Muncul Gerakan Menangkan Bumbung Kosong, Pengamat: Masyarakat Sudah Cerdas

Reporter : Ade Resty
Direktur Eksekutif Republic Research, Lasiono

selalu.id - Fenomena kotak kosong disejumlah daerah pada Pilkada serentak 2024 membuat masyarakat tidak mempunyai pilihan calon pemimpin dan terjadinya krisis demokrasi.

Khususnya, di Jawa Timur, sejumlah daerah memunculkan lawan kotak kosong atau disebut bumbung kosong. Seperti di pilkada di Gresik yakni bakal paslon Gus Yani-dr Alif. Kemudian, di Bojonegoro yakni Setyo Wahono-Nurul Azizah. Lalu, di Surabaya, Eri Cahyadi-Armuji.

Baca juga: TKBM yang Hilang saat Insiden Kapal Pasific 88 di Surabaya Ditemukan Meninggal

Menanggapi fenomena kotak kosong, Direktur Eksekutif Republic Research, Lasiono mengungkapkan pasca Pemilu Pilpres bahwa masyarakat berharap kembali pilar-pilar demokrasi. Namun, nyatanya tidak terjadi di Pilkada.

"Aku melihat (fenomena bumbung kosong ini) ada beberapa Prespektif. Ya salah satunya kepentingan kekuasaan," Lasiono, kepada selalu.id, Jumat (30/8/2024).

Menurutnya, bumbung kosong mencerminkan kegagalan partai politik dalam membangun kepercayaan dan elektabilitas di mata masyarakat.

"Artinya, kekuasaan bukan hanya soal menang atau kalah. Tetapi, kesan kemampuan membangun kepercayaan dan simpati masyarakat," jelasnya.

Lasiono menerangkan apabila partai- partai politik tidak percaya pada kemampuan elektabilitasnya. Maka, parpol enggan mengusung calon yang menunjukkan kepercayaan diri. Bahkan, ini menunjukkan kegagalan dan fungsi parpol.

"Partai politik itu kan selalu siap dengan calon yang diusung, namun realitas politik tahun ini karena banyak partai yang tidak siap," ucapnya.

"Partai politik tidak mampu melakukan seleksi dan kaderisasi yang efektif. Itu yang terjadi, fenomena seperti itu (bumbung kosong),” tambahnya.

Baca juga: Kapal Pacific 88 Kecelakaan di Tanjung Perak Surabaya: Kontainer Berjatuhan ke Laut, 1 TKBM Hilang

Selain itu, aktivis 98 ini menilai bumbung kosong ini juga membuat hilangnya alternatif pilihan untuk masyarakat.

"Jadi masyarakat tidak diberikan calon alternatif, karena kontraknya gini, demokrasi kan antara manusia dan manusia bukan manusia dengan kotak kosong," tuturnya.

Maka, lanjut Lasiono, tidak terjadi dialog adu gagasan. Ketika calon melawan kotak kosong, sudah dipastikan masyarakat kehilangan kesempatan untuk memilih.

"Ini demokrasi yang tidak sehat, kalau ini yang terjadi ini tidak sehat demokrasi ini," tegasnya.

Baca juga: Wali Kota Surabaya Minta Pengusaha Lapor Jika Lahannya Dipakai Parkir Oknum Tanpa Izin 

Khusus bumbung kosong di Surabaya, tambah Lasiono, ia menilai partai-partai politik tidak mampu mencetak kader sesuai fungsinya. Menurutnya kredibilitas partai diragukan dalam kaderisasi.

"Sampai saat ini kan partai-partai enggak mampu memunculkan calon (Kaderisasi) terbaiknya. Ini kan pertaruhan," terangnya.

Lasiono menilai masyarakat sekarang sudah cerdas menentukan pilihannya. Ia menyebut masyarakat Surabaya bisa menilai pasangan Eri Cahyadi-Armuji melalui rekam jejak kinerja.

"Masyarakat sekarang sudah cerdas, tinggal menilai apakah Eri selama lima tahun ini sesuai dengan keinginan masyarakat Surabaya atau tidak. Masyarakat yang akan menentukan pilihannya," tutupnya.

Editor : Arif Ardianto

Kemensos Hadir
Berita Terpopuler
Berita Terbaru