selalu.id – Pencopotan Adi Sutarwijono dari posisi Ketua DPC PDIP Surabaya memunculkan spekulasi politik, termasuk potensi pergeseran dukungan dari akar rumput PDIP di kota tersebut.
Baca juga: Pemkot Surabaya Anggarkan Rp 5 Juta per RW, Arif Fathoni: Investasi SDM untuk Tangkal Hoaks
Pengamat politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, menilai dinamika ini bisa dimanfaatkan partai lain seperti Gerindra dan Golkar, terutama jika PDIP tidak segera merespons dengan strategi yang tepat.
“Setiap keputusan politik dari DPP pasti berdampak, khususnya di daerah. Pak Adi selama ini menjadi representasi PDIP Surabaya, sehingga penggantinya harus mampu mengelola basis massa dan menjaga komunikasi politik yang solid,” ujar Ken Bimo saat dihubungi, Senin (5/5/2025).
Ia menambahkan, alasan formal seperti penurunan suara atau kursi PDIP bisa diterima secara rasional. Namun, jika pencopotan dilakukan tanpa transparansi dan komunikasi dengan pengurus akar rumput, hal itu bisa memicu gejolak internal.
“Dampak politik bisa signifikan jika PDIP tidak inklusif dan partisipatif dalam mengambil keputusan. Ini bisa menjadi celah bagi partai lain untuk masuk dan menguatkan pengaruh di Surabaya,” jelasnya.
Baca juga: Lindungi Predikat Kota Layak Anak, DPRD Surabaya Desak Izin Black Owl Dicabut
Ken Bimo juga menyoroti isu bahwa pencopotan Adi berkaitan dengan manuver politik Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi melalui pembentukan ‘Kabinet Surabaya Berkah’. Menurutnya, jika benar demikian, langkah tersebut bisa menjadi bumerang bagi PDIP.
“Kalau benar Pak Eri mengambil langkah politik yang tidak sejalan dengan Pak Adi, lalu hal itu memicu pencopotan, maka risikonya besar. Kehilangan kepercayaan dari basis akar rumput bisa mengubah peta politik PDIP di Surabaya,” tambahnya.
Baca juga: Golkar Surabaya Minta Pengamanan Natal Fleksibel, Parkir Gereja Jadi Perhatian
Meski demikian, ia menilai PDIP masih memiliki pilar elektoral yang kuat di Surabaya. Namun, kekuatan itu hanya akan bertahan jika partai segera memperbaiki komunikasi politik, baik di tingkat elite maupun simpatisan akar rumput.
“Jika tidak segera direspons dengan tepat, partai seperti Gerindra dan Golkar bisa memanfaatkan momentum ini. Mereka punya basis massa di Surabaya dan bisa mengambil peluang dari ketidakharmonisan PDIP,” pungkasnya.
Editor : Ading