Terminal peti kemas lainnya yang akan menerima alat baru adalah TPK Panjang di Lampung, TPK Perawang di Riau, TPK Banjarmasin di Kalimantan Selatan. Kemudian TPK Nilam di Jawa Timur, TPK Kendari di Sulawesi Tenggara, dan TPK Kijing di Kalimantan Barat.
“Selain mendatangkan alat baru, PT Pelindo Terminal Petikemas juga akan melakukan optimalisasi aset sejumlah alat baik QCC maupun RTG untuk mendukung kehandalan bongkar muat di terminal lainnya, seperti di TPK Berlian yang akan dilengkapi dengan dua unit QCC,” kata Widyaswendra di Surabaya, Senin (9/2/2026).
Baca Juga: Menanti Siapa Saja Anggota DPRD Surabaya yang Jadi Tersangka Kasus Bimtek
Ketua DPP Indonesia National Shipowners’ Association (INSA), Carmelita Hartoto mengatakan perlunya perkuatan kolaborasi antar pemangku kepentingan di industri kepelabuhanan.
Pembenahan infrastruktur dan suprastruktur pelabuhan perlu dilakukan melihat pertumbuhan lalu lintas barang yang setiap tahun terus meningkat.
“Dukungan infrastruktur, peralatan dan sistem operasi pelabuhan, harus terus diperbarui agar distribusi logistik nasional lebih optimal,” jelasnya.
Baca Juga: Kasus Korupsi Bimtek DPRD Surabaya, Siapa yang Akan Jadi Tersangka?
Sementara Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Trismawan Sanjaya menyoroti tiga hal utama, yakni ketidakpastian regulasi, disparitas infrastruktur dan sumber daya manusia antar wilayah kepulauan dan kebutuhan standarisasi layanan termasuk di pelabuhan.
Ia menekankan infrastruktur logistik berbasis teknologi dan integrasi layanan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing global.
“Semua pihak memiliki peran dalam mata rantai logistik untuk menghadirkan biaya logistik yang kompetitif, baik itu operator pelabuhan, jasa transportasi, hingga pergudangan,” katanya.
Editor : Zein Muhammad